Anggota Komisi I DPR RI, Syamsu Rizal saat Rapat Kerja Komisi I bersama Menkomdigi, Senayan, Jakarta, Senin (26/1/2026). Foto: Arief/Mahendra.
PARLEMENTARIA, Jakarta – Pengendalian kecerdasan buatan (AI) menjadi perhatian serius Komisi I DPR RI dalam menghadapi perkembangan ruang digital nasional. Legislator menilai pemanfaatan AI harus diarahkan agar tetap mendorong kreativitas, namun tidak mengabaikan aspek keamanan dan kepastian informasi di ruang publik.
Anggota Komisi I DPR RI, Syamsu Rizal, menekankan perlunya kerangka kebijakan yang jelas agar penggunaan AI tidak menimbulkan dampak negatif, khususnya terkait penyebaran konten manipulatif dan potensi gangguan terhadap ketahanan nasional. Oleh karena itu, pengaturan AI tidak boleh bersifat represif melainkan terukur dan adaptif.
“Yang kami dorong itu bukan membatasi kreativitas, tetapi memastikan penggunaan AI berjalan ideal, aman, dan bertanggung jawab. Sehingga masyarakat tetap terlindungi,” ujar Syamsu Rizal saat ditemui di sela-sela Raker Komisi I bersama Menkomdigi, Senayan, Jakarta, Senin (26/1/2026).
Legislator dari Fraksi PKB ini menjelaskan, salah satu langkah konkret yang didorong adalah penyusunan roadmap nasional pengelolaan AI. Roadmap tersebut diharapkan menjadi panduan lintas sektor, baik bagi pemerintah, industri teknologi, maupun masyarakat dalam memanfaatkan AI secara etis dan transparan.
Selain itu, Komisi I juga menaruh perhatian pada maraknya konten berbasis AI yang sulit dibedakan dari konten asli. Kondisi ini dinilai berpotensi menimbulkan disinformasi jika tidak diantisipasi sejak dini melalui kebijakan teknologi yang tepat.
“Kami minta setiap produk atau konten berbasis AI yang beredar di ruang publik memiliki penanda atau watermark, supaya masyarakat tahu mana konten AI dan mana yang bukan,” ujarnya.
Menurutnya, keberadaan watermark menjadi instrumen penting untuk menjaga kepercayaan publik sekaligus meningkatkan literasi digital. Dengan adanya penanda yang jelas, masyarakat dapat lebih kritis dalam menerima dan menyebarkan informasi.
“Kalau semua konten AI bisa dikenali dengan jelas, maka ruang digital kita akan lebih sehat dan aman, tanpa harus mematikan inovasi teknologi itu sendiri,” pungkasnya. •ujm/aha