
Anggota BURT DPR RI Syarif Fasha saat memimpin pertemuan BURT DPR RI dengan perwakilan Direksi IHC dan jajaran direksi Bali International Hospital, Denpasar, Bali.|Foto : Nap/Andri
PARLEMENTARIA, Denpasar – Badan Urusan Rumah Tangga (BURT) DPR RI menilai Bali International Hospital (BIH) memiliki potensi besar untuk dikembangkan sebagai salah satu destinasi medical tourism di Indonesia. Pengembangan tersebut dinilai dapat menjadi alternatif bagi masyarakat Indonesia yang selama ini memilih memperoleh layanan kesehatan di luar negeri.
Anggota BURT DPR RI Syarif Fasha mengatakan, fasilitas dan layanan kesehatan yang dimiliki BIH dinilai cukup mumpuni untuk mendukung pengembangan tersebut. Namun, potensi itu perlu diikuti dengan strategi promosi yang lebih kuat agar keberadaan dan keunggulan layanan BIH semakin dikenal masyarakat.
“Jadi sudah pelayanan eksklusif, tetapi mengenai masalah terkait dengan promosi juga. Jadi semua termasuk Ibu Lucy juga berharap banyak bahwa Dr. Noel ini akan membawa manajemen di Mount Elizabeth itu untuk bisa di Bali International Hospital ini sehingga sedikit-sedikit pasien yang ada di Mount Elizabeth itu bisa bergeser ke sini,” ujar Syarif saat memimpin pertemuan BURT DPR RI dengan perwakilan Direksi IHC dan jajaran direksi Bali International Hospital, Denpasar, Bali, Jumat (11/9/2026).
Menurut Syarif, pengalaman pasien dan rekomendasi dokter menjadi salah satu cara efektif untuk membangun kepercayaan masyarakat terhadap layanan kesehatan di dalam negeri. Terlebih, Bali memiliki keunggulan sebagai destinasi wisata yang dapat menjadi nilai tambah dalam pengembangan medical tourism.
Ia juga mendorong BIH membangun ekosistem pendukung melalui kerja sama dengan sektor perhotelan. Salah satunya dengan menjajaki skema kemitraan berupa potongan harga atau voucher menginap bagi pasien dan keluarga yang menjalani perawatan di BIH.
“Mungkin BIH ini bisa kerja sama dengan beberapa hotel di Bali ini yang katakan hotel nanti memberikan diskon 50% dan lain sebagainya. Dengan itu nanti mudah-mudahan ini akan menjadi salah satu destinasi kesehatan karena nilai plusnya adalah wisata. Orang Australia itu kalau dia tahu pasti ke sini,” katanya.
Sementara itu, Direktur Utama BIH Sheira Aurani menjelaskan, BIH terus mengembangkan layanan kesehatan sesuai dengan kebutuhan masyarakat, termasuk layanan yang selama ini banyak dicari warga negara Indonesia ketika berobat ke luar negeri.
Ia menyebutkan, sejumlah layanan yang telah tersedia antara lain imunoterapi dan radioterapi dengan teknologi presisi. Menurutnya, keberadaan layanan tersebut mulai menarik kembali pasien Indonesia yang sebelumnya berobat ke Malaysia maupun Singapura.
“Sudah ada pasien-pasien yang sebelumnya berobat di Malaysia, biasanya berobat di Singapura, mereka sudah kembali. Salah satu yang memang membawa kembali adalah dokter yang melayani di Singapura memberikan informasi ke mereka, ‘Saya praktiknya di Bali, kamu ke Bali saja’,” jelas Sheira.
Sheira menambahkan, BIH akan terus memetakan kebutuhan layanan kesehatan masyarakat sekaligus mengembangkan kapasitas yang dimiliki. Upaya tersebut diharapkan dapat memperkuat posisi BIH sebagai salah satu pilihan layanan kesehatan bagi masyarakat Indonesia sekaligus membuka peluang pengembangan medical tourism di Bali.
Pengembangan layanan tersebut juga diharapkan membuka ruang bagi dokter-dokter Indonesia yang selama ini berpraktik di luar negeri untuk kembali dan memberikan layanan di Indonesia. Dengan demikian, keberadaan BIH diharapkan turut memperkuat ekosistem kesehatan nasional. (nap/ssb)