E-Media DPR RI

Momen Ramadan, Komisi IX Turun Langsung ke Pasar Maricaya Makassar Pastikan Keamanan Bahan Pangan

Anggota Komisi IX DPR RI, Netty Prasetiyani Heryawan bersama Tim Kunjungan Kerja Reses Komisi XI DPR RI, saat Kunjungan Kerja Reses Komisi IX DPR RI ke Kota Makassar, Provinsi Sulawesi Selatan, Sabtu (21/2/2026). Foto: Puntho/Alma.
Anggota Komisi IX DPR RI, Netty Prasetiyani Heryawan bersama Tim Kunjungan Kerja Reses Komisi XI DPR RI, saat Kunjungan Kerja Reses Komisi IX DPR RI ke Kota Makassar, Provinsi Sulawesi Selatan, Sabtu (21/2/2026). Foto: Puntho/Alma.]


PARLEMENTARIA, Makassar
 – Aroma aneka bahan pangan segar mulai memenuhi sudut Pasar Maricaya pagi itu di Makassar. Terlebih di momen Ramadan, denyut aktivitas perdagangan kian terasa. Di tengah hiruk pikuk tersebut, Komisi IX DPR RI hadir langsung memastikan satu hal mendasar yaitu pangan yang dikonsumsi masyarakat harus aman.

Anggota Komisi IX DPR RI, Netty Prasetiyani Heryawan bersama Tim Kunjungan Kerja Reses Komisi XI DPR RI didampingi Balai Besar POM di Makassar turun langsung mengambil sampling berbagai produk yang banyak diburu oleh masyarakat selama bulan puasa dan jelang Hari Raya Lebaran.

Hasilnya menenangkan. Dari 32 sampel pangan yang diuji, seluruhnya dinyatakan negatif dari bahan berbahaya seperti boraks, formalin, rhodamin, maupun pewarna tekstil.

“Alhamdulillah, seluruhnya aman. Ini penting untuk membangun rasa tenang masyarakat dalam berbelanja kebutuhan Ramadan,” ujar Netty dalam wawancara dengan Parlementaria usai Kunjungan Kerja Reses Komisi IX DPR RI ke Kota Makassar, Provinsi Sulawesi Selatan, Sabtu (21/2/2026).

Menurut Legislator Fraksi PKS tersebut, Ramadan selalu identik dengan lonjakan konsumsi, terutama pangan olahan dan siap saji. Momentum inilah yang rawan disalahgunakan oknum produsen dengan menambahkan bahan berbahaya demi keuntungan cepat. Karena itu, pengawasan dilakukan secara masif.

Bagi Netty, keamanan pangan bukan hanya tugas pemerintah melalui Badan POM, tetapi juga tanggung jawab produsen dan konsumen. Publikasi hasil uji sampling, lanjutnya, tidak hanya melindungi masyarakat, tetapi juga memberi dampak ekonomi positif bagi pedagang pasar tradisional.

“Ketika hasilnya diumumkan aman, kepercayaan publik meningkat. Pedagang juga merasa terlindungi,” jelasnya.

Namun di balik kabar baik soal pangan, terdapat catatan serius pada sektor lain. Komisi IX menerima laporan bahwa temuan bahan berbahaya justru banyak ditemukan pada produk skincare. Dari tujuh kasus yang diperiksa, enam di antaranya positif mengandung bahan berbahaya seperti merkuri.

Netty pun mengingatkan masyarakat, khususnya perempuan, agar tidak tergiur hasil instan dengan risiko kesehatan jangka panjang. “Jangan asal putih, tetapi meninggalkan penyakit. Jangan asal murah, tetapi membahayakan diri sendiri,” tegasnya.

Isu lain yang turut mengemuka adalah kewajiban sertifikasi bagi pengawas makanan dan obat sesuai ketentuan KUHAP terbaru. Komisi IX berkomitmen mendorong percepatan sertifikasi agar para pengawas yang telah menjalankan tugasnya memiliki legitimasi hukum yang kuat.

“Di KUHAP baru, (pengawas) memang harus bersertifikat. Jadi, dalam masa persidangan ke depan kita akan memanggil mitra kerja, termasuk kita akan berkoordinasi dengan kementerian yang lainnya, mitra kerja dari komisi-komisi yang lain, untuk kita harus dorong ada akselerasi untuk sertifikasi bagi pengawas makanan, pengawas obat, dan seterusnya, agar mereka memiliki sertifikat dan tidak melanggar KUHAP,” pungkasnya. •pun/rdn