Anggota Komisi X DPR RI, Puti Guntur Soekarno dalam Rapat Panja Pelestarian Cagar Budaya di ruang rapat Komisi X DPR RI, Gedung DPR, selasa (3/2/2026). Foto: Lisa/Mahendra.
PARLEMENTARIA, Jakarta – Anggota Komisi X DPR RI Puti Guntur Soekarno mengatakan banyak cagar budaya di Bengkulu memerlukan perlindungan aktif pemerintah atau lembaga terkait di daerah tersebut. Menurutnya peninggalan masa lampau di daerah harus dijaga dan dirawat agar tidak mengalami kerusakan atau punah.
“Salah satunya rumah pengasingan Bung Karno apabila dilakukan renovasi jangan sampai menghilangkan keaslian dari tempat tersebut. Kemudian buku-buku peninggalan Bung Karno juga harus dijaga agar tidak lapuk,” tuturnya dalam Rapat Panja Pelestarian Cagar Budaya di ruang rapat Komisi X DPR RI, Gedung DPR, selasa (3/2/2026).
Dalam pandangannya, peninggalan ini adalah jejak sejarah penting dari Bengkulu di masa lampau. Masyarakat yang tinggal di kawasan cagar budaya juga diimbau untuk ikut menjaga situs-situs bersejarah ini, karena pelestarian tersebut akan berdampak positif bagi daerah.
Berbagai temuan dari zaman ke zaman terus menguatkan nilai sejarah yang melekat pada daerah cagar budaya, termasuk jejak dari masa kolonial hingga masa kemerdekaan. Kehidupan masa lampau ini menjadi bukti sejarah otentik yang tidak terbantahkan.
“Rumah ibu Fatmawati kondisi juga cukup memprihatinkan karena setiap tahun yang ditampilkan tidak berkembang hanya itu saja. Intinya masyarakat itu harus paham bahwa Bengkulu sebagai kota sang penjahit bendera merah putih ibu Fatmawati dilahirkan dan pergerakan kemerdekaan dari bung Karno dan tentunya banyak sekali peninggalan-peninggalan yang lainnya termasuk Benteng Marlborough,” pungkasnya.
Di sisi lain, Bengkulu dengan kekayaan sejarah dan budaya yang dimilikinya, berpotensi menjadi destinasi wisata sejarah yang menarik, jika pengelolaan dan pelestarian cagar budaya terus dilakukan dengan baik. •tn/aha