Ketua Komisi VII Terima Delegasi Amerika Serikat, Bahas Potensi Kerja Sama Energi Nuklir

Ketua Komisi VII DPR RI Sugeng Suparwoto saat menerima delegasi Amerika Serikat di ruang tamu Pimpinan Komisi VII DPR RI, Senayan, Jakarta, Selasa (17/1/2023). Foto: Tari/Man

Ketua Komisi VII DPR RI Sugeng Suparwoto saat menerima delegasi Amerika Serikat di ruang tamu Pimpinan Komisi VII DPR RI, Senayan, Jakarta, Selasa (17/1/2023). Foto: Tari/Man

Ketua Komisi VII DPR RI Sugeng Suparwoto menyambut baik rencana Amerika Serikat yang ingin bekerjasama dengan pemerintah Indonesia dalam bidang nuklir, terutama untuk Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN). Menurutnya kedepan Indonesia membutuhkan energi yang cukup besar. Bahkan jika pertumbuhan ekonomi Indonesia 6 persen saja, berarti Indonesia butuh 1,5 kali peningkatan energi.

“Hari ini Komisi VII DPR RI menerima delegasi dari Amerika Serikat, yang tujuan utamanya menjelaskan rencana kerjasama yang ditawarkannya kepada Indonesia, dalam bidang tenaga nuklir. Termasuk salah satunya sedang menjajaki kerjasama nuklir di Kalimantan Barat, lewat program Sembilan juta dolar,  disana ada tambang uranium yang menjadi bahan baku nuklir. Kami tentu menyambut baik hal tersebut,” ungkap Sugeng usai menerima delegasi Amerika Serikat di ruang tamu Pimpinan Komisi VII DPR RI, Senayan, Jakarta, Selasa (17/1/2023).

Namun di sisi lain, Indonesia perlu energi bersih dengan telah menandatangani Paris Agreement. Bahkan Indonesia juga sudah mencanangkan net zero emission di tahun 2060 mendatang, dimana bauran energi nuklir masuk di dalamnya. Dalam kesempatan itu, Sugeng yang didampingi oleh Anggota Komisi VII DPR RI Dyah Roro Esti ini, tidak memungkiri bahwa selama ini masyarakat identik memandang nuklir sebagai sebuah bom yang mengerikan. Padahal dalam kenyataannya, nuklir menjadi salah satu sumber energi yang dibutuhkan oleh seluruh negara di dunia, termasuk Indonesia.

“Pemahaman atau sosialisasi memang sangat dibutuhkan. Pasalnya selama ini nuklir identik dengan bom ini padahal tidak. Indonesia sendiri nuklir sudah mulai digunakan sejak lama yakni untuk keperluan lain seperti nuklir untuk medis, untuk pertanian dengan pendekatan-pendekatannya menggunakan teknologi nuklir. Bahkan kita punya pembangkit listri siwabessy. Namun yang ada dalam gerak masyarakat energi itu selalu hal yang menakutkan, padahal ini untuk energi. Inilah yang harus disosialisasikan ke masyarakat. Dan tadi kami juga sudah tekankan bahwa pengembangan nuklir di Indonesia ini untuk hal yang positif dan damai, yakni sebagai energi terbarukan, bukan untuk pembuatan bom,” papar Politisi Fraksi Partai Nasdem ini.

Khusus untuk isu lingkungan, lanjut Sugeng, bagaimana limbah nuklir itu tetap harus ditangani secara baik. Hak itu menjadi bagian kita, memperketat jika ingin mendirikan pembangkit listrik tenaga nuklir, dipastikan limbah nuklirnya, efek-efek lingkungan lainnya, apa sudah tertangani dengan baik atau kita.

“Kita sudah berpengalaman punya pembangkit listrik tenaga nuklir di Siwabessy di Serpong misalnya, pembangkit Kartini yang merupakan pembangkit riset, tapi kurang lebih sama, kita sudah belajar sejak 60-an tentang berbagai persoalan nuklir kita juga punya kampus dengan teknologi nuklir. Dan saya kira Indonesia sudah siap untuk itu semua. Energi nuklir, dan energi terbarukan,” paparnya. •ayu/aha

Tim Redaksi

Kunjungi kami

EMedia DPR RI merupakan platform digital dengan beragam informasi yang lugas, akurat, dan terpercaya terkait aktivitas, kegiatan, dan topik pembahasan isu-isu oleh Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia (DPR RI)