Wakil Ketua Komisi IV DPR RI, Abdul Kharis Almasyhari saat Kunjungan Kerja Spesifik ke kebun buah dan pembibitan di Kandeman, Kabupaten Batang, Provinsi Jawa Tengah, pada Kamis (29/01/2026). Foto: BLF/Mahendra.
PARLEMENTARIA, Batang — Wakil Ketua Komisi IV DPR RI Abdul Kharis Almasyhari menilai pengembangan hortikultura nasional tidak lagi cukup bertumpu pada peningkatan volume produksi semata, melainkan harus dibarengi dengan upaya standarisasi kualitas agar produk buah lokal mampu bersaing dan memberikan kepuasan kepada konsumen.
Hal tersebut disampaikannya saat Komisi IV DPR RI melaksanakan Kunjungan Kerja Spesifik ke kebun buah dan pembibitan di Kandeman, Kabupaten Batang, Provinsi Jawa Tengah, pada Kamis (29/01).
Menurut Abdul Kharis, kunjungan tersebut menjadi momentum penting untuk melihat secara langsung praktik pembibitan dan budidaya hortikultura yang berkembang di daerah, sekaligus mendengarkan aspirasi serta kendala yang dihadapi petani di lapangan.
“Hari ini Komisi IV DPR RI melakukan kunjungan kerja ke kebun buah dan pembibitan di Kandeman, Kabupaten Batang, Provinsi Jawa Tengah. Di sini terdapat pembibitan dan kebun buah kelengkeng, durian, srikaya, dan komoditas hortikultura lainnya,” ujar Abdul Kharis dalam keterangan tertulis kepada Parlementaria.
Dalam diskusi bersama pengelola kebun dan para petani, Abdul Kharis mengungkapkan bahwa Indonesia sejatinya memiliki produksi durian yang cukup tinggi. Namun demikian, persoalan utama yang masih dihadapi adalah kualitas buah yang belum seragam.
“Sesungguhnya produksi durian kita cukup tinggi. Permasalahannya bukan pada jumlah, tetapi pada kualitas yang belum seragam. Salah satu faktornya adalah karakter durian lokal yang sangat beragam,” jelas Politisi Fraksi PKS tersebut.
Meski demikian, Abdul Kharis menegaskan bahwa Komisi IV DPR RI tidak menghendaki penyeragaman yang menghilangkan kekhasan durian lokal. Namun, menurutnya, tetap diperlukan standar minimal kualitas, terutama dari sisi rasa, agar durian Indonesia memiliki daya saing yang lebih kuat.
“Kita tidak menginginkan semuanya harus diseragamkan. Tetapi paling tidak harus ada standar, khususnya tingkat kemanisannya. Jangan sampai konsumen mengonsumsi durian Indonesia kemudian kecewa karena tidak ada standar rasa, bentuk, dan kualitas lainnya,” tegasnya.
Ia menambahkan, hasil diskusi dan peninjauan lapangan tersebut diharapkan dapat ditindaklanjuti melalui penguatan sistem pembibitan nasional, terutama dalam penyediaan benih dan bibit hortikultura yang unggul dan berkelanjutan.
“Kita berharap ke depan akan tersedia benih hasil pembibitan yang baik, sehingga bibit-bibit hortikultura yang ditanam oleh masyarakat benar-benar berkualitas,” ujarnya.
Abdul Kharis juga menyoroti potensi kebun kelengkeng di kawasan Kandeman yang dinilainya sangat prospektif. Dengan hamparan kebun yang luas serta kondisi tanah yang sesuai, wilayah tersebut dinilai memiliki peluang besar untuk dikembangkan sebagai sentra hortikultura.
“Ini adalah kebun kelengkeng dengan hamparan yang cukup luas. Sebagian pohon sudah berbuah dan dipanen, sebagian lainnya masih dalam proses tumbuh. Saya kira tanah di sini sangat cocok untuk pengembangan hortikultura,” katanya.
Lebih lanjut, ia menekankan pentingnya menjadikan pemanfaatan lahan sebagai gerakan massal masyarakat. Menurutnya, optimalisasi lahan pekarangan dapat memberikan dampak nyata terhadap ketahanan pangan dan kesejahteraan keluarga petani.
“Tadi ada seorang petani yang menyampaikan bahwa ia hanya memiliki satu pohon alpukat, tetapi dalam satu kali panen per tahun bisa menghasilkan sekitar 630 kilogram alpukat. Hasil tersebut setara dengan kebutuhan beras keluarganya selama satu tahun,” ungkapnya.
Menurut Abdul Kharis, contoh tersebut menunjukkan bahwa satu pohon produktif mampu mensubstitusi kebutuhan pangan pokok. Jika dimiliki dalam jumlah lebih banyak dan dengan jenis buah yang beragam, maka manfaat ekonominya akan semakin besar.
“Pemanfaatan lahan yang dimiliki masyarakat ini menjadi salah satu kunci untuk meningkatkan hasil hortikultura sekaligus kesejahteraan petani,” pungkasnya. •blf/aha