Ravindra Airlangga Bertemu Delegasi AGDA UEA, Bahas Investasi dan Diplomasi
- Februari 26, 2025
- 0
PARLEMENTARIA, Jakarta – Wakil Ketua Badan Kerja Sama Antar Parlemen (BKSAP) Ravindra Airlangga bertemu dengan delegasi Anwar Gargash Diplomatic Academy (AGDA) UEA, di Gedung Nusantara III, Senayan, Jakarta, Selasa (25/2/2025). AGDA UEA merupakan sebuah institusi pendidikan calon diplomat. Mereka sedang melakukan kunjungan ke beberapa negara, termasuk Indonesia, untuk menjajaki potensi kerja sama.
“Mereka semua berasal dari Anwar Gargash Diplomatic Academy yang merupakan pendidik calon-calon diplomat untuk Uni Arab Emirates, dan mereka sedang tur ke South Africa, Indonesia, karena melihat adanya hubungan dekat dan masa depan bersama dengan negara-negara ini,” kata Ravindra kepada Parlementaria.
Dalam pertemuan tersebut, Ravindra dan delegasi AGDA berbincang soal perkembangan perekonomian Indonesia, hingga diplomasi parlemen. “UEA menanyakan dan menyatakan bahwa mereka percaya dengan pertumbuhan ekonomi Indonesia, dan mereka menawarkan diri bagaimana mereka bisa membantu perkembangan ekonomi Indonesia,” jelasnya.
Ravindra menyampaikan bahwa fokus investasi Indonesia saat ini sedang diarahkan ke sektor-sektor yang menjadi prioritas pemerintah, seperti hilirisasi mineral, energi terbarukan, pangan, dan infrastruktur. “Kita menyatakan bahwa mungkin fokus investasi ke sektor-sektor yang menjadi prioritas Indonesia saat ini, contohnya hilirisasi dari mineral misalnya, energi terbarukan, pangan, dan juga infrastruktur,” jelasnya.
Selain investasi, delegasi AGDA UEA juga menanyakan tentang diplomasi parlemen Indonesia. Ravindra menjelaskan bahwa BKSAP memiliki mandat untuk memperkuat diplomasi yang dilakukan oleh eksekutif, termasuk dalam mendorong perjanjian kerja sama ekonomi komprehensif antara Indonesia dan Uni Eropa (EU CEPA).
Terkait EU CEPA, Ravindra sendiri menjelaskan tentang upaya sinkronisasi, terutama terkait dengan mekanisme penyesuaian batas karbon (Carbon Border Adjustment Mechanism). Ia menyampaikan bahwa Indonesia telah memiliki pasar karbon dan menerapkan pajak karbon, sehingga produk ekspor Indonesia yang masuk ke Eropa telah memiliki kredit karbon.
“Saya menyampaikan bahwa Indonesia sudah memiliki pasar karbon itu tersendiri dan ketika kita melaksanakan pajak karbon, maka ketika barang ekspor ini sampai ke Eropa, maka itu telah diberikan kredit sehingga tidak mendapatkan tax 2 kali oleh Uni Eropa yang menerapkan standar karbon misalnya 66 euro per Co2 ekuivalen,” jelasnya.
Lebih lanjut, AGDA UEA juga memberikan apresiasi terhadap program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang dianggap sebagai langkah positif dalam mengurangi stunting. “Tadi ada soal MBG juga jadi mereka menganggap ini hal yang sangat positif dan sampaikan bahwa untuk tahun ini kita target 17 juta dan terus ditingkatkan agar mencapai target optimal,” jelasnya. •bia/aha