E-Media DPR RI

Endang Thohari Latih KWT dan Pemuda Tani Bogor Kembangkan Produk Olahan Pertanian

Anggota Komisi IV DPR RI, Endang Setyawati Thohari. Foto: Oji/Mahendra.
Anggota Komisi IV DPR RI, Endang Setyawati Thohari. Foto: Oji/Mahendra.


PARLEMENTARIA, Jakarta
 — Anggota Komisi IV DPR RI Endang Setyawati Thohari menggelar bimbingan teknis (Bimtek) bagi Kelompok Wanita Tani (KWT), pemuda tani, dan generasi muda di Kota Bogor pada Minggu (8/2/2026). Memimpin agenda ini, ia ingin mendorong pelaku pertanian lokal untuk meningkatkan nilai tambah produk melalui inovasi sekaligus pengolahan hasil tani, supaya tidak dijual dalam bentuk mentah saat panen raya.

Mengusung tema agenda berupa “Inovasi dan Hilirisasi Produk Pertanian oleh Para Petani dan Penyuluh Pertanian”, dirinya meyakini Kota Bogor mampu mengolah komoditas seperti talas, ubi kayu, dan boled menjadi berbagai produk turunan bernilai ekonomi lebih tinggi.

“Kita punya potensi luar biasa. Bogor identik dengan talas, ubi kayu, dan boled. Jangan hanya dijual mentah dengan harga murah saat panen raya. Harus diolah agar nilainya meningkat,” ujar Endang melalui rilis yang disampaikan kepada Parlementaria di Jakarta, Selasa (10/2/2026).

Lebih lanjut, menurutnya, hilirisasi produk pertanian menjadi salah satu langkah strategis untuk memperkuat kedaulatan pangan dan mengurangi ketergantungan terhadap bahan baku impor, termasuk gandum. Melalui pelatihan ini, dirinya berharap para peserta bisa menguasai rantai ekonomi pertanian dari hulu hingga hilir.

Pun, Politisi Fraksi Partai Gerindra itu  juga menargetkan produk olahan dari KWT dan pemuda tani bisa terserap ke dalam program Makan Bergizi Gratis (MBG) melalui Badan Gizi Nasional. Baginya, penguatan peran koperasi desa menjadi kunci agar perputaran ekonomi tetap berada di tingkat lokal. “Hasil tani harus bisa masuk ke program pemenuhan gizi anak untuk membantu pencegahan stunting. Perputaran ekonominya diupayakan tetap di desa melalui penguatan koperasi,” katanya.

Tidak hanya itu saja, dirinya turut menyoroti konversi lahan pertanian di Bogor yang dinilainya berlangsung masif sejak dekade 1980-an. Maka dari itu, ia meminta pemerintah setempat menyusun strategi besar dan konsisten dalam perlindungan lahan pertanian agar tidak terus beralih fungsi menjadi kawasan permukiman.

“Perlu grand strategy yang konsisten dalam menjaga lahan pertanian. Jangan sampai kebijakan berubah setiap pergantian kepala daerah,” ujarnya.

Turut hadir pula dalam agenda tersebut, Asisten Perekonomian dan Pembangunan Pemerintah Kota Bogor Hanafi mengapresiasi pelaksanaan Bimtek yang digelar di Kota Bogor. Ia menilai keterbatasan lahan di Kota Bogor menuntut petani untuk fokus pada penciptaan nilai tambah produk.

Mewakili Pemerintah Kota Bogor, ujarnya, akan mendorong penguatan kelembagaan KWT melalui koperasi agar mampu menjadi pemasok bahan baku dan produk olahan bagi sektor perhotelan dan program Makan Bergizi Gratis. “Kami dorong produk KWT masuk ke hotel dan pusat oleh-oleh. Pendampingan dari Dinas Pertanian juga akan terus dilakukan agar kemandirian pangan di Kota Bogor dapat terwujud,” tandas Hanafi. •um