Wakil Ketua Komisi V DPR RI, Andi Iwan Darmawan Aras saat kunjungan kerja spesifik Komisi V DPR RI ke Waduk Jatiluhur, Purwakarta, Jawa Barat, Kamis (22/1/2026). Foto: Mario/Mahendra.
PARLEMENTARIA, Purwakarta – Wakil Ketua Komisi V DPR RI Andi Iwan Darmawan Aras menegaskan pentingnya kemantapan bangunan Bendungan Ir. H. Djuanda atau Waduk Jatiluhur dalam rangka mitigasi bencana. Hal tersebut disampaikannya saat kunjungan kerja spesifik Komisi V DPR RI ke Waduk Jatiluhur, Purwakarta, Jawa Barat, Kamis (22/1/2026).
Menurut Andi Iwan, kunjungan ini bertujuan memastikan masyarakat yang tinggal di sekitar bendungan dapat merasa aman dan nyaman, mengingat bendungan dengan usia operasional yang panjang.
“Kunjungan ke Bendungan Jatiluhur ini salah satunya untuk melihat kemantapan bangunan dalam rangka mitigasi bencana yang tentu tidak kita harapkan. Yang terpenting adalah bagaimana masyarakat di sekitar bendungan ini bisa merasa aman dan nyaman untuk tetap bertempat tinggal,” ujarnya kepada Parlementaria usai pertemuan.
Ia menjelaskan bahwa usia teknis bendungan pada umumnya dapat mencapai 50 hingga 100 tahun, namun dengan catatan harus dilakukan pemeriksaan rutin, perawatan, dan pemeliharaan secara berkelanjutan, terutama pada area-area yang memiliki risiko tinggi.
“Dengan umur bendungan yang sudah memasuki setengah abad lebih, kami berharap selalu ada pemeriksaan rutin dan maintenance. Ini untuk menjamin keselamatan masyarakat, karena wilayah dan kota yang terdampak akan sangat luas jika terjadi hal yang tidak diinginkan,” tegas Politisi Fraksi Partai Gerindra ini.
Legislator Dapil Sulawesi Selatan II ini juga menekankan pentingnya sinergi antarinstansi, mulai dari Kementerian PUPR, PT Pengelola Jasa Tirta II, BMKG sebagai penyedia sistem peringatan dini, hingga pemerintah daerah. Menurutnya, koordinasi ini sangat penting agar langkah antisipasi dapat segera dilakukan apabila muncul potensi bencana.
Selain itu, ia mengingatkan bahwa pengelolaan Bendungan Jatiluhur tidak bisa dilakukan secara parsial, mengingat posisinya berada di wilayah hilir dan terkoneksi dengan tiga bendungan lainnya di daerah hulu.
“Pemeliharaan harus terintegrasi dari hulu hingga hilir. Tidak hanya bendungannya saja, tetapi juga wilayah hulu, terutama kawasan hutan, melalui rehabilitasi hutan dan lahan,” jelasnya.
Langkah tersebut dinilai penting untuk mengendalikan sedimentasi yang selama ini cukup besar, sekaligus mencegah masuknya material kayu berukuran besar yang berpotensi merusak bendungan dan menimbulkan dampak fatal di wilayah hilir.
Terkait fungsi pelayanan air, ia menyampaikan bahwa Waduk Jatiluhur memiliki peran strategis sebagai sumber air baku. Berdasarkan informasi yang diterima, pasokan air dari Jatiluhur mampu menopang hingga sekitar 80 persen kebutuhan air Jakarta.
“Dengan potensi sumber daya air sekitar 2,5 miliar meter kubik, Waduk Jatiluhur sangat potensial untuk memenuhi kebutuhan air bersih, tidak hanya bagi DKI Jakarta, tetapi juga kota-kota di sekitarnya,” pungkasnya. •mro/rdn