
Anggota Komisi I DPR RI, Sarifah Ainun Jariyah (SAJ), saat ditemui di daerah pemilihannya, Foto : Nadya/Alma|Foto : Nadya/Alma
PARLEMENTARIA, Serang – Pagi itu, suasana di salah satu sudut Kabupaten Serang, Banten, terasa hangat. Sejumlah warga tampak menyambut kedatangan Anggota DPR RI Sarifah Ainun Jariyah (SAJ) dengan senyum dan sapaan akrab. Tidak ada jarak kaku antara wakil rakyat dan masyarakat. Bagi Sarifah, mereka bukan sekadar konstituen, apalagi hanya tim pendukung politik. Mereka adalah keluarga.
Di tengah agenda reses yang padat, legislator Fraksi PDI-Perjuangan itu memilih menyapa warga satu per satu, mendengar cerita mereka secara langsung, mulai dari persoalan ekonomi keluarga, kebutuhan bantuan usaha, hingga harapan sederhana agar wakil rakyat tetap hadir di tengah masyarakat.
“Kalau saya sih, konstituen itu keluarga, family, saya nggak pernah menyebut mereka tim pendukung, selalu saya sebut mereka adalah keluarga besar Sarifah Ainun Jariyah karena ketika mereka memberi kepercayaan kepada saya, berarti mereka menjadi keluarga saya seperti itu,” ujar Sarifah saat ditemui di daerah pemilihannya, Serang, Banten, Rabu (29/04/2026).
Bagi Sarifah, hubungan dengan masyarakat tidak dibangun saat momentum politik semata. Ia meyakini, kehadiran dan ketulusan jauh lebih berarti dibanding sekadar janji atau pencitraan. Karena itu, setiap bantuan maupun program yang ia perjuangkan, menurutnya, bukan untuk meminta balas dukungan politik.
“Saya memang tidak menjemput mereka memilih. Tapi bagian dari keluarga besar SAJ,” katanya sambil tersenyum.
Di berbagai titik kunjungannya selama masa reses, Sarifah mengaku selalu menemukan hal yang sama: masyarakat sebenarnya tidak menuntut banyak. Mereka hanya ingin didengar dan diperhatikan. Kehadiran wakil rakyat secara langsung menjadi bentuk penghargaan tersendiri bagi warga.
“Kalau saya sih, sebenarnya kalau masyarakat itu juga mereka tuh nggak muluk-muluk ya. Ketika kita mau turun langsung, bertemu langsung, mereka tuh kan pasti bisa melihat oh mana yang tulus, mana yang benar-benar berjuang,” jelas Anggota Komisi I DPR RI itu.
Baginya, masa reses bukan sekadar agenda formal kedewanan. Reses menjadi ruang emosional untuk kembali menyerap denyut kehidupan masyarakat yang diwakilinya di Senayan. Di situlah ia merasa bisa memahami persoalan secara nyata, bukan hanya lewat laporan di atas meja.
“Yang pasti itu senang banget, gitu. Karena reses ini adalah saat saya bertemu langsung dengan konstituen saya. Kan nggak setiap saat. Jadi memang ketika waktu reses itu bener-bener saya manfaatkan untuk bertemu langsung, untuk mendengar langsung apa yang menjadi aspirasi dari para konstituen saya,” tuturnya.
Sarifah percaya, kepercayaan masyarakat tumbuh dari tindakan nyata. Ketika wakil rakyat hadir, melihat langsung kondisi warga, lalu membantu sesuai kebutuhan mereka, di situlah hubungan emosional terbentuk secara alami.
“Nah, ketika para anggota DPR RI turun ke lapangan, melihat langsung, memberikan bantuan langsung apa yang menjadi kebutuhan mereka, otomatis mereka akan merasa oh ternyata mereka peduli gitu kepada kita,” ujarnya.
Perempuan yang mewakili Dapil Banten II itu pun mengaku memiliki kepuasan batin tersendiri setiap kali bisa membawa manfaat bagi masyarakat. Baginya, kebahagiaan terbesar bukanlah soal jabatan, melainkan ketika keberadaannya benar-benar dirasakan warga.
“Ini memberikan yang sebenarnya tidak bisa dinilai dengan uang gitu, jadi ada perasaan puas, bangga, senang ternyata kita dipilih oleh masyarakat, kita bisa membawa manfaat yang lebih baik untuk masyarakat,” ungkapnya.
Di sela langkahnya menyusuri kampung-kampung dan menemui warga, Sarifah terus memegang prinsip sederhana yang menjadi pegangan politiknya selama ini: menjaga kedekatan dengan masyarakat seperti menjaga hubungan dalam keluarga sendiri.
“Dimanapun saya jalan, saya selalu menganggap ini adalah keluarga saya, keluarga besar Sarifah Ainun Jariyah,” pungkasnya. (ndy/aha)