E-Media DPR RI

Romy Soekarno Dorong Penguatan Infrastruktur Digital dan AI di Politeknik STIA LAN Bandung

Anggota Komisi II DPR RI, Romy Soekarno dalam Kunjungan Kerja Spesifik ke Politeknik STIA LAN Bandung, Rabu (11/3/2026). Foto: Riska/Mahendra.
Anggota Komisi II DPR RI, Romy Soekarno dalam Kunjungan Kerja Spesifik ke Politeknik STIA LAN Bandung, Rabu (11/3/2026). Foto: Riska/Mahendra.


PARLEMENTARIA, Bandung
 – Anggota Komisi II DPR RI, Romy Soekarno, menyoroti keterbatasan sarana penunjang digitalisasi yang dinilai belum memadai untuk mendukung proses pembelajaran berbasis teknologi saat melakukan Kunjungan Kerja Spesifik ke Politeknik STIA LAN Bandung dalam rangka Pengawasan Penyelenggaraan Sekolah Kedinasan dan Penguatan Fungsi SDM Kementerian dalam Lingkup Pengawasan Komisi II DPR RI, Rabu (11/3/2026).

Sebelumnya dalam acara tersebut, Direktur Politeknik STIA LAN Bandung, Muhamad Nur Afandi, menyampaikan bahwa salah satu tantangan utama untuk menyelenggarakan pendidikan di Politeknik STIA LAN Bandung adalah keterbatasan fasilitas laboratorium komputer. Saat ini Politeknik STIA LAN Bandung hanya memiliki dua laboratorium komputer dengan total 60 unit komputer yang digunakan oleh sekitar 1.729 mahasiswa.

Menanggapi hal itu, Romy menilai kondisi tersebut perlu segera diperbaiki agar sejalan dengan agenda transformasi digital pemerintahan. Menurutnya, kemampuan teknologi menjadi kebutuhan penting bagi calon aparatur sipil negara.

“Saya melihat di sini ada catatan penting, bahwa hanya terdapat dua laboratorium komputer dengan 60 unit komputer untuk 1.729 mahasiswa. Kita sering bicara digitalisasi, tetapi fasilitas yang tersedia masih terbatas. Hal ini yang perlu kita benahi,” ujar Romy saat ditemui oleh Parlementaria.

Politisi dari Fraksi PDIP ini menegaskan bahwa penguatan infrastruktur digital menjadi kunci agar mahasiswa memahami perkembangan teknologi, termasuk perkembangan Artificial Intelligence (AI). “Indonesia masih perlu memperkuat penguasaan teknologi dasar terlebih dahulu sebelum kita berbicara lebih jauh mengenai pemanfaatan AI dalam sistem pemerintahan,” tegasnya.

Lebih lanjut, Legislator dari Daerah Pemilihan Jawa Timur VI ini menekankan pentingnya kemandirian teknologi nasional, khususnya dalam pengembangan kecerdasan buatan. Menurutnya, Indonesia tidak boleh hanya menjadi pasar teknologi, tetapi harus mampu menjadi pelaku utama dalam pengembangan teknologi digital.

“Kita jangan hanya menjadi market, tetapi harus menjadi leader. Indonesia harus memiliki AI sendiri yang datanya berasal dari pengetahuan dan kekayaan bangsa kita sendiri. Dengan begitu, mahasiswa bisa belajar dan bertanya pada AI yang berbasis pada pengetahuan Indonesia,” pungkas Romy. •rsa/um