Wakil Ketua Komisi I DPR RI, Sukamta dalam agenda Kunjungan Reses Komisi I DPR RI ke Kodam XXIII/Palaka Wira di Palu.
PARLEMENTARIA, Palu — Wakil Ketua Komisi I DPR RI, Sukamta, menegaskan pentingnya optimalisasi Operasi Militer Selain Perang (OMSP) serta penguatan intelijen terintegrasi guna menjamin keamanan Proyek Strategis Nasional (PSN) dan mitigasi radikalisme di Sulawesi Tengah. Pernyataan tersebut disampaikannya dalam agenda Kunjungan Reses Komisi I DPR RI ke Kodam XXIII/Palaka Wira di Palu, Rabu (21/4/2025).
Dirinya menilai, Sulawesi Tengah kini menjadi salah satu pusat pertumbuhan ekonomi di kawasan timur Indonesia, seiring dengan ekspansi kawasan industri berbasis hilirisasi nikel yang masuk dalam PSN. Pengaturan tersebut tertuang dalam Peraturan Presiden Nomor 12 Tahun 2025 serta Peraturan Menteri Koordinator Perekonomian Nomor 16 Tahun 2025.
“Pengembangan industri hilir berbasis sumber daya mineral, khususnya hilirisasi nikel di Sulawesi Tengah, terus berkembang sebagai episentrum pertumbuhan ekonomi nasional,” ujar Sukamta.
Ia menambahkan, hilirisasi nikel kini menjadi salah satu andalan dalam meningkatkan pendapatan nasional, didukung oleh pembangunan infrastruktur energi dan konektivitas seperti smelter, jaringan gas perkotaan, serta pengembangan Pelabuhan Teluk Palu.
Di sisi lain, ia memperhatikan ancaman radikalisme di Sulawesi Tengah memang mengalami penurunan signifikan pasca berakhirnya Operasi Madago Raya pada 31 Desember 2025. Namun demikian, tegasnya, ada potensi pergeseran ancaman ke bentuk laten dan hibrida, terutama melalui propaganda digital.“Potensi eksploitasi isu lingkungan terkait PSN maupun narasi ketidakadilan sosial oleh kelompok radikal masih tetap ada dan harus diantisipasi secara serius,” jelasnya.
Menurutnya, pendekatan dalam mitigasi radikalisme tidak cukup hanya mengandalkan operasi kombatan, tetapi juga memerlukan strategi pencegahan dini yang komprehensif dan berkelanjutan. Dalam konteks tersebut, peran OMSP yang dijalankan Kodam XXIII/Palaka Wira menjadi sangat krusial. Maka dari itu, ia menekankan penguatan intelijen terintegrasi merupakan kunci utama dalam menciptakan sistem early warning terhadap potensi sabotase PSN, radikalisme, serta berbagai ancaman non-konvensional lainnya.
“Tanpa optimalisasi OMSP dan intelijen terintegrasi, potensi gangguan terhadap PSN dapat menghambat pencapaian Asta Cita serta stabilitas keamanan nasional secara keseluruhan,” pungkasnya. (YA/um)