BKSAP Upayakan Bahasa Melayu-Indonesia sebagai Bahasa Kerja di ASEAN

Ketua BKSAP DPR RI Fadli Zon saat bertukar cenderamata dengan perwakilan Pemerintah Provinsi Riau. Foto: JIWA/NVL 
Ketua BKSAP DPR RI Fadli Zon saat bertukar cenderamata dengan perwakilan Pemerintah Provinsi Riau. Foto: JIWA/NVL

Ketua Badan Kerja Sama Antar Parlemen (BKSAP) DPR RI Fadli Zon memimpin diskusi yang bertajuk ‘Benchmarking Pembentukan Asosiasi Anggota Parlemen Berbahasa Melayu-Indonesia’. Diskusi ini juga dihadiri Wakil Ketua BKSAP DPR RI Mardani Ali Sera, Anggota BKSAP DPR RI Irine Yusiana Roba Putri, Sekda Provinsi Riau, akademisi Universitas Negeri Riau, Balai Bahasa Riau, dan Forum Komunikasi Pemuka Masyarakat Riau (FKPMR).

Dalam diskusi ini, BKSAP DPR RI tengah mengupayakan wacana menjadikan bahasa Melayu-Indonesia sebagai bahasa kerja (working language) di IPU dan ASEAN Inter-Parliamentary Assembly (AIPA). ”Kita ingin berangkat dari yang sifatnya regional baru ke internasional,” ujar Fadli di Kantor Gubernur Riau, di Kota Pekanbaru, Riau, Selasa (6/9). 

Upaya mengusung Bahasa Melayu-Indonesia sebagai bahasa kerja di ASEAN cukup beralasan, hal tersebut karena terdapat kurang lebih 700 dialek Bahasa Melayu yang tersebar di beberapa negara, baik di dalam ASEAN sendiri maupun di beberapa negara yang memiliki fakta sejarah penyebaran budaya Melayu sejak era penjajahan.

Fadli mengungkapkan, bahasa Melayu pernah diajukan untuk menjadi bahasa PBB, namun kemudian kandas karena masih belum diputuskan dialek Melayu manakah yang akan dijadikan standar. Tidak ditemukan kendala substansi terkait bahasa Melayu standar sebagai lingua franca karena kawasan ASEAN pada umumnya berakar dari rumpun Nusantara.

Secara historis bahasa Melayu sudah menjadi bahasa yang memengaruhi Nusantara termasuk di Jawa dengan ditemukan enam prasasti berbahasa Melayu. Ini juga bukti bahwa Bahasa Melayu sebagai bahasa pergaulan (lingua franca) di Nusantara. Bahkan pihak kolonial menjadikan bahasa Melayu sebagai bahasa komunikasi di Nusantara. 

Secara ilmiah dan obyektif bahwa bahasa Melayu Riau adalah bahasa Melayu standar. Hal tersebut didasarkan atas eksistensi Raja Ali Haji sebagai linguis pertama bahasa Melayu dan fakta sejarah bahwa Pulau Lingga kerapkali dikunjungi oleh banyak pihak di kawasan. Hasil keputusan sementara ditetapkan bahwa bahasa Melayu Riau sebagai dasar bahasa Indonesia terutama karena eksistensi Raja Ali Haji sebagai linguis Melayu pertama. •ssb/aha

Tim Redaksi

Tambah Komentar

Kunjungi kami

EMedia DPR RI merupakan platform digital dengan beragam informasi yang lugas, akurat, dan terpercaya terkait aktivitas, kegiatan, dan topik pembahasan isu-isu oleh Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia (DPR RI)