
Anggota Komisi XII DPR RI, Eddy Soeparno, saat menjadi narasumber dalam kegiatan Parlemen Kampus di Universitas Sebelas Maret (UNS) di Surakarta, Jawa Tengah.|Foto: Tari/Karisma
PARLEMENTARIA, Surakarta — Anggota Komisi XII DPR RI, Eddy Soeparno, menegaskan pentingnya kolaborasi antara parlemen dan generasi muda dalam mengatasi persoalan sampah di Indonesia. Hal tersebut disampaikannya saat menjadi narasumber dalam kegiatan Parlemen Kampus di Universitas Sebelas Maret (UNS) di Surakarta, Jawa Tengah, Selasa (5/5/2026).
Eddy menyebut bahwa penguatan kapasitas generasi muda menjadi langkah awal yang krusial dalam membangun kesadaran dan aksi nyata terhadap isu lingkungan, khususnya pengelolaan sampah. Menurutnya, edukasi harus mencakup berbagai aspek, mulai dari pemahaman regulasi hingga implementasi di lapangan.
“Pertama, tentu edukasi peningkatan kapasitas bagi kalangan muda itu sangat penting untuk kita perkuat, mulai dari edukasi di bidang legislasi, regulasi, termasuk juga pelaksanaan di lapangan,” ujar Eddy.
Ia menjelaskan bahwa DPR RI memiliki fungsi pengawasan yang dapat dimanfaatkan untuk menjembatani aspirasi masyarakat, termasuk dari kalangan muda. Melalui mekanisme tersebut, berbagai persoalan sampah yang terjadi di daerah dapat diangkat dan dibahas di tingkat nasional.
“Kita juga DPR punya fungsi pengawasan di mana kemudian kita bisa berkolaborasi dengan kalangan muda, di mana ketika terjadi permasalahan terkait sampah tentu bisa dibawa melalui saluran aspirasi masyarakat untuk kita bahas di internal,” jelasnya.
Eddy menekankan pentingnya menghindari kesenjangan antara pemahaman dan praktik di lapangan. Ia menilai, tanpa kolaborasi yang erat, upaya penanganan sampah tidak akan berjalan optimal.
“Jangan sampai ada gap antara pemahaman dan pelaksanaan di lapangan. Kita ingin sekali berkolaborasi, agar ada partisipasi dan kerjasama yang erat antara kita dan kalangan muda,” tegasnya.
Menurutnya, keterlibatan generasi muda bukan hanya sebagai objek edukasi, tetapi juga sebagai mitra strategis dalam mencari solusi terhadap persoalan lingkungan yang semakin kompleks.
Lebih lanjut, Eddy menyebut bahwa penanganan sampah saat ini sudah masuk dalam kategori darurat, sehingga membutuhkan pendekatan yang kolaboratif dan berkelanjutan. Ia optimistis, dengan keterlibatan aktif mahasiswa, berbagai inovasi dan solusi dapat dihasilkan.
Kegiatan Parlemen Kampus di UNS ini menjadi salah satu wadah untuk mempertemukan pemangku kepentingan dengan mahasiswa dalam merumuskan langkah konkret. Eddy berharap forum semacam ini terus diperluas agar semakin banyak generasi muda yang terlibat dalam isu lingkungan. (mri/aha)