
Anggota Komisi XII DPR RI Jamaludin Malik saat Kunjungan Spesifik ke Pertamina Patra Niaga RU VI Balongan, Indramayu, Jawa Barat. |Foto: Balggys/sai
PARLEMENTARIA, Indramayu – Anggota Komisi XII DPR RI Jamaludin Malik menyoroti rendahnya utilisasi infrastruktur gas Cisem di tengah kebutuhan pasokan gas yang tinggi untuk Refinery Unit (RU) VI Balongan, Indramayu, Jawa Barat. Menurutnya, pembangunan infrastruktur gas perlu dilihat secara utuh, tidak hanya dari kapasitas infrastrukturnya, tetapi juga dari ketersediaan pasokan dan pemanfaatannya.
Jamaludin menjelaskan, Cisem memiliki kapasitas desain sekitar 183 MMSCFD dan kapasitas operasi 110 MMSCFD. Namun, utilisasinya saat ini baru sekitar 3 MMSCFD. Di sisi lain, RU VI Balongan membutuhkan pasokan gas sekitar 38 MMSCFD.
“Keberhasilan tidak cukup diukur dari selesainya pembangunan infrastruktur semata. Ukuran sesungguhnya adalah berapa besar gas yang benar-benar mengalir dan berapa besar manfaat ekonomi yang dihasilkan,” ujar Jamaludin saat Kunjungan Spesifik Komisi XII DPR RI ke Pertamina Patra Niaga RU VI Balongan, Indramayu, Jawa Barat, Kamis (17/9/2026).
Ia menambahkan, berdasarkan data pasokan tahun 2026, ketersediaan gas baru sekitar 29,7 MMSCFD. Dengan kebutuhan RU VI Balongan sebesar 38 MMSCFD, terdapat gap pasokan sekitar 8,3 MMSCFD. Bahkan, berdasarkan proyeksi PGN yang masih berlaku, kebutuhan Balongan belum sepenuhnya dapat dipenuhi dalam proyeksi 2026 hingga 2030.
Menurut Jamaludin, kondisi tersebut perlu menjadi perhatian serius. Jangan sampai negara memiliki infrastruktur dengan kapasitas besar, tetapi gas yang mengalir belum optimal, sementara fasilitas strategis nasional justru menghadapi kekurangan pasokan.
“Jangan sampai negara memiliki infrastruktur dengan kapasitas besar, tetapi gasnya tidak cukup mengalir. Sementara pada saat yang bersamaan fasilitas strategis nasional justru mengalami kekurangan pasokan,” katanya.
Karena itu, Jamaludin meminta pemerintah dan seluruh pemangku kepentingan terkait tidak bekerja secara sektoral. Ia menilai infrastruktur Cisem, ketersediaan pasokan, dan kebutuhan pengguna perlu dirancang sebagai satu ekosistem agar kapasitas yang tersedia dapat dimanfaatkan secara optimal.
Ia juga mendorong adanya roadmap yang terukur untuk menjawab persoalan tersebut. Menurutnya, roadmap itu perlu memuat kejelasan mengenai volume gas yang akan masuk, pemasok, pengguna, struktur tarif, hingga target waktu tercapainya keseimbangan antara kapasitas infrastruktur dan kebutuhan gas.
Jamaludin berharap optimalisasi Cisem dapat segera diwujudkan melalui kepastian pasokan dan pemanfaatan yang jelas, sehingga keberadaan infrastruktur tersebut dapat memberikan manfaat nyata bagi kebutuhan energi, khususnya RU VI Balongan.
“Yang saya minta adalah roadmap yang terukur, bukan sekadar wacana. Berapa volume gas yang akan masuk, siapa pemasoknya, siapa penggunanya, bagaimana struktur tarifnya, dan kapan keseimbangan antara kapasitas infrastruktur dengan kebutuhan gas itu bisa tercapai,” pungkas Jamaludin. (gys/aha)