Anggota DPR RI Fraksi PAN, Okta Kumala Dewi. Foto : Ist/Andri
PARLEMENTARIA, Jakarta – Sabtu siang di Tigaraksa terasa berbeda. Di tengah kesibukan warga menjalani rutinitas akhir pekan, sebuah ruang pertemuan dipenuhi oleh masyarakat yang datang dengan satu semangat yang sama: mendengarkan dan berdialog tentang masa depan bangsa. Di hadapan mereka, Anggota DPR RI Fraksi PAN, Okta Kumala Dewi, hadir menyapa langsung konstituennya dalam masa reses melalui kegiatan Sosialisasi Empat Pilar Kebangsaan.
Mengusung tema “Menguatkan Karakter Kebangsaan untuk Indonesia Emas 2045 dengan Semangat NKRI dan Pancasila”, kegiatan yang berlangsung pada Sabtu, 14 Desember 2025, ini menjadi ruang refleksi sekaligus penguatan nilai-nilai dasar kebangsaan di tengah derasnya perubahan zaman.
Sejak awal, suasana dialogis terasa kental. Warga dari berbagai latar belakang—tokoh masyarakat, pemuda, hingga ibu rumah tangga—terlibat aktif menyimak dan berdiskusi. Sosialisasi ini tidak sekadar menjadi forum penyampaian materi, tetapi juga ruang bertukar pandangan tentang tantangan kebangsaan yang dihadapi masyarakat hari ini.
Dalam paparannya, Okta menegaskan bahwa Pancasila, UUD 1945, NKRI, dan Bhinneka Tunggal Ika bukanlah konsep yang berdiri sendiri. Keempatnya adalah satu kesatuan yang saling menguatkan dan menjadi fondasi utama dalam menjaga keutuhan bangsa Indonesia.
“Empat Pilar Kebangsaan ini adalah penopang rumah besar kita bernama Indonesia. Jika salah satunya rapuh, maka kekuatan bangsa juga akan terganggu,” ujar Okta di hadapan peserta.
Ia menekankan, memasuki satu abad Indonesia merdeka pada 2045, tantangan yang dihadapi bangsa tidak hanya berkaitan dengan kemajuan ekonomi dan teknologi. Lebih dari itu, Indonesia membutuhkan generasi yang berkarakter kuat, berintegritas, dan memiliki rasa cinta tanah air yang mendalam.
Menurut Okta, visi Indonesia Emas 2045 hanya dapat terwujud jika pembangunan karakter berjalan seiring dengan pembangunan fisik. Kemajuan tanpa karakter, lanjutnya, justru berpotensi menimbulkan ketimpangan sosial dan melemahkan persatuan bangsa.
“Indonesia harus mampu berdiri sejajar dengan bangsa-bangsa besar dunia, tetapi tetap berpijak pada jati dirinya. Di sinilah pentingnya karakter kebangsaan sebagai jangkar moral dan sosial,” tutur legislator Komisi I DPR RI tersebut.
Dalam suasana yang hangat, Okta juga mengajak masyarakat untuk tidak berhenti pada pemahaman normatif, tetapi benar-benar mengamalkan nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan sehari-hari. Mulai dari menghargai perbedaan pendapat, menumbuhkan toleransi antarwarga, memperkuat semangat gotong royong, hingga menjaga keharmonisan sosial di tengah keberagaman.
Nilai-nilai tersebut, menurutnya, justru menemukan makna paling nyata ketika dipraktikkan di lingkungan terdekat—keluarga, sekolah, tempat kerja, dan komunitas masyarakat.
Tak kalah penting, Okta mengingatkan warga Tigaraksa agar bersikap bijak dalam menghadapi arus informasi yang begitu cepat. Di era digital, hoaks dan isu provokatif kerap menjadi pemicu perpecahan jika tidak disikapi dengan nalar kritis dan sikap dewasa.
“Masyarakat harus cerdas memilah informasi. Jangan mudah terprovokasi oleh isu yang mengadu domba dan melemahkan persatuan. NKRI ini terlalu berharga untuk dikorbankan oleh informasi yang tidak bertanggung jawab,” tegasnya.
Menutup kegiatan sosialisasi, Okta mengajak seluruh elemen masyarakat untuk bersama-sama menjaga persatuan dan menanamkan nilai-nilai Pancasila sebagai bekal membangun masa depan bangsa. Dari Tigaraksa, ia berharap lahir komitmen bersama untuk memperkuat karakter kebangsaan demi Indonesia yang maju, berdaulat, dan bermartabat.
Di masa reses ini, kehadiran Okta Kumala Dewi di tengah masyarakat tidak hanya menjadi wujud tanggung jawab konstitusional, tetapi juga pengingat bahwa pembangunan bangsa sejatinya dimulai dari penguatan nilai dan karakter warganya. Sebab, menuju Indonesia Emas 2045, fondasi ideologis dan persatuan nasional adalah kunci yang tak tergantikan. •ssb/rdn