Yanuar Prihatin: Langkah Unconventional Motivator Pecinta Buku

Perjalanan hidup Yanuar Prihatin sangat menarik untuk ditelusuri. Dimulai dari ketertarikan kuat dengan buku sejak kecil, Yanuar sempat meniti karir sebagai akademisi. Namun akhirnya ia menaruh minat tinggi dalam dunia motivasi sehingga sampai sekarang masih masih banyak dikenal sebagai seorang motivator. Berkat pengalamannya yang berwarna itu, ia pun berhasil memperoleh kursi di Senayan dengan metode yang unconventional.


Saat dilantik menjadi Wakil Ketua Komisi II DPR RI

Ketika mengunjungi politisi Fraksi PKB ini, tim Parlementaria berkesempatan untuk dapat mendengarkan rekam jejak Wakil Ketua Komisi II DPR RI tersebut. Masa kecil Yanuar, menurut penuturannya, dikelilingi oleh keterbatasan. Saat kecil ia terbiasa melewati malam tanpa lampu. “Buat saya waktu itu, gelap itu biasa,” katanya. Ia mengaku, dirinya ditempa untuk tidak takut gelap. Sebab kalau dirinya takut, maka kegelapan akan menjadi hantu baginya kapan saja bahkan sampai tua nanti. 

Dengan latar belakang keluarga yang berakar pada tradisi islam kuat, tentu pendidikan agama bagi Yanuar merupakan aspek yang tidak pernah lepas. Selain menjadikan agama sebagai hal yang utama dalam kehidupan, sang ayah yang merupakan salah seorang tokoh Nahdlatul Ulama, KH Ahmad Bagja, turut menumbuhkan kecintaan terhadap buku kepada Yanuar.

Yanuar saat beraksi menjadi motivator

Menggemari buku

Salah satu buku favorit yang ia baca saat kecil yaitu buku-buku berceritakan tentang Mahabarata dan Ramayana karangan RA Kosasih. “Saya menikmati bacaan itu. Sebab punya nilai etos yang kuat. Perang kebaikan dan keburukan bahwa ujungnya yang baik pasti akan menang,” kenang Pria kelahiran Cirebon 30 Desember 1970 itu. Ia merefleksikan setiap kebaikan, tidak perlu merasa takut, tidak boleh menyerah. Meski begitu, rintangan yang akan dilalui tidaklah sedikit. Namun pada akhirnya, akan tiba di ujung tujuan. “Betapa pun kecilnya kebaikan, dia tetap akan memiliki imun yang kuat untuk melawan perusakan, kezaliman atau kesemrawutan meskipun dia besar.”

Menginjak usia remaja, ia terpesona dengan buku karangan Cindy Adams dengan judul penyambung Lidah Rakyat yang merupakan Biografi Soekarno. Menurutnya, gaya bahasa yang dibawakan dalam buku tersebut seolah-olah Sang Proklamator yang lantang bersuara dengan gagah dan memancarkan gelombang semangat.

Dalam buku tersebut, ia terinspirasi kemampuan yang dimiliki Bapak Pendiri Bangsa tersebut, salah satunya kemampuan berorganisasi. Tak heran ia pun turut aktif dalam organisasi pelajar nahdliyin, Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU) semasa bersekolah dan bergabung dengan Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) DKI Jakarta saat kuliah dengan menjabat sebagai sekretaris pada periode 1992-1993.

Kemampuan Soekarno dalam berkomunikasi dan berorasi juga menjadi inspirasi besar bagi Yanuar muda. Kala kuliah, ia mengikuti pemilu raya di kampusnya untuk memperebutkan kursi ketua umum senat mahasiswa. Pengalaman berpolitik kampus itu membuat ia belajar arti pertarungan dalam dunia perpolitikan, meskipun masih dalam lingkup universitas.

Ketertarikan Yanuar pada isu sosial-politik pada masa mudanya mempengaruhi minat bacanya pula. Ia melahap buku-buku tentang kebangsaan, pembangunan ekonomi dan manusia juga berlangganan Majalah Prisma yang tersohor di eranya. “Jadi waktu mahasiswa itu puncak saya membaca banyak buku, jadi seminggu bisa habis 1-2 buku.”

Tak pelak, ketertarikannya pada isu sosial-politik mengantarkannya pada dunia akademik. Usai lulus pendidikan sarjana di Universitas Jakarta 1989-1996, lalu ia pun lanjut mengikuti program magister mengambil studi ilmu politik di Universitas Indonesia 1999-2003. Setelah itu ia mengabdikan diri sebagai dosen di almamater tempat ia memperoleh gelar sarjananya.

Sayangnya selama 7 tahun berprofesi sebagai dosen, Yanuar mendapatkan cobaan yang berat. Dimana pada masa awal-awal reformasi, keadaan nasional mempengaruhi kehidupan kampus. Sempat terjadi kerusuhan di almamater tempat ia mengajar, hal tersebut berdampak dengan berakhirnya karir Yanuar di kampus itu.

Yanuar berinteraksi dengan peserta kelas motivasi

Tak menyerah

Tak menyerah, Yanuar mengaku tidak merasa kecewa. Ia justru memperluas perspektifnya. Langkah yang diambil olehnya berangkat dari keresahan dirinya dari cara berpikirnya cenderung berkiblat pada paradigma kritis. Pandangan tersebut membuat dirinya menjadi tertanam untuk berfokus pada kesalahan, kekurangan dan celah, Terlebih menurutnya, cara pandang seperti itu tidak bisa membuat dirinya berkembang.

