
Dalam pertemuan ini, para delegasi menegaskan pentingnya resolusi bersama sebagai wujud nyata dukungan parlemen-parlemen Islam terhadap kemerdekaan Palestina. Wakil Ketua Badan Kerja Sama Antar-Parlemen (BKSAP) DPR RI, Muhammad Husein Fadlulloh, menyampaikan bahwa substansi resolusi tetap konsisten, yakni menuntut kemerdekaan penuh bagi Palestina. Namun tantangan terbesar, menurutnya, bukan pada kesepakatan di antara negara-negara anggota OKI, melainkan bagaimana agar resolusi tersebut dapat diterima dan diadopsi oleh komunitas internasional secara luas.
“Sebetulnya resolusinya tetap sama, (yaitu) kita menuntut kemerdekaan untuk Palestina. Itu intinya yang harus kita pahami dulu. Tantangannya adalah bagaimana agar resolusi ini bisa diterima oleh dunia luar, di luar negara-negara OKI,” ujar Husein Fadlulloh pada Parlementaria di sela pertemuan.
Ia menegaskan bahwa seluruh peserta komite memiliki semangat yang sama dalam membela Palestina, namun pendekatan dan sudut pandangnya beragam. Ada yang menyoroti isu kesehatan, pendidikan, hingga bantuan kemanusiaan di Gaza. Meski begitu, esensi perjuangan tetaplah satu, (yaitu) memastikan hak-hak rakyat Palestina diakui dan dijamin di kancah global.
“Kita semua di sini bicara tentang kondisi Gaza, bagaimana kita bisa membantu rakyat Palestina dari berbagai aspek. Tapi yang lebih penting adalah bagaimana kita menyatukan strategi agar dunia internasional di luar OKI juga mendukung perjuangan ini,” tambah Politisi Fraksi Partai Gerindra ini.
Lebih lanjut, Husein mengungkapkan Pertemuan Komite Tetap Palestina ini menjadi bagian penting dalam upaya kolektif memobilisasi dukungan global untuk solusi yang adil dan menyeluruh bagi rakyat Palestina, terutama di tengah meningkatnya tekanan dan krisis kemanusiaan yang masih berlangsung hingga saat ini. •we/rdn