Yuk Bersama Kita Hentikan Perundungan

Kasus perundungan, atau yang lebih dikenal dengan bullying kian marak terjadi di Indonesia. Data dari Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) pada tahun 2020 menunjukan bahwa terdapat 119 kasus perundungan di lingkungan anak. Angka ini patut menjadi perhatian mengingat dampak dari perundungan cukup signifikan terhadap kondisi psikologis anak.

Ilustrasi 5 jari yang bisa orang tua berikan kepada anak untuk menghentikan tindakan perundungan.

Perundungan merupakan segala bentuk kekerasan atau penindasan yang secara sengaja dilakukan oleh satu orang atau sekelompok orang yang lebih kuat atau berkuasa.

Perundungan dapat dikelompokkan ke dalam 6 kategori, yakni: (1) perundungan secara fisik langsung, (2) perundungan secara verbal langsung, (3) perundungan non-verbal langsung, (4) perundungan non-verbal tidak langsung, (5) cyberbullying, dan (6) pelecehan seksual. Perundungan yang dilakukan oleh anak disebabkan oleh berbagai faktor, yakni faktor kepribadian, pola asuh, peran kelompok sebaya dan iklim sekolah. Ditinjau dari faktor kepribadian, anak yang melakukan perundungan umumnya memiliki kesulitan untuk menyesuaikan diri dengan lingkungan dan ingin menggunakan berbagai cara untuk mendapatkan penerimaan. Kekerasan merupakan salah satu upaya anak untuk mengontrol lingkungan sekitarnya, sehingga anak terus menggunakan cara tersebut agar dapat diterima dan diakui oleh lingkungan.

Ditinjau dari faktor pola asuh, anak yang diasuh dengan pola pengasuhan yang permisif juga dinilai berisiko tinggi melakukan tindakantindakan yang agresif. Hal ini terjadi karena pola pengasuhan permisif cenderung meniadakan aturan dan anak bebas bertindak sesuai dengan kehendaknya.

Ditinjau dari faktor teman sebaya, anak yang sangat terikat dengan kelompok teman sebayanya cenderung meniru dan mengikuti apapun yang dilakukan oleh kelompoknya. Apabila kelompok tersebut kerap melakukan tindakan kekerasan, maka anak tidak segan untuk menirunya. Hal ini dilakukan agar dirinya mendapatkan pengakuan dan penerimaan dari kelompoknya.

Terakhir, tindakan perundungan juga kerap ditemukan di lingkungan sekolah yang menggunakan kekerasan sebagai cara untuk mendisiplinkan siswa. Perundungan dinilai berkembang pesat di lingkungan sekolah yang kerap memberikan konsekuensi negatif pada siswanya, misalnya berupa hukuman yang tidak membangun dan tidak mengembangkan rasa menghargai antar sesama anggota sekolah.

PENCEGAHAN TINDAKAN PERUNDUNGAN (BULLYING)

 Jika ditinjau kembali, faktor-faktor penyebab perundungan tersebut sangat mungkin dicegah mulai dari pencegahan melalui anak, keluarga serta sekolah. Pencegahan melalui anak dapat dilakukan dengan melakukan pemberdayaan pada anak agar anak mampu mendeteksi apa saja yang termasuk dalam tindakan perundungan serta upaya yang dapat dilakukan anak ketika melihat atau mengalami perundungan.

Pengetahuan dan wawasan mengenai cara menghadapi perundungan dapat menjadi bekal bagi anak agar dapat melindungi diri secara tepat. Misalnya mengedukasi anak untuk memberikan bantuan apabila melihat adanya tindakan perundungan di sekolah, baik dengan melerai atau melaporkan kepada pihak sekolah.

Selain itu, orangtua dapat membantu anak mengembangkan kemampuan manajemen emosi. Hal ini dapat membantu anak untuk mengenali emosinya sendiri serta  mengkomunikasikan perasaannya secara tepat, sehingga tidak menggunakan perilaku agresif maupun kekerasan untuk mengekspresikan perasaannya.

 Kedua, pencegahan melalui keluarga dapat dilakukan dengan memperbaiki pola pengasuhan dan meningkatkan ketahanan keluarga. Keluarga dapat menanamkan nilai-nilai cinta kasih kepada sesama, menanamkan kemampuan empati dan toleransi kepada anak. Harapannya, anak memahami adanya perbedaan antar individu dan menghargai perbedaan tersebut.

Selain itu, keluarga juga dapat menerapkan aturan dan konsekuensi secara konsisten untuk anak. Misalnya jika anak merasa marah dengan anggota keluarga lain, anak dapat mengungkapkan kemarahannya menggunakan  rumus I-Message, alih-alih menggunakan kekerasan.

Mengajarkan etika terhadap sesama juga dapat dilakukan oleh keluarga. Keluarga dapat memberikan teguran yang bersifat mendidik dan tepat jika anak melakukan kesalahan, sehingga anak memahami perilaku yang sesuai dan tidak sesuai dengan norma-norma di lingkungan.

 Ketiga, tindakan perundungan dapat dilakukan dengan pencegahan melalui lingkungan sekolah. Sekolah dapat menciptakan suasana yang aman, nyaman dan kondusif dalam proses pembelajaran di sekolah. Penerapan kebijakan anti perundungan juga dapat diterapkan di sekolah sehingga terdapat aturan tersendiri mengenai tindakan perundungan dan konsekuensi yang akan diterapkan apabila ditemukan kasus perundungan di sekolah. Selain itu, sekolah juga dapat membuat kampanye mengenai anti perundungan dan melibatkan seluruh anggota sekolah untuk berpartisipasi di dalamnya.

PENANGANAN TINDAKAN PERUNDUNGAN

Apabila tindakan perundungan telah terjadi, orangtua dan pihak sekolah sangat disarankan untuk memberikan penanganan sesegera mungkin sehingga dampak perundungan yang dirasakan oleh anak dapat diminimalisir. Hal pertama yang dapat dilakukan adalah melakukan deteksi dini apabila orangtua atau pihak sekolah merasakan adanya perubahan pada fisik, sikap maupun perilaku anak.

Perubahan pada kondisi fisik dapat dilihat dari kondisi tubuh anak, misalnya terdapat luka lebam atau luka lainnya yang terlihat tidak wajar dan anak terlihat enggan untuk menceritakan penyebab luka tersebut. Perubahan sikap anak dapat dilihat dari ekspresi yang ditunjukan, contohnya anak yang biasanya terlihat riang seketika menjadi lebih pendiam, cemas, bahkan takut untuk bertemu orang lain atau berhadapan dengan lingkungan baru.

Ketiga, adanya perubahan pada perilaku, contohnya anak yang awalnya berkenan datang ke sekolah namun berubah tidak mau pergi ke sekolah karena alasan takut atau cemas. Apabila anak terbukti mengalami perundungan, orang tua maupun pihak sekolah dapat melakukan penanganan sesegera mungkin sesuai dengan kondisi anak.

 Orangtua dapat mengkonsultasikan kondisi anak ke dokter/ psikolog untuk mendapatkan penanganan lebih lanjut sesuai dengan kebutuhan anak. Orangtua juga dapat melakukan pelaporan ke pihak sekolah sehingga tindakan perundungan dapat ditindaklanjuti sesuai dengan kebijakan sekolah. Yuk, bersama kita bisa cegah tindakan perundungan! •

Tim Redaksi

Tambah Komentar

Kunjungi kami

EMedia DPR RI merupakan platform digital dengan beragam informasi yang lugas, akurat, dan terpercaya terkait aktivitas, kegiatan, dan topik pembahasan isu-isu oleh Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia (DPR RI)