E-Media DPR RI – Berita Resmi, Informasi Publik, dan Kegiatan Parlemen Indonesia
BerandaBeritaSocial Media DPRTVR ParlemenE-BookE-MagazineE-BuletinAgenda Rapat DPRLainnya
TRENDING:
Seputar Parlemen|Berita Utama|Komisi X|Komisi III|Komisi IV|BKSAP|Komisi VIII|Komisi IX|Komisi II|Komisi VII|Komisi V|Komisi VI|Komisi I
Jakarta:
Berawan
29°C
Terasa: 34°C
Lembab: 73%
Angin: 7 km/h
•
•
•
•
•
•
•
•
•
•
•
•
Partner 1Partner 2

E-Media DPR RI

Gedung Nusantara II Lt.3 Jl. Jend. Gatot Subroto – Senayan Jakarta – 10270

© 2026 E-Media DPR RI. All rights reserved.

E-Media DPR RI – Berita Resmi, Informasi Publik, dan Kegiatan Parlemen Indonesia
BerandaBeritaSocial Media DPRTVR ParlemenE-BookE-MagazineE-BuletinAgenda Rapat DPRLainnya
TRENDING:
Seputar Parlemen|Berita Utama|Komisi X|Komisi III|Komisi IV|BKSAP|Komisi VIII|Komisi IX|Komisi II|Komisi VII|Komisi V|Komisi VI|Komisi I
Jakarta:
Berawan
29°C
Terasa: 34°C
Lembab: 73%
Angin: 7 km/h
/
/
E-Media DPR RI – Berita Resmi, Informasi Publik, dan Kegiatan Parlemen Indonesia
BerandaBeritaSocial Media DPRTVR ParlemenE-BookE-MagazineE-BuletinAgenda Rapat DPRLainnya
TRENDING:
Seputar Parlemen|Berita Utama|Komisi X|Komisi III|Komisi IV|BKSAP|Komisi VIII|Komisi IX|Komisi II|Komisi VII|Komisi V|Komisi VI|Komisi I
Jakarta:
Berawan
29°C
Terasa: 34°C
Lembab: 73%
Angin: 7 km/h
/
/
Berita/Industri dan Pembangunan

Santan Kemasan Langka, Legislator Soroti Perdagangan Kelapa

Diterbitkan
Jumat, 21 Feb 2025 17.48 WIB
Bagikan:
Santan Kemasan Langka, Legislator Soroti Perdagangan Kelapa
PARLEMENTARIA, Surakarta – Anggota Komisi IV DPR RI, Dwita Ria Gunadi, menyoroti kelangkaan santan kemasan di pasaran. Ia menilai kondisi ini terjadi karena perdagangan kelapa dikuasai oleh sejumlah pengusaha tertentu, sehingga peredaran olahan kelapa di masyarakat menjadi terbatas.

“Di daerah pemilihan saya, masyarakat melaporkan bahwa terjadi perebutan kelapa, padahal produksi kelapa kita banyak. Namun, kelapa dalam bentuk gelondongan langsung dikirim ke Jakarta. Mungkin di sana kelapa ini dipilah-pilah lagi, mulai dari sabut, batok, hingga daging kelapanya, yang katanya juga memenuhi permintaan dari luar negeri,” ujarnya kepada Parlementaria di Surakarta, Jawa Tengah, Kamis (20/2/2025).

Ria, sapaan akrabnya, menambahkan bahwa indikasi kelangkaan olahan kelapa sudah terlihat, salah satunya dengan hilangnya santan kemasan bermerk KARA di pasaran. Jika pun tersedia, harganya melonjak hampir dua kali lipat dari biasanya.

“Saat ini masih ada merek SUN, tapi santan KARA yang biasa digunakan masyarakat justru hilang. Ini harus menjadi perhatian pemerintah. Siapa eksportir kelapa yang mendominasi? Jangan sampai semua kelapa dari Indonesia dibawa keluar, seperti kasus minyak goreng sebelumnya. Padahal, bahan baku ada, tetapi tidak tersedia di dalam negeri,” tegasnya.

Menurut Ria, ada teori yang menyebutkan bahwa kelangkaan kelapa dan olahannya juga disebabkan banyaknya pengusaha kelapa yang gulung tikar akibat lahan perkebunan kelapa terendam air laut akibat abrasi pantai.

