E-Media DPR RI

Achmad Tekankan Aspek Lingkungan, CSR, dan Prioritas Tenaga Kerja Lokal di Proyek Hilirisasi

Anggota Komisi VI DPR RI, Achmad, saat Kunjungan Kerja Spesifik Komisi VI DPR RI bersama Badan Pengawasan BUMN, PT Danantara Asset Management, PT Aneka Tambang Tbk (Antam), PT Indonesia Asahan Aluminium (Inalum), dan PT Borneo Alumina Indonesia, di Pontianak, Kamis (12/2/2026). Foto: qq/Karisma.
Anggota Komisi VI DPR RI, Achmad, saat Kunjungan Kerja Spesifik Komisi VI DPR RI bersama Badan Pengawasan BUMN, PT Danantara Asset Management, PT Aneka Tambang Tbk (Antam), PT Indonesia Asahan Aluminium (Inalum), dan PT Borneo Alumina Indonesia, di Pontianak, Kamis (12/2/2026). Foto: qq/Karisma.

 

PARLEMENTARIA, Pontianak — Anggota Komisi VI DPR RI, Achmad, menegaskan pentingnya perhatian serius terhadap aspek lingkungan dalam pengembangan industri hilirisasi pertambangan di Kalimantan Barat. Hal itu disampaikannya dalam pertemuan Tim Kunjungan Kerja Spesifik Komisi VI DPR RI bersama Badan Pengawasan BUMN, PT Danantara Asset Mangement, PT Aneka Tambang Tbk (Antam), PT Indonesia Asahan Aluminium (Inalum), dan PT Borneo Alumina Indonesia, di Pontianak, Kamis (12/2/2026).

Achmad menegaskan, pihaknya tidak semata-mata berbicara soal keuntungan dan investasi, melainkan dampak jangka panjang industri terhadap lingkungan dan masyarakat sekitar. “Kami tidak bicara soal untung atau investasi. Kami hanya mengingatkan faktor lingkungan. Industri pasti memengaruhi lingkungan, apalagi terkait limbah dan dampak lainnya. Kami berharap perusahaan menyisihkan sebagian keuntungannya untuk pembenahan lingkungan. Ini sangat penting agar pembangunan berkelanjutan,” ujarnya.

Ia mencontohkan pengalaman di Dabo Singkep, Riau, yang menurutnya menjadi pelajaran berharga. Wilayah yang dahulu dikenal sebagai penghasil timah besar itu kini meninggalkan lubang-lubang bekas tambang yang tergenang air dan menimbulkan persoalan kesehatan bagi masyarakat.

“Jangan sampai setelah produksi habis, yang tertinggal hanya penderitaan masyarakat. Lubang-lubang tambang menjadi danau, air tergenang, bahkan menjadi sarang penyakit seperti malaria. Ini harus menjadi perhatian serius,” tegasnya.

Selain isu lingkungan, Achmad juga menyoroti pelaksanaan tanggung jawab sosial perusahaan (CSR). Ia mengapresiasi paparan CSR dari PT Borneo Alumina Indonesia dan Antam, namun menilai Inalum belum terlihat optimal dalam memaparkan program tanggung jawab sosialnya.

“Kami berharap pada pertemuan berikutnya, CSR Inalum juga bisa terlihat jelas. Kehadiran perusahaan harus dirasakan manfaatnya oleh masyarakat sekitar,” katanya.

Tak kalah penting, Achmad menekankan prioritas penggunaan tenaga kerja lokal dalam proyek hilirisasi. Ia berharap masyarakat setempat mendapat kesempatan luas, mulai dari level teknis hingga manajerial, disertai proses alih teknologi secara bertahap.

“Kalau bisa, dari tingkat paling tinggi sampai ke bawah diisi putra-putra daerah sendiri. Selain padat modal, kami juga berharap industri ini padat karya. Dengan begitu ada tanggung jawab moral dan rasa memiliki dari masyarakat,” pungkasnya. •qq/aha