#Isu Lainnya

Anis Byarwati Analogikan Kelola Ekonomi Keluarga Seperti Miniatur Sebuah Negara

Anggota Komisi XI DPR RI Anis Byarwati. Foto: Dok/Andri.
Anggota Komisi XI DPR RI Anis Byarwati. Foto: Dok/Andri.

PARLEMENTARIA, Jakarta – Persoalan rumah tangga kerap tidak terlepas dari persoalan sebuah negara. Misalnya, mengelola relasi orang tua dengan anak, berkaitan dengan masa depan kemajuan pendidikan suatu bangsa.

Tak terkecuali, dengan urusan dapur dalam sebuah rumah tangga. Mulai dari konsumsi rumah tangga, harga bahan-bahan pokok, hingga kecukupan gizi tiap anggota keluarga erat kaitannya dengan perekonomian suatu negara dalam skala yang lebih besar.

Karena itu, Anggota Komisi XI DPR RI Anis Byarwati Anis pun menganalogikan ekonomi keluarga seperti sebuah miniatur negara. Menurutnya, indikator ekonomi di sebuah negara dipengaruhi oleh kondisi perekonomian mayoritas keluarganya.

“Kalau ekonomi keluarga bagus, misalnya keluarga-keluarga ekonomi di indonesia bagus, maka skala negara juga Insyaallah akan bagus,” ujarnya saat diwawancarai oleh suatu media di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, baru-baru ini.

Perempuan yang memiliki pengalaman pernah menjabat sebagai Dekan Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas YARSI itu saat ini dipercaya untuk bergabung di Komisi XI DPR RI yang membawahi bidang keuangan, perencanaan pembangunan nasional, serta perbankan dan lembaga keuangan non-bank, dan bermitra kerja dengan pemerintah.

“Kalau ekonomi keluarga bagus, misalnya keluarga-keluarga ekonomi di indonesia bagus, maka skala negara juga Insyaallah akan bagus,”

Meski demikian, ia menganggap pengalaman dan ilmunya sebagai dekan selama tiga tahun itu bisa diterapkan di mana saja. Bahkan ketika dirinya berperan sebagai ibu rumah tangga sekalipun.

“Nggak harus jadi Anggota DPR ilmu itu tetap kepake, lho. Jadi ibu rumah tangga itu juga susah (atur keuangan). Mulai dari menganggarkan, bikin perencanaan, ngeluarinnya gimana, alokasinya gimana, itu lebih susah,” kata Wakil Ketua Badan Akuntabilitas Keuangan Negara (BAKN) DPR RI ini.

Politisi Fraksi PKS ini juga menanggapi stigma soal perempuan yang seharusnya di rumah saja untuk melakukan mengurus keluarga. Ia menegaskan laki-laki juga harus peran dan tanggung jawabnya dalam keluarga. Sebab, membangun keluarga merupakan ibadah bagi umat muslim (sunnatullah), baik bagi laki-laki maupun perempuan, sehingga, ada kewajiban bagi istri dan suami dalam menjalankan rumah tangga.

“Maka ada kewajiban istri, kewajiban suami yang di mana kalau keduanya menjalankan kewajiban dengan baik, maka surga disediakan oleh Allah SWT. Dan kewajiban perempuan dalam Islam itu bukan hanya kewajiban dalam rumah, dia bukan hanya untuk keluarganya saja, tetapi juga untuk masyarakat,” jelas doktor Ekonomi Islam jebolan dari Universitas Airlangga, Surabaya, itu.

Anis sendiri baru mulai bekerja di luar rumah saat kedelapan anaknya sudah bisa ditinggal. Ia menjelaskan ada pembagian tugas yang merupakan hasil kerja sama tim keluarga di rumah.

Anis menambahkan untuk berkontribusi bagi masyarakat di luar rumah, perempuan perlu daya dukung (support system) yang baik. Meski demikian, perempuan juga bisa tetap berkontribusi untuk masyarakat dari dalam rumah apalagi di bulan Ramadan seperti saat ini.

“Bisa juga berkontribusi untuk masyarakat (dari dalam rumah) dengan cara membuatkan makanan-makanan kalau di bulan puasa dan menyumbangkannya untuk masjid-masjid. Atau kalau punya kemampuan bisa bersekolah lagi, itu juga bisa. Sekarang peluang-peluang untuk beramal soleh tuh banyak ya, baik perempuan atau laki-laki,” kata Anis.

