Anggota Komisi I DPR RI, dari Fraksi PAN Okta Kumala Dewi. Foto: Arief/Karisma.
PARLEMENTARIA, Jakarta — Anggota Komisi I DPR RI dari Fraksi PAN Okta Kumala Dewi menyampaikan keprihatinannya atas memanasnya situasi geopolitik di Timur Tengah yang berujung pada penutupan Selat Hormuz, salah satu jalur distribusi energi paling strategis di dunia. Menurutnya, dinamika tersebut berpotensi memberikan dampak signifikan terhadap harga minyak dunia serta stabilitas ekonomi global, termasuk bagi Indonesia yang masih bergantung pada impor energi.
Selat Hormuz selama ini menjadi jalur utama distribusi sekitar 20 persen pasokan minyak dunia. Gangguan terhadap jalur pelayaran tersebut dinilai berisiko mendorong kenaikan harga minyak global akibat terganggunya rantai pasok energi internasional.
“Kenaikan harga minyak dunia tentu akan berdampak pada negara pengimpor minyak seperti Indonesia. Selain itu, terganggunya jalur pelayaran di kawasan tersebut juga berpotensi memengaruhi arus ekspor dan impor Indonesia, khususnya yang berkaitan dengan kawasan Timur Tengah dan sekitarnya,” ujar Okta kepada Parlementaria, Sabtu (7/3/2026).
Ia menilai pemerintah perlu segera mengambil langkah antisipatif untuk meminimalkan dampak yang mungkin timbul. Salah satu langkah yang dinilai penting adalah mencari alternatif sumber pasokan minyak di luar kawasan Timur Tengah.
Meski pemerintah telah menyampaikan bahwa stok minyak nasional dalam kondisi aman untuk sekitar 20 hari ke depan, Okta menegaskan bahwa langkah cepat dan strategis tetap diperlukan guna menjaga ketahanan energi nasional.
“Kita tidak boleh menunggu hingga situasi memburuk. Diversifikasi sumber pasokan minyak menjadi keharusan agar ketahanan energi nasional tetap terjaga dan tidak menimbulkan dampak lanjutan pada sektor lain,” tegasnya.
Lebih lanjut, Okta mengingatkan bahwa harga minyak dunia merupakan faktor fundamental yang sangat memengaruhi perekonomian nasional. Apabila harga energi global terus meningkat, tekanan terhadap harga bahan bakar minyak (BBM) di dalam negeri juga berpotensi semakin besar.
“Apabila harga BBM naik, maka potensi kenaikan harga barang dan jasa lainnya juga bisa terjadi. Hal ini dapat memicu inflasi dan menekan daya beli masyarakat. Karena itu, stabilitas harga energi harus menjadi prioritas,” jelasnya.
Selain itu, ia menekankan pentingnya koordinasi lintas kementerian dan lembaga dalam merespons situasi global tersebut. Menurutnya, seluruh pemangku kepentingan harus bergerak dalam satu komando kebijakan agar langkah mitigasi dapat berjalan efektif dan terukur.
“Koordinasi yang solid dan respons cepat antar kementerian dan lembaga sangat diperlukan untuk memastikan pasokan energi aman, harga tetap terkendali, serta stabilitas ekonomi nasional tetap terjaga,” ujarnya.
Di akhir pernyataannya, Okta mengimbau masyarakat untuk tetap tenang dan tidak terpancing spekulasi di tengah dinamika global yang berkembang saat ini. “Saya mengajak masyarakat untuk tetap tenang dan tidak terpancing spekulasi. Saya percaya pemerintahan Presiden Prabowo akan mengambil langkah-langkah strategis guna menjaga stabilitas ekonomi dan ketahanan energi nasional agar dampak yang dikhawatirkan tidak terjadi,” tutupnya. •ssb/aha