
Kepala Biro Protokol dan Humas Rudi Rochmansyah saat Kegiatan Parlemen Kampus 2026 yang digelar di Universitas Sebelas Maret (UNS), Surakarta, Jawa Tengah.|Foto : Tri/Andri
PARLEMENTARIA, Surakarta — Kegiatan Parlemen Kampus 2026 yang digelar di Universitas Sebelas Maret (UNS), Surakarta, Jawa Tengah, resmi ditutup pada Rabu (6/5/2026). Program edukasi parlemen yang berlangsung selama dua hari ini mendapat antusiasme tinggi dari mahasiswa yang terlibat aktif dalam simulasi kerja-kerja legislatif.
Kepala Biro Protokol dan Humas Rudi Rochmansyah dalam keterangannya usai penutupan menyampaikan apresiasi atas suksesnya penyelenggaraan kegiatan tersebut. Ia menegaskan bahwa Parlemen Kampus merupakan hasil kolaborasi antara Sekretariat Jenderal DPR RI, BEM UNS, serta sivitas akademika UNS.
“Alhamdulillah, sejak tanggal 5 hingga hari ini tanggal 6 kita telah sukses menyelenggarakan kegiatan Parlemen Kampus yang bekerja sama dengan Sekretariat Jenderal DPR RI, BEM UNS, dan sivitas akademika UNS,” ujarnya kepada Parlementaria.
Ia menambahkan, kegiatan ini juga mendapat dukungan dari pihak kampus, termasuk Direktur Kemahasiswaan UNS. Menurutnya, sinergi tersebut menjadi kunci utama terselenggaranya kegiatan yang edukatif dan partisipatif bagi mahasiswa.
Lebih lanjut, ia menilai mahasiswa menunjukkan antusiasme dan partisipasi yang sangat konstruktif selama kegiatan berlangsung. Para peserta tidak hanya mengikuti rangkaian acara, tetapi juga merasakan langsung dinamika yang terjadi dalam proses kerja parlemen.
“Mahasiswa merasakan suasana kebatinan bahwa mereka senang, menikmati, dan mendapatkan pengalaman baru. Mereka jadi tahu bahwa tugas-tugas di parlemen itu tidak mudah,” jelasnya.
Dalam simulasi tersebut, mahasiswa diajak menjalani berbagai tahapan kerja legislatif, mulai dari rapat kerja, rapat dengar pendapat umum (RDPU), hingga rapat paripurna. Dinamika diskusi yang terjadi pun dinilai mampu memberikan gambaran nyata tentang kompleksitas pengambilan keputusan di parlemen.
“Pada saat rapat kerja, RDPU, hingga pengambilan keputusan di rapat paripurna, dinamika yang terjadi sangat tinggi. Mimbar akademik yang biasa digunakan mahasiswa seolah berubah menjadi ruang sidang parlemen,” katanya.
Ia berharap pengalaman tersebut dapat membuka perspektif mahasiswa mengenai peran dan tanggung jawab anggota DPR RI. Menurutnya, sebagian besar peserta menyadari bahwa tugas sebagai legislator membutuhkan pemahaman mendalam serta tanggung jawab besar terhadap masyarakat.
“Hampir mayoritas menyampaikan bahwa ternyata tugas sebagai anggota DPR itu tidak mudah. Harus memahami ideologi, menyerap aspirasi masyarakat, dan menyelesaikan berbagai persoalan, salah satunya terkait pengelolaan sampah,” ungkapnya.
Terkait tema yang diangkat, yakni generasi peduli lingkungan, kritis, paham aturan, dan aksi nyata, ia menjelaskan bahwa tema tersebut lahir dari diskusi mendalam serta melihat urgensi persoalan sampah di Indonesia yang dinilai semakin darurat.
“Persoalan sampah ini sudah sangat urgen dan darurat. Pelaksanaannya juga masih menjadi diskusi antara pemerintah daerah, masyarakat, dan pemerintah pusat. Karena itu, mahasiswa juga harus ikut mengkritisi,” jelasnya.
Ia menekankan bahwa mahasiswa tidak hanya dituntut untuk bersikap kritis, tetapi juga harus memahami regulasi serta mampu menghadirkan solusi nyata. Hal ini penting agar kritik yang disampaikan tidak berhenti pada wacana semata.
“Kalau hanya kritis tanpa memahami aturan, itu kurang elok. Harus kritis, paham aturan, dan ada aksi nyata. Kalau tidak, tidak akan menghasilkan perubahan,” tegasnya.
Di akhir, ia menyambut positif rencana lahirnya resolusi atau policy brief dari kegiatan Parlemen Kampus 2026 yang akan disampaikan kepada DPR RI, khususnya terkait isu pengelolaan sampah.
“Kami sangat positif jika dari kegiatan ini lahir resolusi atau policy brief yang bisa menjadi masukan bagi DPR RI. Ini menunjukkan bahwa mahasiswa tidak hanya belajar, tetapi juga berkontribusi nyata,” pungkasnya. (mri/rdn)