
Anggota Komisi VI DPR RI, Subardi.
PARLEMENTARIA, Jakarta — Anggota Komisi VI DPR RI Subardi menyoroti tantangan kelebihan pasokan produksi (oversupply) yang dihadapi PT Semen Indonesia (Persero) Tbk. Hal itu diungkapkannya dalam Rapat Dengar Pendapat (RDP) bersama jajaran direksi perusahaan di Gedung Nusantara I DPR RI, Senayan, Jakarta, Rabu (1/4/2026).
Menurutnya, kelebihan pasokan tersebut berdampak langsung terhadap kinerja perusahaan, termasuk tekanan terhadap harga pasar dan penurunan laba sebagai konsekuensi logis.
Dalam kesempatan itu pula, Subardi mengapresiasi kontribusi SIG sebagai penyedia utama bahan infrastruktur nasional, khususnya dalam menjaga stabilitas pasokan semen di dalam negeri.
“Peran Semen Indonesia sangat penting dalam mendukung pembangunan infrastruktur, sekaligus menjaga ketersediaan semen di pasar domestik,” ujar Subardi Dalam rapat yang membahas evaluasi kinerja korporasi 2025 dan roadmap pengembangan usaha 2026 tersebut.
Sebab, menurutnya, SIG masih mampu mampu menjaga stabilitas harga dan posisi pasar domestik di tengah kelebihan produksi. Meski begitu, ia menekankan pentingnya langkah strategis untuk mengatasi ketidakseimbangan antara produksi dan permintaan.
Subardi mencatat sejumlah upaya yang telah dilakukan perusahaan, seperti efisiensi operasional dan ekspansi pasar ekspor. Selain itu, ia menilai program pembangunan tiga juta rumah yang dicanangkan pemerintah dapat menjadi peluang signifikan untuk menyerap produksi semen nasional.
Dalam kesempatan yang sama, Subardi juga menyoroti inovasi produk turunan berbasis semen yang ia temukan saat kunjungan kerja Komisi VI di Jawa Tengah beberapa waktu lalu. Menurutnya, inovasi tersebut berpotensi meningkatkan efisiensi dan mempercepat proses pembangunan perumahan.
“Saya ingin mendapat penjelasan sejauh mana pengembangan produk turunan ini dilakukan, apakah sudah diterapkan di seluruh pabrik atau masih terbatas di lokasi tertentu,” katanya.
Maka dari itu, Subardi mendorong agar inovasi produk tersebut tidak hanya dikembangkan di internal perusahaan, tetapi juga ditransformasikan kepada masyarakat luas melalui skema kemitraan. Menurutnya, pelibatan pengusaha lokal dan masyarakat dalam pengembangan produk turunan semen dapat menjadi solusi untuk mengurangi oversupply sekaligus memperluas pemanfaatan semen di sektor konstruksi.
“Apakah memungkinkan produk turunan ini dikerjasamakan dengan masyarakat, sehingga dapat mendukung program tiga juta rumah sekaligus membuka peluang investasi bagi pelaku usaha lokal,” ujarnya.
Subardi menambahkan, diversifikasi produk berbasis semen berpotensi mengubah preferensi masyarakat dari material konvensional seperti bata atau batako menjadi produk turunan semen yang lebih efisien. Maka dari itu, Ia berharap, SIG dapat memperluas strategi hilirisasi produknya sebagai langkah konkret untuk menjaga kinerja perusahaan.
“Sehingga Semen Indonesia tetap memproduksi sesuai dengan yang ditargetkan,” pungkas Politisi Fraksi Partai NasDem itu. (hal/rdn)