Anggota Komisi I DPR RI, Syahrul Aidi Maazat, dalam kunjungan kerja Komisi I DPR RI di Markas Komando Daerah Militer XX Tuanku Imam Bonjol, Padang, Sumatera Barat, Jum’at (06/03/2026). Foto: Man/Karisma.
PARLEMENTARIA, Padang — Anggota Komisi I DPR RI Syahrul Aidi Maazat menyoroti dinamika politik global yang berkembang pascakonflik tersebut, termasuk mengkritik terhadap keikutsertaan Indonesia di beberapa forum internasional yang sebelumnya digagas sebagai sarana menjaga stabilitas dunia.
Ia menyinggung wacana evaluasi keanggotaan Indonesia dalam sejumlah forum global yang dinilai tidak lagi efektif menjaga perdamaian. Hal tersebut disampaikan Syahrul dalam kunjungan kerja Komisi I DPR RI di Markas Komando Daerah Militer XX Tuanku Imam Bonjol, Padang, Sumatera Barat, Jum’at (06/03/2026).
“Ini perlu menjadi bahan diskusi pemerintah, apakah forum-forum internasional yang ada masih sesuai dengan amanat konstitusi kita atau tidak,” ujar Politisi Fraksi PKS ini.
Bagi DPR, kata Syahrul, situasi geopolitik global harus menjadi momentum bagi Indonesia untuk memperkuat kemandirian nasional, baik di bidang pertahanan, energi, maupun ekonomi.
“Kita harus belajar dari negara lain yang tetap kuat meski berada di bawah tekanan global. Kemandirian nasional itu kunci,” tutupnya.
Konflik geopolitik di Timur Tengah dinilai tidak hanya berdampak pada keamanan regional, tetapi juga dapat memengaruhi stabilitas ekonomi global, termasuk Indonesia. Karena itu, ia ingatkan Pemerintah untuk mengantisipasi dampak konflik Iran terhadap ketahanan energi nasional dan APBN.
Menurut Syahrul, salah satu potensi dampak serius dari konflik Iran adalah kemungkinan terganggunya jalur perdagangan energi global di Selat Hormuz.
Selat tersebut merupakan jalur strategis distribusi minyak dunia, yang jika terganggu dapat memicu lonjakan harga minyak global.
“Jika Selat Hormuz terganggu, ekspor-impor minyak dunia akan terdampak. Sementara Indonesia masih bergantung pada impor minyak,” ujar Syahrul.
Kondisi tersebut, kata dia, berpotensi memicu kenaikan harga energi domestik serta menambah beban subsidi dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).
“Kalau harga minyak naik tentu akan berdampak pada subsidi energi kita di APBN. Ini harus diantisipasi sejak sekarang,” katanya.
Syahrul mendorong pemerintah mempercepat langkah menuju kemandirian energi melalui eksplorasi sumber minyak domestik serta pengembangan energi alternatif. “Energi itu urat nadi kehidupan sebuah bangsa. Kalau kita mandiri energi, kita akan jauh lebih kuat menghadapi gejolak global,” jelasnya. •man/rdn