Anggota Komisi IV DPR RI, Firman Soebagyo dalam Kunjungan Kerja Komisi IV DPR RI di Gudang Bulog Trihajo, Wates, Kabupaten Kulon Progo, DI Yogyakarta, Kamis (12/2/2026). Foto: UM/Mahendra.
PARLEMENTARIA, Kulon Progo – Anggota Komisi IV DPR RI Firman Soebagyo menyatakan stok beras nasional dalam kondisi aman, khususnya menjelang momentum Ramadan dan Idulfitri. Hal itu ia sampaikan setelah melakukan inspeksi mendadak (sidak) Komisi IV ke gudang Perum Bulog di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY).
Meski demikian, terangnya, Komisi IV DPR mengingatkan pemerintah untuk mengantisipasi potensi anomali cuaca yang dapat memicu banjir, mengganggu distribusi, dan meningkatkan risiko gagal panen.
Dalam kunjungan lapangan ke gudang Bulog di wilayah DIY, ia mengatakan kapasitas penyimpanan terpantau terisi dan pasokan relatif terjaga. Pun, ia menyebut hasil peninjauan selaras dengan laporan pemerintah terkait posisi cadangan beras nasional.
“Kami dari Komisi IV memberikan apresiasi kepada pemerintah. Sesuai laporan Menteri Pertanian dan Bulog, stok beras nasional saat ini mencapai sekitar 3,32 juta ton. Ini merupakan angka tertinggi dalam sejarah dan menjadi modal penting menghadapi kebutuhan menjelang Ramadan dan Lebaran,” kata Firman kepada Parlementaria usai agenda Kunjungan Kerja Komisi IV DPR RI di Gudang Bulog Trihajo, Wates, Kabupaten Kulon Progo, DI Yogyakarta, Kamis (12/2/2026).
Sebagai informasi, wilayah DIY yang ditopang sentra pertanian seperti Kulon Progo, Sleman, Bantul, dan Gunungkidul memiliki pasokan kuat, baik tingkat regional dan nasional. Terbukti, data resmi pemerintah mencatat posisi Cadangan Beras Pemerintah (CBP) yang dikelola Bulog sampai akhir 2025 bahkan diperkirakan mencapai lebih dari 3 juta ton, tingkat tertinggi sejak era kemerdekaan Indonesia tanpa kontribusi impor besar-besaran.
Estimasi stok beras nasional secara keseluruhan mencapai sekitar 12,5 juta ton, cukup untuk memenuhi kebutuhan konsumsi hingga beberapa bulan ke depan. Maka dari itu, ia menekankan perlunya langkah mitigasi risiko cuaca ekstrem dalam beberapa pekan ke depan. Sebab, jika tidak ditangani, potensi hujan lebat dan banjir bisa berdampak langsung pada jalur distribusi pangan dan akses transportasi.
“Yang perlu diantisipasi adalah kemungkinan anomali cuaca menjelang Ramadan. Kalau terjadi banjir dan akses jalan terganggu, distribusi akan terhambat dan itu bisa memengaruhi harga di lapangan,” ujarnya.
Selain distribusi pangan, Politisi Fraksi Partai Golkar itu juga menyoroti dampak lanjutan terhadap produksi. Sebab, berdasarkan pengamatannya, banjir yang terjadi di wilayah pertanian berisiko menyebabkan gagal panen dan penurunan produksi, sehingga dapat menyulitkan penyerapan gabah oleh Bulog pada periode pasca-Lebaran.
Mengakhiri pernyataan, dari hasil sidak di DIY ini, ia menilai tidak ditemukan persoalan krusial terkait ketersediaan stok. Meski begitu, dirinya menegaskan catatan kewaspadaan terhadap faktor cuaca dan distribusi akan menjadi perhatian Komisi IV DPR RI dalam pembahasan kebijakan pangan nasional ke depan, khususnya untuk memastikan pasokan tetap aman hingga Idulfitri. •um/rdn