Ketua Komisi VII DPR RI, Saleh Partaonan Daulay rapat Kunjungan Kerja Spesifik Komisi VII DPR RI dengan sejumlah stakeholder di Kawasan Gading Serpong, Kabupaten Tangerang, Banten, Kamis (29/01/2029). Foto: UC/Mahendra.
PARLEMENTARIA, Tangerang – Industri furnitur dinilai memiliki peran strategis dalam menopang sektor perumahan dan pembangunan kawasan hunian. Seiring pesatnya pembangunan perumahan dan apartemen, kebutuhan terhadap produk furnitur disebut akan terus meningkat, sehingga pelaku industri didorong untuk memperkuat kualitas dan daya saing produk.
Ketua Komisi VII DPR RI, Saleh Partaonan Daulay, menilai industri furnitur memiliki keterkaitan erat dengan pertumbuhan sektor properti, khususnya di wilayah yang berkembang seperti Tangerang Raya.
Hal tersebut disampaikannya usai rapat Kunjungan Kerja Spesifik Komisi VII DPR RI dengan sejumlah stakeholder, termasuk pelaku industri furnitur seperti PT Gema Graha Sarana dan PT Sejin Lestari Furnitur usai rapat di Kawasan Gading Serpong, Kabupaten Tangerang, Banten, Kamis (29/01/2029).
“Industri yang mereka kelola ini adalah industri yang memang betul-betul banyak dibutuhkan oleh masyarakat. Apalagi di daerah ini kan daerah yang berkembang, jadi ada banyak pembangunan-pembangunan perumahan dan sarana apartemen dan sebagainya. Tentu industri furnitur ini adalah sesuatu yang sangat melekat di dalam industri perumahan tersebut,” ujarnya kepada Parlementaria.
Dalam kesempatan tersebut, Saleh juga menekankan pentingnya peningkatan kualitas produk agar industri furnitur nasional mampu memenuhi kebutuhan pasar sekaligus memperkuat posisi di tengah persaingan.
“Karena itu tentu mereka juga harus bekerja keras bagaimana untuk meningkatkan kualitas dari produk yang mereka produksi,” lanjut politisi Fraksi PAN itu.
Ia mengapresiasi langkah yang telah dilakukan PT Gema Graha Sarana atau yang dikenal dengan jenama Vivere dalam mengembangkan usahanya. Menurutnya, arah pengembangan perusahaan dinilai berada pada jalur yang tepat.
“Kalau yang saya lihat, apa yang dilakukan oleh Vivere ini itu sudah on the track sebetulnya. Kita berharap bahwa kualitas produk mereka semakin baik di masa akan datang dan semakin banyak dipergunakan,” katanya.
Lebih lanjut, Saleh menyoroti tantangan persaingan dengan produk impor. Ia mendorong agar produk furnitur dalam negeri semakin menjadi pilihan utama masyarakat sebagai bagian dari penguatan industri nasional.
“Satu hal lagi, kita berharap mereka juga bisa bersaing dengan barang-barang impor. Tentu sebagai orang yang cinta nasionalisme, kita berharap bahwa barang-barang yang mereka produksi di Indonesia ini dipergunakan sebanyak mungkin oleh warga negara kita,” tuturnya.
Menurut Saleh, besarnya jumlah penduduk Indonesia menjadi potensi pasar yang sangat besar bagi industri furnitur nasional. Karena itu, ia mendorong agar produk dalam negeri mampu mengisi kebutuhan pasar domestik secara lebih optimal.
“Kita ini kan negara keempat terbesar di dunia, maka mestinya penggunaan barang-barang seperti ini juga semakin banyak. Karena itu tentu kita mendorong juga menghimbau kepada seluruh masyarakat untuk memperhatikan hal-hal seperti ini,” ucapnya.
Legislator Dapil Sumatera Utara II itu juga menyinggung dinamika persaingan di kanal penjualan, baik melalui toko fisik maupun platform daring. Perdagangan online dinilai membuka peluang sekaligus tantangan baru bagi industri dalam negeri. Saleh mengingatkan agar industri nasional tidak tertinggal di berbagai aspek, mulai dari kualitas produk hingga penguasaan kanal distribusi.
“Bagaimana persaingan dagang yang ada? Ya baik itu dagang yang langsung di toko maupun yang toko online. Karena toko online ini kan saya katakan tadi itu tidak ada batas ruang dan waktu, karena itu jangan sampai kita kalah,” kata Saleh.
Melalui kunjungan kerja spesifik tersebut, Komisi VII DPR RI mendorong agar pelaku industri furnitur terus memperkuat kualitas, memperluas penguasaan pasar, serta meningkatkan daya saing produk nasional. Upaya tersebut dinilai penting untuk memastikan industri furnitur mampu memanfaatkan potensi pasar domestik sekaligus menghadapi tekanan persaingan global.
Kinerja industri furnitur nasional juga tercermin dari capaian ekspor yang terus menunjukkan tren positif. Berdasarkan data Kementerian Perindustrian yang mengacu pada Badan Pusat Statistik (BPS), nilai ekspor furnitur Indonesia (HS 9401–9403) sepanjang Januari–November 2025 tercatat mencapai USD 1,6 miliar, sementara impor furnitur berada pada angka USD 0,76 miliar. Amerika Serikat menjadi negara tujuan ekspor terbesar dengan porsi 50,9 persen, disusul Jepang sebesar 7,6 persen dan Belanda 4,1 persen.
Ke depan, prospek industri furnitur nasional dinilai masih terbuka luas, seiring tren global yang pada 2026 diperkirakan tetap didominasi furnitur berbahan kayu sebesar 62 persen. Kayu masih menjadi material utama dalam industri furnitur dunia, meskipun penggunaan logam, plastik, dan material lainnya terus berkembang. Kondisi ini membuka peluang bagi industri furnitur berbasis sumber daya alam untuk terus memperkuat posisinya di pasar domestik maupun global. •uc/rdn