Ketua Komisi VII DPR RI, Saleh Partaonan Daulay, saat kunjungan spesifik di Batam Tourism Polytechnic, Kota Batam, Kepulauan Riau, Selasa (10/2/2026). Foto: Dip/Karisma.
PARLEMENTARIA, Batam – Ketua Komisi VII DPR RI Saleh Partaonan Daulay menilai Batam Tourism Polytechnic memiliki kualitas pendidikan yang sangat baik dan layak dijadikan rujukan nasional pendidikan vokasi pariwisata. Sebagai mitra Komisi VII DPR, Kementerian Pariwisata mengelola anggaran sekitar Rp1,4 triliun, dengan Rp600 miliar di antaranya dialokasikan untuk pengelolaan politeknik pariwisata.
“Hari ini kami sengaja datang ke Batam untuk bertemu dan berdiskusi secara serius dengan Politeknik Pariwisata Batam. Kami ingin mengetahui secara langsung apa saja kegiatan yang mereka lakukan, bagaimana pengelolaan kampus, serta sistem pendidikan yang diterapkan,” ucap Saleh saat ditemui oleh Parlementaria di Batam Tourism Polytechnic, Kota Batam, Kepulauan Riau, Selasa (10/2/2026).
Menurutnya, hasil diskusi menunjukkan bahwa politeknik ini memiliki tata kelola pendidikan yang baik, mulai dari proses seleksi mahasiswa, kegiatan akademik, hingga penempatan mahasiswa untuk magang. Bahkan, jelasnya, sebagian besar mahasiswa mendapatkan kesempatan magang di luar negeri.
“Yang menarik, alumni politeknik ini rata-rata sangat diminati dan hampir semuanya sudah bekerja. Ini menunjukkan bahwa kualitas lulusannya memang baik dan sesuai dengan kebutuhan industri,” tutur politisi Fraksi PAN tersebut.
Ia juga mengapresiasi fasilitas pendukung pembelajaran yang tersedia sangat lengkap dan representatif. Mulai dari laboratorium barista, tata kelola kamar hotel, dapur, hingga laboratorium pendukung lainnya yang relevan dengan dunia pariwisata. “Tadi kami sudah berkeliling kampus dan melihat langsung fasilitasnya. Kalau saya menilai, kualitasnya A. Sangat bagus dan bisa dijadikan sebagai bahan studi banding bagi sekolah-sekolah pariwisata yang dikelola oleh pemerintah,” ujarnya.
Lebih lanjut, ia mendorong adanya kerja sama antara Batam Tourism Polytechnic dengan politeknik pariwisata milik pemerintah. Kerja sama tersebut diketahui dapat dilakukan melalui pertukaran dosen, pengembangan kurikulum, hingga kolaborasi program magang bagi mahasiswa.
“Ke depan, tentu bisa dipikirkan kerja sama seperti tukar-menukar dosen, kurikulum, maupun kerja sama magang dan pengelolaan kampus. Ini penting agar kualitas pendidikan vokasi pariwisata semakin merata,” jelasnya.
Terakhir, ia berharap politeknik ini dapat terus berkembang dan semakin besar di masa mendatang. Kunjungannya kali ini sekaligus agar mendapatkan perhatian lebih dari pemerintah pusat.
“Harapan kami, jika ada hal-hal yang bisa dikerjasamakan secara langsung dengan pemerintah pusat, termasuk dukungan pendanaan atau pemanfaatan dana CSR dari perusahaan-perusahaan besar, maka Batam Tourism Polytechnic yang sudah memiliki kualitas baik ini bisa menjadi prioritas,” tutup Saleh. •DIP/um