E-Media DPR RI – Berita Resmi, Informasi Publik, dan Kegiatan Parlemen Indonesia
BerandaBeritaMedia Sosial DPRTVR ParlemenBukuMajalahBuletinAgenda Rapat DPRLainnya
TRENDING:
Reses|Pendidikan|RUU Masyarakat Adat|PPPK|Rapat Paripurna|Haji|Kesehatan|timwas haji|Judol|Hantavirus|energi|Judi Online|321 WNA
Jakarta:
Gerimis
32°C
Terasa: 37°C
Lembab: 57%
Angin: 9 km/h
•
•
•
•
•
•
•
•
•
•
•
•
Partner 1Partner 2

E-Media DPR RI

Gedung Nusantara II Lt.3 Jl. Jend. Gatot Subroto – Senayan Jakarta – 10270

© 2026 E-Media DPR RI. All rights reserved.

E-Media DPR RI – Berita Resmi, Informasi Publik, dan Kegiatan Parlemen Indonesia
BerandaBeritaMedia Sosial DPRTVR ParlemenBukuMajalahBuletinAgenda Rapat DPRLainnya
TRENDING:
Reses|Pendidikan|RUU Masyarakat Adat|PPPK|Rapat Paripurna|Haji|Kesehatan|timwas haji|Judol|Hantavirus|energi|Judi Online|321 WNA
Jakarta:
Gerimis
32°C
Terasa: 37°C
Lembab: 57%
Angin: 9 km/h
/
/
E-Media DPR RI – Berita Resmi, Informasi Publik, dan Kegiatan Parlemen Indonesia
BerandaBeritaMedia Sosial DPRTVR ParlemenBukuMajalahBuletinAgenda Rapat DPRLainnya
TRENDING:
Reses|Pendidikan|RUU Masyarakat Adat|PPPK|Rapat Paripurna|Haji|Kesehatan|timwas haji|Judol|Hantavirus|energi|Judi Online|321 WNA
Jakarta:
Gerimis
32°C
Terasa: 37°C
Lembab: 57%
Angin: 9 km/h
/
/
Berita/Politik dan Keamanan

Marinus Gea: Negara Tak Punya Hak Tentukan Siapa Aktivis HAM

Diterbitkan
Minggu, 3 Mei 2026 09.52 WIB
Bagikan:
Marinus Gea: Negara Tak Punya Hak Tentukan Siapa Aktivis HAM

Anggota Komisi XIII DPR RI, Marinus Gea. Foto: Runi/Karisma|Foto: Runi/Karisma

PARLEMENTARIA, Jakarta - Wacana pembentukan tim asesor untuk menentukan status aktivis HAM menuai kritik dari DPR RI. Anggota Komisi XIII DPR RI, Marinus Gea, menilai gagasan tersebut berpotensi mengganggu prinsip dasar kebebasan sipil.

 

Ia menegaskan bahwa aktivis HAM sejatinya lahir dari kesadaran individu dan kebebasan berekspresi, bukan hasil seleksi negara. Menurutnya, jika negara ikut menentukan siapa yang layak disebut aktivis, maka terjadi pergeseran makna dari hak menjadi sesuatu yang bersifat terbatas.

Lihat Juga :

Kurs Rupiah Melemah, Marinus Gea: Belanja Negara Harus Prioritaskan yang Penting

Kurs Rupiah Melemah, Marinus Gea: Belanja Negara Harus Prioritaskan yang Penting

Hari HAM, Puan Ingatkan Negara Juga Harus Hadir Penuhi Hak Masyarakat Termarjinalkan

Hari HAM, Puan Ingatkan Negara Juga Harus Hadir Penuhi Hak Masyarakat Termarjinalkan

 

Politisi Fraksi PDI-Perjuangan ini juga menyoroti fungsi utama aktivis HAM sebagai pengawas kekuasaan, termasuk pemerintah itu sendiri.

 

“Aktivis HAM itu salah satu fungsi utamanya mengawasi kekuasaan termasuk pemerintah. Jika pemerintah hadir untuk menyeleksi siapa yang layak dan tidak menjadi aktivis HAM, maka ini cacat logika. Ini kesannya pemerintah mau seleksi siapa yang mau mengawasinya” ujarnya kepada Parlementaria, di Jakarta, Jumat (1/5/2026).

