BKSAP DPR Bangun Sinergi Diplomasi Parlemen di Kampus

 
Foto bersama Pimpinan dan Anggota BKSAP DPR RI dengan sivitas akademika Universitas Sebelas Maret (UNS). Foto: Oji/Man

Kampus dan mahasiswa merupakan cikal bakal lahirnya demokrasi di Republik Indonesia melalui proses reformasi yang legendaris tahun 1998 silam. Wakil Ketua Badan Kerja Sama Antar Parlemen (BKSAP) DPR RI Achmad Hafisz Tohir mengemukakan dipilihnya kampus sebagai media sosialisasi diplomasi parlemen karena mahasiswa menjadi agen perubahan bagi Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). 

“Kami pilih kampus karena melihat dalam demokrasi itu mahasiswa menjadi cikal bakal munculnya demokrasi di Republik Indonesia, tanpa mahasiswa kita tidak mungkin mengalami masa reformasi yang sangat legendaris tersebut,” ungkap Hafisz usai memimpin pertemuan BKSAP DPR RI dengan Rektor, Guru Besar, mahasiswa dan sivitas akademika Universitas Sebelas Maret (UNS) di Solo, Jawa Tengah, Kamis (8/4). 

Menurut Hafisz, pemikiran-pemikiran mahasiswa itu tidak ada intrik-intrik politik, mereka begitu riil. Melalui forum terhormat yang juga dihadiri para guru besar dan sivitas akademika ini, dengan masuknya BKSAP DPR ke kampus untuk menjelaskan tugas-tugas DPR yang kadang kala juga dikritisi secara positif oleh mahasiswa. 

Mengenai fungsi konvensional DPR, Hafisz melanjutkan, yang sudah berjalan puluhan tahun yaitu anggaran, legislasi, dan pengawasan. “Ada satu fungsi yang kadang rakyat tidak tahu, yaitu menciptakan perdamaian dunia dan berperan aktif dalam pergaulan dunia dalam bentuk bebas aktif. DPR berperan serta terhadap diplomasi dunia, makanya kami namanya ‘second track diplomation’, karena di ujung tombaknya tetap pemerintah,” tandas politisi Partai Amanat Nasional (PAN) ini. 

Sebagai contoh, di forum internasional BKSAP selalu melihat figur negara yang akan dikunjungi. “Ketika ke Ukraina yang secara hubungan diplomasi sangat bersahabat, hubungan dagang juga lancar, hubungan politik juga baik sekali. Di sini saya melihat ada gap (celah) di mana ekspor kita hanya 200 juta dolar AS, sedangkan impornya 700 juta dolar AS. Dalam rapat internal saya mengkritisi itu, bahwa kita harus memperkuat imbal balik dari pada ekspor dan impor,” tandas Hafisz. 

“Sebagai negara yang bersahabat maka kita bisa mendorong adanya balance (keseimbangan) antara ekspor dan impor. Katakanlah kalau kita banyak impor gandum dari Ukraina, mereka juga harus bersedia mengambil kelapa sawit kita, itu yang saya usulkan kemarin saat rapat dengan Ketua DPR Ukraina. Bagaimana kalau itu di-counter trade, ternyata Ukraina belum bisa melakukan itu,” beber legislator dapil Sumatera Selatan I ini. 

“Kita pernah lakukan diplomasi counter trade saat pembelian pesawat Sukhoi dari Rusia yang tidak sepenuhnya kita bayar dengan uang. Kita kasih bahan makanan kita seperti kelapa sawit dan lain sebagainya. Ini menjadi contoh langkah-langkah perbaikan ekonomi melalui jalur diplomasi parlemen yang dilakukan BKSAP di panggung Internasional,” pungkas Anggota Komisi XI DPR RI itu.  oji/sf

Tim Redaksi

Tambah Komentar

Kunjungi kami

EMedia DPR RI merupakan platform digital dengan beragam informasi yang lugas, akurat, dan terpercaya terkait aktivitas, kegiatan, dan topik pembahasan isu-isu oleh Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia (DPR RI)