Anis menekankan perempuan yang berkiprah di luar rumah bukanlah hal yang mudah. Oleh karenanya, diperlukan niat untuk berkontribusi bagi keluarga, masyarakat, serta bangsa Indonesia. Anis sendiri baru mulai bekerja di luar rumah saat kedelapan anaknya sudah bisa ditinggal. Ia menjelaskan ada pembagian tugas yang merupakan hasil kerja sama tim keluarga di rumah.

“Jadi sebelum saya berkiprah di luar rumah, saya full (jadi) ibu rumah tangga di rumah. Suami punya peran, kakak-kakak menjaga adiknya. Kemudian, ketika ibunya berkontribusi di luar rumah, itu adalah hasil kesepakatan komunikasi antar (anggota) keluarga,” ungkap Anis.

Selain membahas mengenai keluarga, Anis juga buka-bukaan soal tantangan yang dialami sebagai anggota DPR di bulan Ramadan. Apalagi, saat ini memasuki masa sidang di mana para anggota melaksanakan rapat setiap hari. Di sisi lain, bulan Ramadan juga merupakan momen yang harus dimanfaatkan untuk memaksimalkan ibadah.

Di tengah kesibukannya, ia juga menganggap segala niat baik, bahkan di luar bulan Ramadan juga termasuk ibadah. Termasuk di antaranya rapat, bertemu masyarakat, dan kegiatan lainnya.

Salah satu kegiatan yang dilakukan di bulan Ramadan ini yaitu mengadvokasikan aspirasi masyarakat di lapangan kepada pemerintah. Terlebih, saat ini harga beras sedang melambung tinggi. Ia mengaku sangat bersyukur ketika bantuan itu sampai di tangan yang tepat.

“Ada yang kita kasih bantuan sembako, misalnya. Memang dia benar-benar nggak punya beras. Ketika bantuan itu datang, dia seperti benar-benar mendapatkan karunia yang sangat luar biasa. “Jadi dengan menjalankan tugas-tugas itu juga menjadi ibadah di bulan Ramadan ini diharapkan bisa memberikan timbangan kebaikan di yaumul hisab (hari perhitungan) nanti,” sambungnya.

Di bulan suci ini, Anis juga mengapresiasi kehadiran masjid yang berlokasi di lingkungan DPR RI, Masjid Baiturrahman. Ia menyebut masjid ini berfungsi untuk menyeimbangkan antara pekerjaan dan spiritual para pekerja di DPR RI.

Anis menjelaskan masjid ini menjadi tempat untuk para pekerja mulai dari Anggota DPR hingga Tenaga Ahli, bahkan masyarakat umum untuk beribadah. Apalagi, kegiatan di DPR seperti rapat memiliki jam yang dinamis.

“Kalau DPR kan rapatnya nggak menentu jamnya. Kadang sampai malam, sampai pagi, dan mereka (para pekerja) menghabiskan usianya di sini,” kata Anis.

“Dengan adanya masjid (baiturrahman) ini, akan mengisi kekosongan jiwa yang tidak ada gantinya, kecuali jika dekat dengan Allah SWT”

Baru-baru ini, Masjid Baiturrahman memberikan fasilitas berupa rumah tahfiz. Di mana seluruh pekerja di DPR bisa menyelami Al-qur’an dan belajar tafsir. Selain itu, Masjid Baiturrahman juga menyediakan takjil gratis dan tempat untuk itikaf di 10 hari terakhir bulan Ramadan.

Menurut Anis, kegiatan-kegiatan di masjid harus didukung untuk memenuhi kekosongan hati setiap manusia. Kekosongan hati, lanjut Anis, tidak bisa digantikan oleh apapun termasuk juga harta benda.

“Orang bisa saja kecukupan harta, tetapi kalau hatinya kosong, jiwanya kosong, akan merasa hampa di dunia. Dengan adanya masjid ini, akan mengisi kekosongan jiwa yang tidak ada gantinya, kecuali jika dekat dengan Allah SWT,” kata Anis.

Salah satu jalan untuk mengisi hati yang kosong adalah memperbanyak ibadah di masjid. Karenanya, kegiatan di masjid harus semarak dan beragam agar orang-orang tertarik untuk datang ke masjid.

“Dan alhamdulillah Masjid Baiturrahman punya segudang kegiatan untuk orang-orang yang bekerja di lingkungan DPR dan juga masyarakat umum,” pungkasnya. •rdn

Leave a comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *