
Anggota Komisi X DPR RI, Sofyan Tan, saat Rapat Kerja Komisi X DPR RI dengan Menteri Pemuda dan Olahraga di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta.|Foto: Mentari/Karisma
PARLEMENTARIA, Jakarta - Sejumlah cabang olahraga perorangan selama ini menjadi andalan Indonesia dalam meraih prestasi dan medali di berbagai ajang internasional. Karena itu, pembinaan cabang olahraga tersebut dinilai perlu mendapatkan perhatian yang seimbang dengan cabang olahraga yang memiliki basis massa besar.
Anggota Komisi X DPR RI Sofyan Tan meminta pemerintah tidak mengesampingkan cabang olahraga perorangan dalam kebijakan pembinaan prestasi nasional. Menurutnya, orientasi pembinaan tidak semestinya hanya didasarkan pada popularitas atau jumlah peminat suatu cabang olahraga.
"Kalau kita ingin mencapai prestasi yang baik, berarti jangan menomorduakan cabang olahraga perorangan," kata Sofyan saat Rapat Kerja Komisi X DPR RI dengan Menteri Pemuda dan Olahraga di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Senin (31/8/2026).
Sofyan menilai rekam jejak prestasi Indonesia menunjukkan banyak cabang olahraga perorangan yang mampu mengibarkan Merah Putih di kompetisi internasional. Ia menyebut bulu tangkis, tenis, tenis meja, catur, bridge, judo, karate, angkat besi, hingga panahan sebagai sejumlah cabang yang selama ini menjadi andalan Indonesia.
"Kita bisa mulai dengan kebanggaan kita dengan bulu tangkis, tenis, tenis meja, kemudian sampai catur, bridge. Andalan kita judo, karate, angkat besi, hampir semua yang memberikan kita wajah Indonesia dan lagu Indonesia Raya berkibar itu umumnya adalah cabang perorangan," ujar politisi dari Fraksi PDI-Perjuangan itu.
Karena itu, Sofyan meminta pemerintah melakukan evaluasi terhadap pola pembinaan dan pengalokasian dukungan bagi cabang olahraga. Ia menekankan, olahraga yang memiliki potensi besar menghasilkan prestasi perlu mendapatkan perhatian berdasarkan kajian dan rekam jejak, bukan semata-mata karena olahraga tersebut populer di tengah masyarakat.
Ia menegaskan, dirinya tidak bermaksud menolak dukungan terhadap cabang olahraga yang memiliki basis massa besar. Namun, keseimbangan kebijakan tetap diperlukan agar cabang olahraga yang terbukti mampu menyumbangkan medali tidak kehilangan dukungan pembinaan.
Sofyan juga menyoroti pentingnya kualitas sumber daya manusia yang mengelola organisasi olahraga. Menurutnya, kepengurusan cabang olahraga seharusnya lebih banyak mempertimbangkan pengalaman dan pemahaman terhadap cabang olahraga yang dipimpin.
"Kita sudah tidak lagi melihat bahwa para pengurus olahraga yang populer tersebut datang dari olahragawan. Misalnya Pak Taufik Hidayat memimpin bulu tangkis, pasti jauh lebih hebat daripada seorang pengusaha atau pejabat yang ingin mempunyai nama di sana," katanya.
Ia menilai penguatan cabang olahraga perorangan juga perlu berjalan beriringan dengan pemetaan berbasis sains. Dengan mengetahui karakteristik atlet, potensi daerah, serta cabang olahraga yang paling berpeluang meraih medali, pemerintah dapat mengarahkan anggaran secara lebih efektif.
Menurut legislator dari dapil Sumatra I itu, peningkatan prestasi olahraga pada akhirnya juga dapat menjadi dasar untuk memperkuat dukungan anggaran pada masa mendatang. Karena itu, besarnya anggaran Kemenpora yang mencapai lebih dari Rp4 triliun harus diikuti dengan program pembinaan yang terukur dan menghasilkan capaian prestasi.
Sofyan berharap kebijakan tersebut dapat memperkuat ekosistem olahraga nasional sekaligus memastikan cabang-cabang olahraga yang selama ini menjadi lumbung medali Indonesia tetap memperoleh perhatian dan pembinaan secara berkelanjutan. (fa/uc)