Anggota Komisi XI DPR RI Rizki Sadig dalam Uji Kelayakan dan Kepatutan (fit and proper test) terhadap Calon Deputi Gubernur Bank Indonesia, Solikin M. Juhro, di Gedung Nusantara I, Senayan, Jakarta, Jumat (23/01/2024). Foto : Mahendra/Andri.
PARLEMENTARIA, Jakarta – Anggota Komisi XI DPR RI Rizki Sadig memberikan catatan kritis dalam Uji Kelayakan dan Kepatutan (fit and proper test) terhadap Calon Deputi Gubernur Bank Indonesia, Solikin M. Juhro. Rizki menilai bahwa dalam satu dekade terakhir, struktur keuangan Indonesia lebih banyak berada dalam posisi bertahan (defensif) menghadapi gejolak global, ketimbang agresif mendorong pertumbuhan ekonomi.
Politisi Fraksi PAN itu menyoroti bahwa kebijakan moneter BI sering kali tidak efektif saat diimplementasikan di sektor riil. Ia mencontohkan kebijakan penurunan suku bunga acuan BI yang ternyata tidak serta-merta diikuti oleh perbankan dalam menurunkan suku bunga kredit.
“Saya melihat 10 tahun terakhir ini posisi struktur keuangan kita lebih pada situasi bertahan dibandingkan untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi. Jadi tidak lebih dari bertahan terhadap situasi global. Saya kira pada kesempatan ini kami butuh pandangan yang tidak textbook, tapi ada pikiran-pikiran out of the box,” ujar Rizki di Gedung Nusantara I, DPR RI, Senayan, Jakarta, Jumat (23/1/2026).
Rizki juga menyinggung masalah ego sektoral dalam Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) yang kerap menghambat sinergi kebijakan. Ia meminta Solikin, jika terpilih nanti sebagai deputi gubernur, agar dapat menghadirkan terobosan. Khususnya, agar stabilitas moneter yang dijaga BI benar-benar berdampak pada sektor fiskal dan tidak hanya indah di atas kertas paparan.
“Banyak perbankan yang tidak menurunkan suku bunga itu. Jangan sampai di dalam KSSK pun juga ada ego sektoral sehingga masing-masing mengambil kebijakan yang tidak bisa diimplementasikan. Bagaimana caranya supaya kita tidak hanya sekedar bertahan, tapi bisa ekspansif meningkatkan pertumbuhan ekonomi?” tantangnya. •ipf, gal/rdn