
Wakil Ketua Komisi VII DPR RI, Chusnunia Chalim saat meninjau sentra UMKM di Sarinah, Jakarta, Kamis (3/9/2026)|Foto: Ria/Alma
PARLEMENTARIA, Jakarta — Di tengah gedung yang identik dengan sejarah perdagangan Indonesia itu, wajah Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) tampil dalam bentuk yang beragam. Ada produk yang namanya sudah dikenal luas, tetapi ada pula merek yang masih berjuang memperkenalkan diri kepada konsumen.
Pemandangan tersebut menjadi perhatian Komisi VII DPR RI saat melakukan kunjungan kerja spesifik ke Sentra UMKM Sarinah, Kamis (3/9/2016). Kunjungan dilakukan untuk melihat secara langsung bagaimana ekosistem pemasaran, pembinaan, dan pengembangan produk lokal berjalan, sekaligus menggali persoalan yang masih dihadapi pelaku UMKM.
Wakil Ketua Komisi VII DPR RI Chusnunia Chalim menilai Sarinah memberikan gambaran bahwa UMKM Indonesia dapat tampil dalam ruang perdagangan yang modern tanpa kehilangan identitas lokalnya. “Kita dari Komisi VII kunjungan ke Sarinah karena ini jadi kebanggaan kita, sentra UMKM tapi dengan kelas yang bisa diterima. Kami melihat dari bawah sampai ke atas, dari food court sampai ke semua tenant dengan jumlah yang besar,” ujar Chusnunia
Bagi Chusnunia, apa yang terlihat di Sarinah bukan sekadar tempat untuk memasarkan produk. Lebih dari itu, Sarinah menunjukkan betapa pentingnya sebuah ruang yang mampu mempertemukan produk UMKM dengan konsumen.
Sebab, persoalan yang dihadapi UMKM sering kali bukan semata-mata kemampuan memproduksi barang. Banyak pelaku usaha justru berhenti pada persoalan berikutnya: bagaimana produk mereka dikenal dan memiliki pasar.
“Ini harapan bagi UMKM kita, karena UMKM kita selama ini kesulitan dalam soal marketing. Harapannya ini bahkan bisa di-copy ke beberapa provinsi lain, bukan hanya di Jakarta,” katanya.
Legislator Fraksi PKB itu menilai keberpihakan terhadap produk lokal perlu diwujudkan melalui ekosistem yang memberikan kesempatan kepada UMKM untuk berkembang. Akses pasar, pembiayaan, pendampingan, promosi, hingga koneksi dengan sektor pariwisata dan ekonomi kreatif menjadi bagian yang tidak terpisahkan.
Sementara itu, di area kuliner Sarinah, Wakil Ketua Komisi VII DPR RI Evita Nursanty justru menemukan cerita lain tentang kekayaan produk lokal. Deretan makanan yang tersaji menghadirkan nama-nama kuliner dari berbagai daerah, termasuk beberapa menu yang belum begitu familiar bagi masyarakat luas.
“Kalau melihat makanan, kayaknya semuanya mau dimakan. Yang jarang-jarang kita lihat ada nasi tempong, sop konro, dan bakmi piring. Saya belum pernah dengar bakmi piring,” ujar Evita.
Bagi Evita, keberadaan kuliner khas daerah di Sarinah memperlihatkan bahwa ekonomi kreatif tidak selalu hadir dalam bentuk yang rumit. Sepiring makanan pun dapat menjadi pintu masuk untuk mengenalkan identitas dan kekayaan budaya Indonesia.
Ia pun mengajak masyarakat menjadikan Sarinah sebagai salah satu tujuan untuk mengenal sekaligus menikmati produk lokal. “Kalau mau coba makanan khas Indonesia, datang ke Sarinah. Lengkap, komplit,” katanya.
Perjalanan Evita kemudian berlanjut ke lantai empat, tempat berbagai produk UMKM dipasarkan. Di sana, produk dari merek yang telah memiliki nama berdampingan dengan produk dari pelaku usaha yang masih membangun pasar.
“Lantai ini khusus produk-produk UMKM. Macam-macam. Ada brand-brand yang sudah terkenal, ada juga yang belum. Kita dukung,” ujar Evita seraya mengatakan, keberadaan ruang seperti itu memberikan peluang bagi produk lokal untuk bertemu dengan konsumen
Kementerian Ekonomi Kreatif/Badan Ekonomi Kreatif menyampaikan bahwa Sarinah juga menjadi ruang kolaborasi bersama InJourney Group untuk memperkuat akses pasar dan pemberdayaan UMKM berbasis budaya. Kolaborasi tersebut antara lain dilakukan melalui ruang promosi dan pameran intellectual property (IP) lokal. (rnm/aha)