
Anggota Tim Pengawas (Timwas) Haji DPR RI 2026.| Foto: Andri/Sari
PARLEMENTARIA, Makkah — Persiapan layanan kesehatan haji Indonesia kembali menjadi sorotan menjelang puncak ibadah haji 1447 Hijriah. Anggota Tim Pengawas (Timwas) Haji DPR RI 2026, Netty Prasetiyani Aher, mengingatkan bahwa jumlah petugas kesehatan dan fasilitas medis saat ini belum ideal untuk menghadapi kompleksitas pelayanan jemaah di Tanah Suci.
Setelah melakukan serangkaian pemantauan di Arab Saudi, Netty menemukan sejumlah persoalan mendasar, mulai dari keterbatasan tenaga kesehatan, tingginya jumlah jemaah risiko tinggi, hingga armada ambulans yang sudah tidak layak operasi.
“Usulan untuk tahun yang akan datang perlu ditambah kuota petugas Haji bidang kesehatan baik di kloter maupun di PPIH Arab Saudi,” kata Netty kepada Parlementaria di Makkah, Senin (25/5/2026).
Saat ini, total petugas kesehatan haji tercatat sebanyak 1.249 orang, terdiri dari 1.050 Tenaga Kesehatan Haji Kloter (TKHK) dan 199 petugas kesehatan non-kloter. Mereka harus menangani lebih dari 221 ribu jemaah Indonesia yang tersebar di berbagai sektor pemondokan.
Menurut Netty, rasio tersebut belum memadai mengingat mayoritas jemaah memiliki kerentanan kesehatan. Selain faktor usia lanjut, banyak jemaah juga mengidap penyakit kronis seperti hipertensi, diabetes, gangguan jantung, hingga kanker.
“Jumlah 199 PPIH bidang kesehatan dan 1.050 TKHK bukan rasio yang ideal untuk dapat melayani jemaah dengan berbagai tantangan baik kesehatan, lokasi pemondokan, aspek sosio kultural, cuaca panas, kepadatan jemaah, dan lain sebagainya,” papar Politisi Fraksi PKS ini.
Persoalan lain yang mendapat perhatian serius adalah kondisi ambulans milik Klinik Kesehatan Haji Indonesia (KKHI). Dari sembilan unit ambulans milik KKHI, sebagian besar dinilai sudah tua dan tidak optimal digunakan.
“Eksisting ambulans yang dimiliki Klinik Kesehatan Haji Indonesia (KKHI) sebanyak 9 unit sudah tua, AC tidak dingin, dan tidak layak. Otomatis yang dapat digunakan 15 unit ambulans yang statusnya menyewa,” tutur Anggota Komisi Kesehatan DPR RI itu.
Padahal, kebutuhan ambulans meningkat tajam menjelang Armuzna untuk evakuasi jemaah sakit dari pemondokan menuju rumah sakit maupun lokasi-lokasi ibadah utama.
"Padahal kebutuhan terhadap ambulans sangat tinggi untuk mengevakuasi, merujuk, dan mengantarkan pasien/jemaah ke rumah sakit (RS), pemondokan, dan puncak Haji Armuzna,” lanjutnya.
Netty pun mengusulkan peremajaan armada ambulans pengadaan 2010 dengan unit baru agar pelayanan kesehatan jemaah tidak terganggu. Selain itu, ia meminta pembaruan alat kesehatan dan pembangunan gedung KKHI yang lebih ramah pasien.
Menurutnya, gedung KKHI Makkah yang saat ini mencapai 17 lantai menyulitkan proses penanganan pasien rujukan dan observasi. "Gedung baru tidak perlu tinggi (17 lantai) tapi bisa menampung jamaah yang membutuhkan rujukan sebelum ke RS Arab Saudi dan sebagai tempat observasi sementara minimal 24 jam,” usul Netty. (man/rdn)