Anggota Komisi VII DPR RI, Samuel Wattimena saat kunjungan kerja spesifik Komisi VII DPR RI ke Serang, Banten, Kamis (15/01/2026). Foto Ayu/Mahendra.
PARLEMENTARIA, Serang – Anggota Komisi VII DPR RI, Samuel Wattimena mengungkapkan popularitas kain tenun Baduy sangat besar. Hal itu terlihat dari banyaknya desainer yang menggunakan wastra, sebutan untuk kain tradisional, dari Baduy untuk rancangannya. Sayangnya, pemerintah setempat belum memaksimalkan peluang besar tersebut.
“Wastra Baduy sendiri, popularitasnya sudah banyak digunakan oleh praktisi mode. Hampir semua desainer di Jakarta, nasional maupun didaerah pernah menggunakan tenun baduy, dan variasinya sudah banyak sekali. Tapi pemerintah daerah di Banten ini menurut saya belum menjemput bola untuk memonetisasi popularitas tenun Baduy ini,” ujar Samuel saat kunjungan kerja spesifik Komisi VII DPR RI ke Serang, Banten, baru-baru ini.
Sejatinya, lanjut Sammy, begitu Samuel biasa disapa, jika pemerintah daerah mampu mengelola dan memonetisasi wastra Baduy secara terarah, maka dampaknya akan sangat luas. Tidak hanya bagi perajin, tetapi juga bagi sektor lain yang saling berkaitan.
“Padahal kalau mereka memonetisasi ini, maka pariwisata di Baduy baik gaya hidup Baduy, kebudayaan Baduy lainnya, akan semakin tumbuh dan berkembang,” ujarnya.
Oleh karenanya, menurut Politisi Fraksi PDI-Perjuangan ini, Pemerintah daerah (Pemda) Banten bersama pelaku industri kreatif perlu meningkatkan sinergi atau kolaborasi dan koordinasi dengan pemerintah pusat (dalam hal ini Kementerian Pariwisata, serta Ekonomi Kreatif) dalam mengembangkan keberadaan wastra. Tentu dengan tetap menghormati nilai-nilai budaya, sekaligus memberikan manfaat ekonomi berkelanjutan bagi masyarakat setempat.
“Kami berharap ke depan, ada kebijakan konkret dan program pendampingan yang mampu menjadikan wastra Baduy tidak hanya sebagai simbol budaya, tetapi juga sebagai kekuatan ekonomi yang memperkuat identitas daerah Banten di tingkat nasional maupun internasional,” pungkasnya. •ayu/aha