Anggota Komisi X DPR RI Reni Astuti saat menghadiri Seminar Perempuan Antikorupsi pada peringatan Hari Antikorupsi Sedunia (Hakordia) 2025 di Kompleks Kepatihan Yogyakarta, Senin (8/12/2025). Foto: Wilga/vel.
PARLEMENTARIA, Yogyakarta – Anggota Komisi X DPR RI Reni Astuti menegaskan pentingnya integritas dan peran strategis perempuan dalam upaya pencegahan korupsi. Hal itu ia sampaikan usai menghadiri Seminar Perempuan Antikorupsi pada peringatan Hari Antikorupsi Sedunia (Hakordia) 2025 yang digelar di Kompleks Kepatihan Yogyakarta, Senin (8/12/2025).
Dalam seminar bertema “Integritas Perempuan sebagai Penyelenggara Negara dalam Melawan Korupsi”, Reni menyoroti peningkatan jumlah politisi perempuan di berbagai tingkatan, baik pusat maupun daerah. Menurutnya, hadirnya afirmasi 30 persen keterwakilan perempuan dalam politik membawa konsekuensi berupa meningkatnya ekspektasi publik terhadap kualitas dan integritas para politisi perempuan.
“Peningkatan jumlah perempuan di parlemen ini merupakan sebuah tanggung jawab. Publik akan melihat sejauh mana kinerja politisi perempuan di parlemen, sebagaimana integritas perempuan di parlemen,” ujarnya pada Parlementaria.
Reni menjelaskan bahwa kehadirannya di Yogyakarta merupakan wujud dukungan terhadap langkah-langkah pencegahan yang terus dilakukan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Menurutnya, seminar ini bukan hanya ruang diskusi, tetapi juga sarana edukasi untuk menyamakan langkah dan semangat perempuan dalam melawan korupsi.
“Kami hadir di sini sebagai bentuk dukungan terhadap upaya KPK untuk terus melakukan pencegahan. Ini lebih ke edukasi, menyamakan semangat untuk bersama-sama perempuan ikut serta mendukung dan melawan korupsi,” ucapnya.
Namun demikian, Reni juga menyoroti tantangan serius. Ia menyinggung fakta bahwa sebagian kasus korupsi justru turut melibatkan perempuan. Hal tersebut, katanya, menjadi alarm bahwa peran perempuan dalam pemberantasan korupsi tidak boleh berhenti pada simbol representasi, melainkan harus diwujudkan dalam tindakan dan keteladanan.
“Sebenarnya 30 persen yang ditangkap KPK justru perempuan. Ini tantangan dan tanggung jawab yang harus terus melekat pada diri kita sebagai politisi perempuan,” tegas Politisi Fraksi PKS ini.
Reni menekankan bahwa perempuan memiliki multi peran: hadir di sektor publik sebagai penyelenggara negara, sekaligus menjalankan fungsi di sektor privat sebagai ibu dan istri. Kedua peran tersebut, menurutnya, memberi ruang besar bagi perempuan untuk membangun nilai antikorupsi dari lingkungan terkecil—keluarga.
“Menjadi teladan buat anak-anak, memberikan edukasi, itu penting. Karena saat ini apatisme terhadap politisi dan penyelenggara negara masih ada. Korupsi dan penyalahgunaan masih terjadi, dan ini memengaruhi kepercayaan generasi muda,” terangnya.
Ia menekankan pentingnya pembelajaran berkelanjutan, saling mengingatkan, dan penguatan pemahaman antikorupsi di antara para perempuan dari berbagai kalangan. “Belajar tidak pernah berhenti, termasuk kita hadir di sini untuk menguatkan kembali pemahaman dan menyemangati kembali semangat kita. Moga-moga perempuan bisa bersatu untuk melawan korupsi,” tutupnya. •we/aha