Dari dahulu yang hanya berkutat sebagai akademisi yang berada pada menara gading dengan segala mempelajari beragam metode motivasi. Ia mulai masuk ke dunia motivasi sekitar tahun 2008-2009.

Di saat yang sama, ia juga sedang menjadi tenaga ahli Komisi II DPR RI. Ketika merintis karir di dunia motivasi, Yanuar mulai menerbitkan buku-buku motivasi. Setelah dia mengakhiri karirnya sebagai tenaga ahli komisi II DPR di tahun 2012, ia langsung terjun semakin dalam ke dunia motivasi. Bahkan ia menulis buku berjudul “Jalan Baru Menang Pemilu”, sebuah buku yang nantinya akan ia aplikasikan dalam memenangkan kursi di Senayan.

Setelah itu Yanuar sudah mulai berkeliling memberikan training, training, seminar, seminar motivasi di Indonesia bersama Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM) Cahaya Sekolah Kehidupan yang dibentuknya hingga sekarang.

Tak Selamanya Mulus

Yanuar pernah mencalonkan diri pada tahun 2009 namun gagal. Namun akhirnya ia secara perdana berhasil menduduki Senayan sebagai Anggota DPR RI periode 2014-2019 lalu. Ia mengakui hanya berbekal dukungan finansial yang sangat terbatas, apalagi saat itu ia baru saja berhenti sebagai tenaga ahli Komisi II DPR RI, praktis menjelang pencalonan ia tidak memiliki penghasilan.

“Penghasilan tidak ada, segala macam kondisi drop. Tapi karena saya sudah melakukan reposisi diri, akhirnya saya tidak lagi pakai ilmu konvensional dalam pemenangan Pemilu. saya pakai ini (buku karangannya) akhirnya. Jadi buku ini terbit sebelum saya jadi Anggota DPR.”

Menurutnya, saat itu, orang membutuhkan pembuktian bahwa apa yang ia sampaikan dalam buku yang ia tulis dan dia sampaikan dalam seminar motivasinya itu bisa dibuktikan. Ia mengungkapkan bahwa respon peserta seminar sangat positif. Terlebih, dirinya juga mengaku lelah dengan metode konvensional, sehingga ia memilih cara yang tidak biasa alias unconventional.

“Capek. Apalagi kalau pakai uang. Saya nggak punya uang. Kalau pakai identitas ketokohan, saya bukan tokoh. Apalagi dapil saya enggak punya pendukung PKB. Popularitas saya juga enggak punya. Jaringan apalagi. Itu daerah (dapil) baru sama sekali enggak punya,” katanya. Namun berbekal pengalaman yang ia punya dan pengetahuan yang ia tuangkan dalam buku tersebut membantunya memuncaki kursi legislatif.

Pengambilan keputusan

Sebagai legislator yang menuntut energi besar dan ketepatan dalam memutuskan, sosok akademisi, penulis dan motivator ini menilai dalam setiap pengambilan keputusan ia tidak menyediakan ruang untuk ragu. Hal itu ia dapatkan setelah ditempa oleh pengalamanpengalaman dalam masa hidupnya.

“Saya besar di PMII dan besar pula di NU. Jadi ada dua sumber inspirasi saya. Yakni sumber inspirasi keagamaan yang ada di rumah. Lalu inspirasi pergerakan dari Soekarno dengan beberapa kompetensi komunikasi, organisasi, kemudian menulis dan membaca itu yang pada akhirnya membuat saya mengetahui apa yang harus lakukan.”

Yanuar yang memiliki concern pada pembangunan negara dan juga manusia ini menyampaikan pandangannya, bahwa persoalan manusia tak lepas dari upaya membangun negara yang dihadapkan pada pilihan antara membangun manusia dan atau membangun alat. Menurutnya alat bisa dibangun pada saat manusia terbangun.

Selain itu juga menurutnya, pola pikir yang tertanam pada masyarakat di Indonesia saat ini umumnya cenderung bertumpu pada konsep seperti memberikan bukan pancingan. Itulah sebabnya banyak program yang bertumpu pada bantuan bersifat konsumtif saja, bukannya pembekalan yang melangsungkan produktivitas berkelanjutan. Sehingga Yanuar menilai pekerjaan rumah bangsa ini masih panjang untuk dapat menjadi negara maju.

Oleh karena itu ia berharap ada reformasi kurikulum pendidikan di negara ini dengan mengedepankan inovasi, kreativitas, kerja keras dan berpikir positif. “Karena pada akhirnya keputusan tertinggi ada pada pikiran bawah sadar anda pada suasana kejiwaan kebatinan kita. Dan itu semua ditentukan oleh apa gol target tujuan hidup yang mau anda capai dan identitas apa yang ingin dilekatkan kepada diri kita,” sebut Yanuar. hal,aha/aha

Keadaan nasional mempengaruhi kehidupan kampus. Sempat terjadi kerusuhan di almamater tempat ia mengajar, hal tersebut berdampak dengan berakhirnya karir Yanuar di kampus itu.”

Tim Redaksi

Tambah Komentar

Kunjungi kami

EMedia DPR RI merupakan platform digital dengan beragam informasi yang lugas, akurat, dan terpercaya terkait aktivitas, kegiatan, dan topik pembahasan isu-isu oleh Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia (DPR RI)