
Ketua Komisi I DPR RI Utut Adianto foto bersama usai memimpin pertemuan Komisi I DPR RI dengan Duta Besar Qatar untuk Indonesia Sultan Mubarak Aldo Sari di Nusantara II, Senayan, Jakarta.|Foto : Arief/Andri
PARLEMENTARIA, Jakarta — Ketua Komisi I DPR RI Utut Adianto memimpin pertemuan Komisi I DPR RI dengan Duta Besar Qatar untuk Indonesia Sultan Mubarak Aldo Sari di Nusantara II, Senayan, Jakarta, Selasa (12/5/2026). Pertemuan tersebut menjadi momentum awal penguatan hubungan bilateral Indonesia–Qatar, khususnya di bidang ekonomi, pertahanan, investasi, ketenagakerjaan, hingga pariwisata.
Dalam keterangannya usai pertemuan, Utut menjelaskan bahwa Dubes Qatar yang baru sekitar tiga bulan bertugas di Indonesia itu menyampaikan keinginan untuk mempererat hubungan kedua negara. Pertemuan tersebut turut dihadiri delapan anggota Komisi I DPR RI yang berasal dari berbagai fraksi, termasuk tiga pimpinan komisi.
“Intinya beliau baru tiga bulan bertugas di Indonesia. Beliau menyatakan ingin hubungan lebih ditingkatkan lagi, dan berharap kredensial letter atau surat kepercayaan dapat segera diserahkan kepada Presiden,” ujar Utut.
Menurut Utut, salah satu fokus pembahasan ialah penguatan kerja sama ekonomi dan perdagangan. Berdasarkan data perdagangan bilateral, nilai perdagangan Indonesia dan Qatar mencapai sekitar 1,2 miliar dolar AS. Namun demikian, Indonesia masih mengalami defisit perdagangan sekitar 130 juta dolar AS.
Selain itu, Komisi I DPR RI juga menyoroti pentingnya perlindungan dan peningkatan kesejahteraan pekerja migran Indonesia di Qatar. Utut menyebut kerja sama antarkedua negara perlu terus diperluas agar memberikan manfaat langsung bagi masyarakat Indonesia, termasuk tenaga kerja migran.
Di bidang pertahanan, Utut menilai Qatar memiliki kapasitas yang cukup maju dan berpotensi menjadi mitra strategis Indonesia. Ia menyebut adanya peluang kerja sama investasi dan pengembangan alat utama sistem persenjataan (alutsista).
“Di bidang pertahanan mereka sangat baik untuk membantu pertahanan kita. Ada yang membantu investasi satu miliar dolar, ada juga yang mencapai 2,5 miliar dolar, terutama di sektor alutsista,” katanya.
Tak hanya ekonomi dan pertahanan, pertemuan tersebut juga membahas penguatan hubungan kebudayaan dan sektor pariwisata. Utut menyoroti masih rendahnya jumlah wisatawan Qatar yang berkunjung ke Indonesia dibandingkan jumlah warga Indonesia yang bepergian ke Qatar.
Menurutnya, warga Indonesia yang datang ke Qatar mencapai hampir 500 ribu orang setiap tahun, di luar pekerja migran Indonesia yang bekerja di negara tersebut. Sementara itu, wisatawan Qatar yang berkunjung ke Indonesia baru sekitar 2.500 orang.
“Padahal Qatar Airways setiap hari terbang ke Jakarta dua kali, dan ke Bali sehari sekali. Jadi mereka lebih banyak menjadi hub bagi wisatawan Eropa, tetapi warga Qatar sendiri masih sedikit yang datang ke Indonesia,” ujar politisi Fraksi PDI-Perjuangan tersebut.
Karena itu, Komisi I berharap pertemuan dengan Dubes Qatar dapat membuka jalan bagi peningkatan kunjungan wisatawan Qatar ke berbagai destinasi di Indonesia. Utut menilai potensi kerja sama pariwisata kedua negara masih sangat besar untuk dikembangkan di masa mendatang. (ssb/aha)