Valentina Sastrodihardjo: Tebar Kebaikan Melalui Pendidikan

‘Satu Kebaikan, Melahirkan Seribu Cerita dan Karya yang Melampaui Batas dan Perbedaan’,

Valentina Sastrodihardjo

Berawal dari rasa prihatin melihat banyaknya anak di bawah umur harus bekerja kala melewati jalanan yang dilaluinya setiap hari atau tepatnya di daerah Rawamangun Valentina Sastrodihardjo memutuskan untuk mendirikan Rumah Belajar Pelangi Nusantara pada Mei 2010. Sebuah sarana belajar bagi anak-anak pra sejahtera.

“Anak-anak banyak di jalan, banyak yang ngamen, jualan tissue, berangkat dari situ sih sebenernya. Aku merasa kok banyak banget ya (anak jalanan), ada puluhan orang, puluhan anak. Setelah itu, aku berfikir apa yang bisa ku perbuat untuk mereka,” gumamnya saat itu.

Pada saat itu, kenang Valent, tak kurang 160 anak jalanan belajar bersama di Rumah Belajar Pelangi Nusantara, sebelum kemudian digusur dan menyisakan hanya sekitar 80 anak yang kini didominasi anak-anak dari keluarga pra sejahtera. Usia mereka pun beragam, mulai dari 3 tahun hingga 12 tahun.

Dengan membawa peralatan sederhana seperti terpal, sound system, buku, pensil warna dan alat tulis lainnya, hingga saat ini Valent masih konsisten dan rutin mengajar di sela waktu hari liburnya. Menurut Valent, pendidikan bukan hanya tanggung jawab pemerintah, melainkan tanggung jawab bersama, kita semua.

“Pendidikan bukan tanggung jawab pemerintah sebenarnya, tapi tanggung jawab kita bersama, kalau pemerintah doang tanpa kita, sekolah itukan ada stakeholder-nya, ada kepala sekolah, wali murid, murid, manajemen sekolah, itu kan penting. Kalau salah satunya enggak mendukung, enggak akan bisa jalan. Kalau kita mengharapkan pemerintah aja kita enggak akan pernah jalan,” tutur Valent.

Salah satu role model yang menginspirasi Valent untuk terus mengajar adalah Sang Ibu yang merupakan seorang guru sekolah dasar. Pengalaman masa kecil saat ikut Sang Ibu mengajar membuat Valent menyadari, bahwa mengajar merupakan sebuah kebahagiaan. Dengan mengajar ia merasakan indahnya berbagi, bertemu dan berinteraksi langsung dengan anak-anak.

“Udah biasa dari TK tuh udah ditenteng sama Ibuku. Aku seneng gitu ngeliat Ibu Guru. Cita-citaku emang jadi guru. Jadi kenapa aku ingin jadi guru, karena ngeliat orang tuaku. Oh ternyata jadi guru itu tidak sepenuhnya di kantor, masih bisa bagi waktu dengan keluarga. Aku melihat ibuku awet muda, umur 70 tahun masih kayak umur 50 gitu, karena happy pasti mengajar,” ungkapnya

Di Rumah Belajar Pelangi Nusantara sendiri, Valent lebih menekankan pada pendidikan moral yang merujuk pada kebhinekaan dan keberagaman yang ada di Indonesia. Ia berharap nanti anak-anak didiknya dapat mengerti bagaimana keberagaman dan toleransi yang ada di Indonesia.

“Kalau masalah akademis kan bisa dipelajari, yang penting kan basically itu, jadi aku memang kalau di komunitasku, aku enggak ngajarin mereka yang seperti di sekolah, enggak. Tapi bagaimana aku merujuk kepada kebhinekaan dan keberagaman yang ada di Indonesia ini,” imbuhnya.

Selain pelajaran pada umumnya, Valent juga rutin mengajak anak-anak didiknya untuk bersama melihat secara langsung toleransi di Indonesia, dengan mengunjungi tempat-tempat ibadah dan tempat-tempat edukasi lainnya.

“Aku kalau ada hari Toleransi Internasional tanggal 19 November, aku ajak anak-anak untuk kita wisata edukasi rumah ibadah. Mereka bisa belajar dengan orang yang tepat tentang toleransi beragama. Hal-hal kayak gitu yang aku tanamkan ke anak-anak. Jadi mereka tidak hanya sekedar wacana bahwa harus baik sama orang, tapi kalau mereka merasakan sendiri dengan orang yang beda agama, mereka akan bisa bercerita sendiri,” cerita Valent.

Valent menyadari, konsistensi yang ia jalani selama kurang lebih 12 tahun mendirikan Rumah Belajar Pelangi Nusantara memanglah tidak mudah. “Kadang ada orang yang bilang ‘ah itu mah gampang, cuma begitu aja’. Tapi untuk membangun komunitas, selama 12 tahun, dengan komitmen, dengan kondisi, kemauan, passion, itu susah!” keluhnya. Ia berharap nantinya Rumah Belajar Pelangi Nusantara dapat memiliki tempat yang lebih layak dan terus ada hingga nanti walaupun ia telah meninggalkan dunia. “Aku mau komunitasku ini, ada atau enggak adanya aku, komunitas ini akan tetap ada. Sehingga anak-anak juga tetap berjalan, jadi nggak hilang, tetap ada bekasnya, karena untuk mencapai 12 tahun kan lumayan,” harapnya.

Seperti motto hidupnya, ‘Satu Kebaikan, Melahirkan Seribu Cerita dan Karya yang Melampaui Batas dan Perbedaan’, Valent ingin apa yang telah ia lakukan selama ini dapat menjadi cerita dan karya yang tersebar menjadi virus yang positif kepada siapapun itu. Sehingga tumbuh rasa syukur kepada Tuhan atas segala talenta, rejeki yang selama ini diberikan.

“Kalau kita melakukan satu kebaikan aja tuh bisa ada seribu cerita, cerita sedih, nangis, bahagia, suka cita, kecewa mungkin, tapi juga cinta. Kalau kita menebarkan virus kebaikan apapun itu, pasti berhubungan dengan manusia secara horizontal dan secara vertikal dengan Tuhan. Kita jadi merasa bersyukur, Tuhan kasih kita talenta, kasih kita kesehatan, kasih kita rejeki untuk berbuat baik terhadap sesama, apalagi yang membutuhkan,” tutupnya. •bia/es

Tim Redaksi

Tambah Komentar

Kunjungi kami

EMedia DPR RI merupakan platform digital dengan beragam informasi yang lugas, akurat, dan terpercaya terkait aktivitas, kegiatan, dan topik pembahasan isu-isu oleh Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia (DPR RI)