
Anggota BKSAP DPR RI Samuel JD Wattimena saat pemaparan dalam agenda “BKSAP Day” Ke Kabupaten Toba, Sumatera Utara, Senin (26/10/2026). |Foto : Aym/Andri
PARLEMENTARIA, Toba — Anggota Badan Kerja Sama Antar-Parlemen (BKSAP) DPR RI Samuel Wattimena menekankan pentingnya identitas masing-masing daerah, khususnya terkait pembuatan ulos, yaitu kain tenun tradisional khas suku Batak di Sumatera Utara. Ia menegaskan, jangan sampai aspek bisnis saja yang diperhatikan tetapi juga identitas budaya yang terdapat di setiap tenunan ulos.
“Pendekatan dari berbagai produk ulos saat ini, itu hanya pendekatan bisnis, seperti perang harga . Padahal ulos ini adalah bagian dari diplomasi kebudayaan yang seharusnya memiliki identitas budaya setiap daerah penghasil ulos ini,” ujar Anggota BKSAP DPR RI Samuel JD Wattimena saat pemaparan dalam agenda “BKSAP Day” Ke Kabupaten Toba, Sumatera Utara, Senin (26/10/2026).
Samuel, sapaan akrabnya, berharap bahwa kelak setiap daerah memiliki identitas budayanya masing-masing dalam karyanya baik dari segi komposisinya, bahan, warna dan sebagainya.
“Padahal kalau produsen di setiap daerah ada ciri yang membedakan, apakah itu terkait komposisi, ataukah itu terkait warna dan pewarnaan. Sehingga kalau orang beli di tempat A, dia tidak bisa membeli di tempat B karena tempat B berbeda sekali cirinya. Nah, ini perlu menjadi bahan diskusi lebih lanjut,” tambahnya.
Legislator fraksi PDI-P itu juga menyoroti tentang berkurangnya minat anak muda menjadi pengrajin Wastra Nusantara, yaitu istilah untuk seluruh hasil karya kain atau tekstil tradsional asli Indonesia yang sarat akan nilai budaya, filosofi, dan kearifan lokal. Hal tersebut dikarenakan adanya ketidakrelevanan pada motif-motif Wastra Nusantara terutama yang ditekankan disini adalah ulos.
“Menurut analisa saya, mereka tidak tertarik menjadi pelaku wastra Nusantara terutama ulos pasalnya motif-motifnya tidak relevan dengan para anak muda tersebut sehingga tidak ada “gue”-nya disitu,” pungkasnya. (aym/rdn)