 

Marinus menilai pendekatan tersebut justru berpotensi menciptakan konflik kepentingan, karena pemerintah berada di posisi yang diawasi, tetapi sekaligus ingin menentukan siapa pengawasnya.

 

Lebih lanjut, Marinus menegaskan bahwa menjadi aktivis HAM tidak memerlukan legitimasi dari negara. Ia mengingatkan bahwa jika proses tersebut harus melalui seleksi, maka negara berpotensi membatasi hak warga secara sepihak.

 

“Negara tidak perlu dimintai izin untuk menjadi aktivis HAM. Kalau pemerintah logikanya harus diseleksi berarti negara merubah hak menjadi privilege. Jadi, suka-suka pemerintah aja, hari ini beri lalu besok cabut” ucapnya

 

Ia juga menyampaikan kritik yang lebih luas terhadap potensi pembatasan ruang kritik. Menurutnya, negara tidak memiliki legitimasi moral maupun politik untuk menyaring suara kritis masyarakat.

 

Dalam pandangan Marinus, jika kebijakan tersebut dipaksakan, maka yang terjadi bukan pembinaan, melainkan pembungkaman terhadap kebebasan berekspresi sekaligus melakukan pelanggaran HAM sebagaimana Pasal 28A sampai 28J, UUD 1945 yang mewajibkan negara untuk menghormati, melindungi, dan memenuhi HAM bagi setiap warga negara.

 

Di akhir, Marinus menegaskan bahwa demokrasi membutuhkan keberanian warga untuk mengoreksi kekuasaan. Tanpa kritik, menurutnya, kekuasaan berpotensi kehilangan arah.

 

"Kita tidak butuh aktivis yang patuh pada kekuasaan. Kita butuh aktivis yang berani mengoreksi kekuasaan. Karena tanpa kritik, kekuasaan akan kehilangan arah dan tanpa keberanian warga, demokrasi hanya tinggal slogan" tegas Marinus. (rni,ndn/rdn)

Berita terkait

Kurs Rupiah Melemah, Marinus Gea: Belanja Negara Harus Prioritaskan yang Penting
Ekonomi dan Keuangan
Kurs Rupiah Melemah, Marinus Gea: Belanja Negara Harus Prioritaskan yang Penting
Hari HAM, Puan Ingatkan Negara Juga Harus Hadir Penuhi Hak Masyarakat Termarjinalkan
Politik dan Keamanan
Hari HAM, Puan Ingatkan Negara Juga Harus Hadir Penuhi Hak Masyarakat Termarjinalkan
Hak-Hak Warga Negara Harus Jadi Fokus Utama Aparat dalam Implementasikan KUHAP Baru
Politik dan Keamanan
Hak-Hak Warga Negara Harus Jadi Fokus Utama Aparat dalam Implementasikan KUHAP Baru
Sebelumnya

HNW: Kekerasan di Daycare Langgar UU KIA, Negara Harus Tindak Berikan Efek Jera

Selanjutnya

DPR Siapkan Pansus dan Bentuk Command Center Reforma Agraria

Kembali ke Berita

TAUTAN CEPAT

Berita Populer
Pencarian Lanjutan

KATEGORI

  • Semua Kategori
  • Buletin Parlementaria(5)
  • Ekonomi dan Keuangan(817)
  • Industri dan Pembangunan(3018)
  • Isu Lainnya(1006)
  • Kesejahteraan Rakyat(2929)
  • Majalah Parlementaria(5)
  • Politik dan Keamanan(3642)
  • Populer(417)
  • Uncategorized(4)

TAG POPULER

#Seputar Parlemen#Berita Utama#Komisi X#Komisi III#Komisi IV#BKSAP#Komisi VIII#Komisi IX#Komisi II#Komisi VII

ARSIP BERITA

INFOGRAFIS

Lomba Foto Kreatif SAPA Sayembara Parlementaria
LOKAS

PODCAST

IKUTI KAMI

E-Media DPR RI – Berita Resmi, Informasi Publik, dan Kegiatan Parlemen Indonesia
BerandaBeritaMedia Sosial DPRTVR ParlemenBukuMajalahBuletinAgenda Rapat DPRLainnya
TRENDING:
Reses|Pendidikan|RUU Masyarakat Adat|PPPK|Rapat Paripurna|Haji|Kesehatan|timwas haji|Judol|Hantavirus|energi|Judi Online|321 WNA
Jakarta:
Gerimis
32°C
Terasa: 37°C
Lembab: 57%
Angin: 9 km/h