
Anggota Komisi VIII DPR RI, Lisda Hendrajoni, menyampaikan pandangan dalam pertemuan Tim Kunjungan Kerja Spesifik Komisi VIII DPR RI dengan jajaran Kementerian Haji dan Umrah di Kota Bogor, Jawa Barat.|Foto: Aurel/Karisma
PARLEMENTARIA, Bogor – Anggota Komisi VIII DPR RI Lisda Hendrajoni mengusulkan setiap embarkasi haji dilengkapi fasilitas mock-up atau pesawat tiruan sebagai sarana latihan bagi calon jemaah. Menurutnya, tidak semua jemaah pernah menaiki pesawat sehingga membutuhkan pengenalan langsung sebelum keberangkatan.
"Untuk masing-masing embarkasi itu mempunyai mock-up. Artinya tempat pesawat tiruan yang mana jemaah kita tersebut dapat melihat langsung, belajar di sana, karena tidak semua jemaah kita misalnya sudah pernah naik pesawat," ujar Lisda saat Kunjungan Kerja Spesifik Komisi VIII DPR RI ke Kantor Kementerian Haji dan Umrah Kota Bogor, Provinsi Jawa Barat, Jumat (11/9/2026).
Ia menjelaskan, fasilitas tersebut memungkinkan jemaah berlatih hal-hal mendasar selama penerbangan, mulai dari menempatkan barang bawaan, mengenakan dan melepas sabuk pengaman, hingga menggunakan toilet pesawat. Usulan serupa, menurutnya, telah disampaikan sejak periode keanggotaan sebelumnya.
Politisi Fraksi Partai NasDem tersebut mengungkapkan, hasil pengawasan di lapangan menemukan sejumlah jemaah lanjut usia menahan diri untuk tidak menggunakan toilet sepanjang penerbangan karena tidak memahami cara penggunaannya.
"Banyak juga yang orang-orang tua kita akhirnya takut untuk ke toilet. Kebayang mereka 9 jam, 9 jam lebih bahkan, harus menahan untuk tidak ke toilet karena dengan berbagai hal, dan mungkin untuk bertanya juga mungkin mereka tidak berani atau takut, malu, dan lain-lain," tegasnya.
Lisda menambahkan, sebagian jemaah juga mengkhawatirkan risiko tersengat listrik apabila lantai toilet basah. Kondisi tersebut, menurutnya, menunjukkan pemahaman teknis jemaah masih perlu dibangun sejak pembinaan manasik di Tanah Air, termasuk tata cara bersuci dan berwudu selama penerbangan.
Selain itu, ia menyoroti keterampilan jemaah lanjut usia dalam menggunakan telepon seluler. Sejumlah jemaah dibekali perangkat oleh keluarga, namun belum menguasai pengoperasian dasarnya, padahal perangkat tersebut juga dibutuhkan untuk mengakses layanan seperti antrean Raudhah.
"Minimal mematikan dan menghidupkan handphone itu tuh harus juga dibekali, karena ini menyangkut juga dengan keselamatan penerbangan," tegasnya. (arl/aha)