
Wakil Ketua Komisi X DPR RI, Kurniasih Mufidayati saat melakukan peninjauan Perpustakaan Provinsi Jawa Timur, Surabaya, Kamis (20/08/2026). |Foto : Shane/Alma
PARLEMENTARIA, Surabaya — Wakil Ketua Komisi X DPR RI Kurniasih Mufidayati mengapresiasi berbagai inovasi yang dikembangkan Perpustakaan Provinsi Jawa Timur dalam meningkatkan kegemaran membaca sekaligus memperluas akses literasi masyarakat. Menurutnya, berbagai terobosan tersebut menjadikan Perpustakaan Provinsi Jawa Timur sebagai salah satu perpustakaan yang patut menjadi rujukan di Indonesia.
“Kami tentu saja selalu men-support dan mendukung kemajuan perpustakaan-perpustakaan, tidak hanya di tingkat provinsi, tidak hanya di kota dan kabupaten, tetapi kami juga berharap perpustakaan sampai di tingkat desa,” ujar Kurniasih usai memimpin Kunjungan Kerja Spesifik Komisi X DPR RI ke Surabaya, Jawa Timur, Kamis (20/8/2026).
Kurniasih menyadari penguatan ekosistem perpustakaan membutuhkan dukungan anggaran yang memadai. Karena itu, ia mendorong peningkatan anggaran Perpustakaan Nasional (Perpusnas) pada tahun anggaran mendatang agar dapat menjawab kebutuhan literasi masyarakat yang semakin besar.
“Karena saat ini kenaikannya masih Rp50 miliar, tentu saja ini belum mencukupi kebutuhan literasi masyarakat,” katanya.
Menurut Kurniasih, pemenuhan kebutuhan buku dan bahan bacaan harus menjadi perhatian serius mengingat besarnya jumlah penduduk Indonesia. Ia menekankan, peningkatan budaya membaca merupakan tanggung jawab bersama yang membutuhkan kolaborasi antara pemerintah, DPR, perpustakaan, komunitas, dan masyarakat.
“Kami di rapat-rapat Komisi X DPR RI akan terus berjuang untuk bisa menumbuhkan semangat literasi. Ini tanggung jawab kita bersama. Mari kita berkolaborasi untuk meningkatkan tingkat literasi anak bangsa kita,” tegasnya.
Dalam kunjungan tersebut, Kurniasih juga menyoroti sejumlah inovasi yang telah dilakukan Perpustakaan Provinsi Jawa Timur. Di antaranya, tingkat kegemaran membaca yang disebut telah mencapai lebih dari 90 persen, ketersediaan koleksi sekitar 400 ribu buku, pengembangan layanan digital, serta perpustakaan keliling yang menjangkau wilayah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T) maupun daerah yang relatif terpencil.
Ia turut mengapresiasi upaya pendokumentasian naskah-naskah kuno yang dinilai penting untuk menjaga warisan sejarah Indonesia. Menurutnya, dokumentasi tersebut menjadi bagian penting dalam memastikan warisan sejarah tetap terjaga dan tidak hilang maupun mengalami distorsi.
Selain itu, Kurniasih mengapresiasi penyediaan fasilitas yang ramah bagi penyandang disabilitas. Ia menilai akses terhadap literasi harus dapat dinikmati seluruh lapisan masyarakat tanpa terkecuali.
“Kita ingin perpustakaan benar-benar menjadi ruang yang inklusif, sehingga seluruh masyarakat, termasuk penyandang disabilitas, dapat memperoleh akses yang sama terhadap pengetahuan dan literasi,” pungkasnya. (syn/ssb)