“Kemungkinannya kecil jika hanya karena abrasi pantai. Kelapa itu tanaman yang tidak memerlukan perawatan intensif tetapi tetap bisa berproduksi. Namun, faktanya, kelapa memang sedang diperebutkan. Harga santan yang dulu Rp3.500 per sachet kini naik menjadi Rp6.000. Bahkan, kelapa bulat yang sebelumnya bisa didapatkan dengan harga Rp10.000 kini semakin sulit ditemukan,” ungkapnya.

Ria menyatakan bahwa ia akan membawa isu ini ke DPR untuk dibahas lebih lanjut. Mengingat menjelang Ramadan dan Idulfitri, santan kelapa menjadi bahan penting dalam berbagai hidangan masyarakat.

“Kita tidak boleh kehilangan salah satu bahan pokok penting menjelang puasa. Ini seperti kasus singkong sebelumnya. Kita harus memanggil para pengusaha kelapa, melihat produksi mereka, serta mengumpulkan laporan dari setiap dinas pertanian kabupaten agar kebijakan berbasis data,” ujarnya.

Selain itu, dalam peninjauannya ke Pasar Gedhe Solo, Ria menemukan bahwa kondisi pasar saat ini relatif sepi akibat daya beli masyarakat yang menurun. Ia berharap momentum Ramadan dapat menghidupkan kembali sektor UMKM dan meningkatkan daya beli masyarakat.

“Saat ini, daya beli masyarakat sangat rendah. Mudah-mudahan kita bisa menjalankan ibadah puasa dengan tenang tanpa gejolak kekurangan bahan pangan. Yang perlu ditingkatkan adalah gairah ekonomi. Mungkin di bulan Ramadan nanti, muncul lebih banyak produk UMKM siap saji yang bisa mendorong aktivitas belanja di pasar,” pungkasnya. •ndy/aha

Berita terkait

Legislator Soroti Maraknya Perdagangan Ilegal Burung Langka dari Papua
Politik dan Keamanan
Legislator Soroti Maraknya Perdagangan Ilegal Burung Langka dari Papua
Komisi IV Temukan Beras SPHP dan Santan Kemasan Kosong di Solo
Industri dan Pembangunan
Komisi IV Temukan Beras SPHP dan Santan Kemasan Kosong di Solo
BKSAP Soroti Stagnasi Perdagangan Intra-OKI dan Dorong Akselerasi SDG
Politik dan Keamanan
BKSAP Soroti Stagnasi Perdagangan Intra-OKI dan Dorong Akselerasi SDG
Tags:#Seputar Parlemen#Komisi IV
Sebelumnya

PR Mendikti Saintek yang Baru: Tukin, Beasiswa, dan BOPTN

Selanjutnya

Polemik Tukin Dosen, Legislator Tegaskan Pentingnya Kesejahteraan Pendidik

Kembali ke Berita

TAUTAN CEPAT

Berita Populer
Pencarian Lanjutan

KATEGORI

  • Semua Kategori
  • Buletin Parlementaria(5)
  • Ekonomi dan Keuangan(758)
  • Industri dan Pembangunan(2695)
  • Isu Lainnya(981)
  • Kesejahteraan Rakyat(2576)
  • Majalah Parlementaria(5)
  • Politik dan Keamanan(3195)
  • Populer(416)
  • Uncategorized(1)

TAG POPULER

#Seputar Parlemen#Berita Utama#Komisi X#Komisi III#Komisi IV#BKSAP#Komisi VIII#Komisi IX#Komisi II#Komisi VII

ARSIP BERITA

INFOGRAFIS

Dampak penutupan selat hormus

PODCAST

IKUTI KAMI

E-Media DPR RI – Berita Resmi, Informasi Publik, dan Kegiatan Parlemen Indonesia
BerandaBeritaSocial Media DPRTVR ParlemenE-BookE-MagazineE-BuletinAgenda Rapat DPRLainnya
TRENDING:
Seputar Parlemen|Berita Utama|Komisi X|Komisi III|Komisi IV|BKSAP|Komisi VIII|Komisi IX|Komisi II|Komisi VII|Komisi V|Komisi VI|Komisi I
Jakarta:
Berawan
29°C
Terasa: 34°C
Lembab: 73%
Angin: 7 km/h