Lemahnya Dukungan Anggaran untuk Peningkatan Produksi Komoditas Strategis

[Anggota Komisi IV DPR RI Johan Rosihan saat mengikuti Rapat Kerja Komisi IV DPR RI bersama Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo beserta jajarannya. Foto: Arief/nvl]

 

Anggota Komisi IV DPR RI Johan Rosihan menyampaikan kritik terhadap pembangunan pertanian. Sektor pertanian memang selalu tumbuh positif selama pandemi, namun menurutnya pertumbuhannya masih di kisaran 3,3 persen. Sebagai evaluasi harus ada fokus dukungan anggaran untuk peningkatan produksi pertanian dan terus memberikan nilai tambah pada hasil produk pertanian nasional agar berdaya saing internasional.

 

Hal ini diutarakan Johan saat mengikuti Rapat Kerja Komisi IV DPR RI bersama Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo beserta jajarannya membahas evaluasi anggaran dan kinerja pertanian di Gedung Nusantara, Senayan, Jakarta (Senin, 24/1/2022). Politisi Partai Keadilan Sejahtera (PKS) ini mengungkapkan bahwa sejak tahun 2015 sampai tahun ini anggaran Kementan selalu turun dari tahun ke tahun.

 

"Saya mempertanyakan hal ini karena negara kita adalah negara agraris dan bahkan pemerintah selalu menyatakan bahwa harus dilakukan penguatan pembangunan sektor pertanian guna mendorong pertumbuhan ekonomi, tapi anehnya kebijakan anggaran Pertanian sangat lemah untuk peningkatan produksi komoditas strategis," sesal Johan seraya menunjukkan bahwa proyeksi pertumbuhan ekonomi sektor Pertanian dibuat pemerintah dalam kisaran 3,3-4,27 persen, namun kenyataannya hanya mampu tumbuh 2,95 persen pada triwulan 1 tahun 2021 dan pada triwulan III tahun 2021 pertanian hanya mampu tumbuh sebesar 1,35 persen.

 

Johan memaparkan, terkait capaian ekspor pertanian dan serapan KUR (Kredit Usaha Rakyat) yang cukup menggembirakan pada tahun 2021 lalu, maka baginya ada beberapa catatan yang mesti diperhatikan pemerintah. "Catatan perlu diperhatikan pemerintah yakni ekspor pertanian masih didominasi oleh subsektor perkebunan maka ke depan mesti ada peningkatan nilai ekspor pada subsector tanaman pangan, hortikultura dan peternakan untuk meningkatkan neraca perdagangan pertanian nasional," urainya.

 

Selain itu, wakil rakyat dari dapil NTB ini juga mempertanyakan target produksi komoditas kedelai yang hanya 0,2 juta ton padahal rata-rata kebutuhan kedelai  dalam negeri berkisar 2-3 juta ton per tahun. "Ini artinya pemerintah terus berencana impor kedelai setiap tahun tanpa ada upaya untuk swasembada. Janji Mentan untuk meningkatkan produksi kedelai dalam dua kali masa tanam akan terus ditagih rakyat," tandas Johan.

 

Johan menjelaskan bahwa target produksi daging sapi/kerbau tahun 2022 hanya sebesar 444,55 ribu ton padahal kebutuhan daging terus meningkat setiap tahun, yang diperkirakan konsumsi per kapita pada 2022 mencapai 2,57 per kg/kapita per tahun sehingga kebutuhan daging secara nasional mencapai 706.388 ton per tahun. "Saya tegaskan Kementan mesti berupaya menghentikan ketergantungan impor daging dengan menggenjot produksi lokal demi kemandirian pangan nasional," tutup Johan. (dep/sf)

Tim Redaksi

Kunjungi kami

EMedia DPR RI merupakan platform digital dengan beragam informasi yang lugas, akurat, dan terpercaya terkait aktivitas, kegiatan, dan topik pembahasan isu-isu oleh Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia (DPR RI)