Anggota Komisi IV DPR RI, Dadang M Naser setelah menghadiri Rapat Paripurna Pembukaan Masa Persidangan III Tahun Sidang 2025-2026 di Gedung Nusantara II, Selasa (13/01/2026). Foto: Clarissa/Karisma.
PARLEMENTARIA, Jakarta – Anggota Komisi IV DPR RI Dadang M. Naser mengapresiasi capaian pemerintah di bawah kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto yang telah mendeklarasikan swasembada beras. Ia menyebut capaian tersebut sebagai kebanggaan bersama, khususnya bagi Komisi IV DPR RI yang menjadi mitra kerja pemerintah di sektor pangan.
“Kita mengucapkan selamat kepada pemerintah di seluruh Prabowo yang sudah berswasembada beras,” ujar Dadang kepada Parlementaria di Kompleks Parlemen Senayan, Jakarta, Selasa (13/01/2026).
Menurutnya, deklarasi swasembada beras patut diapresiasi karena berkaitan langsung dengan ketahanan pangan nasional. Namun, ia menekankan bahwa capaian tersebut perlu dilanjutkan ke komoditas pangan lainnya.
“Ya itu deklaratifnya seperti itu, kami berbangga dari Komisi IV sebagai mitra kerja pemerintah yang sangat ada kaitannya dengan pangan. Nah, namun setelah swasembada pangan di bidang beras, kita ingin swasembada pangan di komoditas yang lainnya,” lanjutnya.
Dadang menilai, arah kebijakan pangan ke depan harus menekan ketergantungan impor dan memperkuat ekspor. Ia menegaskan pentingnya menyeimbangkan neraca perdagangan pangan agar devisa negara tidak terus tersedot oleh impor, khususnya pada komoditas karbohidrat non-beras.
“Kita harus banyak ekspornya ketimbang impornya, terutama di komoditas lain yang diperlukan. Tadi kalau dari bidang beras sudah, untuk karbohidrat lainnya harus ditekan jangan sampai harus ada impor lain yang terus menyedot devisa negara,” tegasnya.
Politisi dari Fraksi Partai Golkar itu mencontohkan masih tingginya impor bahan baku tepung terigu yang digunakan dalam berbagai produk pangan olahan. Ke depan, menurut Dadang, perlu ada diversifikasi berbasis komoditas lokal agar industri pangan tidak selalu bergantung pada bahan impor.
“Misalnya bagaimana produk berbahan baku dari tepung terigu, itu kan masih impor. Ke depan harus ada perpaduan dari produksi dalam negeri. Jadi seperti mie instan itu suatu saat tidak harus selalu berbasis terigu, tapi bisa berbasis tepung-tepung lain yang dihasilkan dari jenis karbohidrat yang ada di petani-petani kita,” jelasnya.
Lebih jauh, Dadang menegaskan bahwa kemandirian pangan tidak boleh berhenti pada beras sebagai makanan atau sumber karbohidrat pokok. Menurutnya, perluasan swasembada juga harus mencakup komoditas protein pada sektor peternakan, perikanan laut dan perikanan air tawar.
Legislator dari Dapil Jawa Barat II itu memberikan contoh pada sektor susu yang saat ini masih bergantung pada impor. Dadang mendorong adanya peningkatan kualitas dan ketersediaan bibit unggul agar produksi susu dalam negeri dapat memenuhi kebutuhan nasional.
“Itu juga suatu saat susu harus bisa ditekan, jangan sampai impor susunya, tapi bagaimana kualitas benih-benih atau bibit-bibit sapi atau hewan-hewan unggul yang harus disiapkan di negeri kita,” pungkasnya. •rr/aha