E-Media DPR RI

Memori Bangsa yang Terekam dalam Istana Kepresidenan Harus Terawat Melalui Dukungan Anggaran

Anggota Komisi XIII DPR RI, Marinus Gea, usai melakukan Kunjungan Kerja Spesifik (Kunspek) ke Istana Kepresidenan Yogyakarta dan meninjau museum di kawasan Gedung Agung, Yogyakarta, DIY, Selasa (11/2/2026). Foto: Ndn/Karisma.
Anggota Komisi XIII DPR RI, Marinus Gea, usai melakukan Kunjungan Kerja Spesifik (Kunspek) ke Istana Kepresidenan Yogyakarta dan meninjau museum di kawasan Gedung Agung, Yogyakarta, DIY, Selasa (11/2/2026). Foto: Ndn/Karisma.


PARLEMENTARIA, Yogyakarta 
– Anggota Komisi XIII DPR RI, Marinus Gea, menegaskan pentingnya peran Istana Kepresidenan sebagai sumber sejarah hidup yang tak boleh dilupakan oleh generasi penerus. Hal tersebut diungkapkannya usai melakukan Kunjungan Kerja Spesifik (Kunspek) ke Istana Kepresidenan Yogyakarta dan meninjau museum di kawasan Gedung Agung, Yogyakarta, DIY, Selasa (11/2/2026).

​Menurut Marinus, kompleks istana kepresidenan, baik yang berada di Yogyakarta, Jakarta, maupun Cipanas Bogor, memiliki narasi panjang tentang perjalanan bangsa yang harus terus digaungkan. Ia menilai pemerintah perlu memastikan bahwa kekayaan sejarah yang tersimpan di balik tembok istana dapat diakses dan dipahami dengan baik oleh kaum muda.

Legislator Fraksi PDI-Perjuangan ini bahkan membagikan momen menarik saat ia mendampingi seorang anak muda berkeliling museum istana. Ia melihat adanya reaksi takjub dari generasi muda saat melihat langsung bukti-bukti otentik perjuangan bangsa yang selama ini mungkin hanya mereka baca di buku teks.

“Tadi saya bersama anak muda, dia kaget melihat apa yang sebenarnya terjadi dalam perjalanan Indonesia ini. Padahal di dalam museum itu, cerita tentang perkembangan Indonesia mulai dari zaman penjajahan hingga kemerdekaan terpampang jelas,” ujar Marinus.

Menyadari besarnya nilai edukasi tersebut, Marinus menekankan bahwa upaya pelestarian dan “pengungkapan” sejarah memerlukan dukungan anggaran yang serius. Ia mengingatkan bahwa merawat memori bangsa tidak bisa dilakukan dengan setengah hati, terutama menyangkut perawatan aset dan kurasi museum.

“Kita tidak boleh mengingkari, saat kita mau mengungkap sejarah harus ada alokasi dana yang cukup untuk itu. Terutama bagaimana sejarah ini tetap bisa diketahui oleh generasi anak-anak kita berikutnya,” tegasnya.

Menutup keterangannya, Marinus memastikan komitmen Komisi XIII DPR RI untuk memberikan dukungan penuh, termasuk dari sisi penganggaran, agar Istana Kepresidenan dapat terus terawat dan berfungsi optimal sebagai wahana edukasi kebangsaan. •ndn/rdn