E-Media DPR RI

Verrel Bramasta: Pemanfaatan AI Dapat Tekan Food Loss dan Food Waste Nasional

Anggota BKSAP DPR RI Verrel Bramasta saat FGD bertema “Menganalisa Peluang dan Tantangan Implementasi AI dalam mendukung Ketahanan Pangan Berkelanjutan di Indonesia” di IPB University, Bogor, Jawa Barat, Selasa (3/2/2026). Foto : Rdn/Andri.
Anggota BKSAP DPR RI Verrel Bramasta saat FGD bertema “Menganalisa Peluang dan Tantangan Implementasi AI dalam mendukung Ketahanan Pangan Berkelanjutan di Indonesia” di IPB University, Bogor, Jawa Barat, Selasa (3/2/2026). Foto : Rdn/Andri.


PARLEMENTARIA, Bogor 
– Anggota Badan Kerja Sama Antar-Parlemen (BKSAP) DPR RI Verrel Bramasta menilai pemanfaatan kecerdasan artifisial atau Artificial Intelligence (AI) berpeluang besar memperkuat ketahanan pangan nasional, khususnya dalam menekan persoalan food loss dan food waste yang masih tinggi di Indonesia.

Hal tersebut disampaikan Verrel saat mengikuti Kunjungan Kerja BKSAP DPR RI dalam rangka Focus Group Discussion (FGD) bertema “Menganalisa Peluang dan Tantangan Implementasi Artificial Intelligence (AI) dalam mendukung Ketahanan Pangan Berkelanjutan di Indonesia” di IPB University, Bogor, Jawa Barat, Selasa (3/2/2026).

Dalam kesempatan itu, Verrel menekankan bahwa tantangan utama ketahanan pangan saat ini bukan semata pada aspek produksi, melainkan pada tingginya food loss dan food waste. Mengacu pada data Badan Pangan Nasional (Bapanas), ia menyebut sekitar 31 persen pangan di Indonesia terbuang dengan jumlah mencapai 23–48 juta kilogram per tahun.

“Kalau kita bicara ketahanan pangan dan inovasi, saya rasa kita tidak perlu khawatir dari sisi produksi karena inovasinya sudah banyak. Namun yang perlu kita diskusikan hari ini adalah food loss dan food waste,” tegas Politisi Fraksi PAN ini.

Menurut Verrel, persoalan food loss tidak hanya terjadi di hulu, tetapi juga pada rantai distribusi dan pascapanen. “Masalahnya bukan hanya di produksi, tapi juga di investasi distribusi, logistik, penyimpanan, hingga manajemen pascapanen. Di sinilah AI dengan sistem terintegrasi bisa sangat membantu,” jelasnya.

Ia pun mempertanyakan sejauh mana IPB telah mengembangkan inovasi AI yang terintegrasi dalam rantai biaya pangan nasional untuk menekan kerugian tersebut. Verrel mencontohkan praktik di sejumlah negara seperti Nigeria, Kenya, dan Inggris yang telah memanfaatkan AI untuk membantu pelaku pangan lokal serta mengelola food waste di kawasan perkotaan.

“Di Inggris, khususnya di London, pemanfaatan AI untuk manajemen food waste mampu menurunkan limbah pangan hingga 87 persen. Sistemnya mampu mendeteksi makanan yang mendekati tanggal kedaluwarsa sehingga bisa segera dilakukan penyesuaian harga atau diskon,” ungkapnya.

Menutup pernyataannya, Verrel mendorong pengembangan AI-driven logistics dan coaching management yang terhubung dengan data produksi serta permintaan pasar lokal. “Kami mendorong agar ke depan ada pengembangan logistik berbasis AI dan manajemen yang terhubung langsung dengan data produksi dan permintaan pasar, sehingga food loss dan food waste dapat ditekan secara terukur,” pungkasnya. •rdn