UMKM di Bali Perlu Diberi Stimulus

UMKM, Museum dan Desa Wisata Tematik menjadi konsen dari kunjungan kerja Komisi X DPR RI. Bangkitnya sektor UMKM yang terdampak pandemi Covid-19 harus segera diwujudkan. Komisi X berpandangan, perlu beberapa stimulus agar UMKM kembali menggeliat.


 
Tim Kunker Komisi X DPR RI foto bersama dengan pegiat budaya Bali. Foto: Ayu/nv

Wakil Ketua Komisi X DPR RI Hetifah Syaifudian mengapresiasi berbagai stimulus yang diberikan Pemerintah Provinsi Bali kepada para pelaku UMKM sebagai bagian dari upaya pemulihan ekonomi di Bali. 

“Kami mengapresiasi langkah Pemprov Bali yang membolehkan para pelaku UMKM untuk menggelar kreasinya di Taman Werdhi Budaya Art Center Denpasar tanpa memungut biaya sedikit pun. Ini merupakan sebuah stimulus yang sangat baik kepada para pelaku UMKM dan pengrajin untuk bangkit dari keterpurukan dari pandemi yang berkepanjangan,” ujar Hetifah kala memimpin Tim Kunjungan Kerja Komisi X DPR RI ke Provinsi Bali. 

Hetifah juga berharap kebijakan khusus berupa stimulus juga diberikan oleh Pemerintah Pusat terhadap Bali. Pasalnya lebih dari 60 persen perekonomian Bali mengandalkan sektor Pariwisata. Dan saat pandemi melanda, ditambah dengan kebijakan PPKM membuat pariwisata Bali bisa dikatakan mati suri. Padahal Bali bisa dikatakan sebagai wajah dari pariwisata Indonesia secara keseluruhan. 

Stimulus tersebut, menurut Politisi dari Fraksi Partai Golkar ini, salah satunya bisa berupa pembebasan atau pemotongan tarif listrik bagi pelaku usaha kreatif. Hal tersebut tentu menjadi wewenang pemerintah pusat. Dengan begitu diharapkan akan menjadi angin segar yang bisa membangkitkan UMKM dan perekonomian setelah dihantam pandemi dua tahun terakhir ini.

JADIKAN MUSEUM SEBAGAI PUSAT KEGIATAN BELAJAR

Sumatera Selatan terkenal dengan kekayaan sejarah, salah satunya adalah Rumah Limas yang berada di Museum Negeri Sumsel. Oleh karena itu, Wakil Ketua Komisi X DPR RI Abdul Fikri Faqih mendorong agar museum bisa dijadikan pusat kegiatan belajarmengajar terutama terkait dengan sejarah. 

“Saya ingin museum dikemas menjadi pusat kegiatan belajar mengajar tentang sejarah, seperti rumah Limas yang ada di Museum Negeri Sumsel,” ucap Fikri saat memimpin Tim Kunker Komisi X DPR RI mengunjungi Museum Negeri Sumatera Selatan, di Palembang, Sumsel.

Fikri juga mengatakan dengan adanya museum ini, masyarakat bisa mengetahui banyak hal termasuk dari segi agama budaya dan etnis yang masuk di Sumatera Selatan. Dimana, terjadi akulturasi kebudayaan dengan masuknya pengaruh kebudayan dari luar seperti Tiongkok, Arab dan India. 

“Keindahan pengaruh-pengaruh budaya ini tidak perlu kemudian dinilai negatif. Ini adalah kekayaan bahkan menjadi khas Sumatera Selatan. Kalau ada pengaruh Tiongkok, India, Asia dan Arab itu wajar karena di sini mereka berkembang. Bahkan Hindu, Buddha dan Arca-nya masih di dipertahankan,” ujar Fikri. 

Politisi Fraksi PKS ini juga menyarankan agar museum sebagai cagar budaya bisa memberikan narasi dan inovasi yang bagus agar pengunjung yang ingin mempelajari sejarah dan budaya. Hal tersebut sesuai dengan semangat UndangUndang Nomor 5 Tahun 2017 tentang Pemajuan Budaya. 

“Ini seharusnya perlu didiskusikan pada instansi terkait, agar masingmasing berusaha untuk berkontribusi dan memfasilitasi supaya budaya kita menjadi lestari kemudian terus berkembang. Jadi esensi dari kebudayaan itu inovasinya dan budayanya, bukan beban. Melainkan adalah investasi bahkan alat untuk kemajuan kita di masa yang akan datang,” pungkasnya. 

TINJAU WISATA PERKAMPUNGAN TEMATIK

Kampung Purun sebagai destinasi wisata perkampungan tematik Kota Banjarbaru banyak menghasilkan kerajinan berbahan dasar tanaman purun (rumput gambut). Mulai dari kipas tangan, tikar, topi, hingga tas dapat ditemukan di area perkampungan yang terletak di Kelurahan Palam, Kecamatan Cempaka, Banjarbaru, Kalimantan Selatan.

“Hasil kerajinan anyaman Purun yang ada di Kampung Purun kini telah diakui kualitasnya, baik di tingkat nasional maupun di dunia internasional. Hal tersebut, lantaran hasil kerajinan purun telah diikutsertakan dalam even nasional hingga pameran di luar negeri,” ungkap Anggota Komisi X DPR RI Djohar Arifin di Banjarbaru, Kalsel. 

Politisi Partai Gerindra ini mengatakan, Kampung Purun pada tahun 2016 lalu, pertama kali dicanangkan oleh Lurah Palam yang berinisiatif untuk memaksimalkan tanaman purun yang berlimpah-ruah di wilayah Kelurahan Palam, tepatnya di daerah rawa dan bekas galian. 

Awalnya, masyarakat Kelurahan Palam hanya mengumpulkan tanaman purun basah dalam bentuk terikat atau tergulung yang kemudian dijual dengan harga yang relatif murah kepada pengumpul untuk dikirim ke luar daerah. Dan untuk memaksimalkan pendapatan dan kesejahteraan masyarakat dengan mendeklarasikan Kampung Purun sebagai Desa Wisata Tematik dan merupakan salah satu landmark Kelurahan Palam. 

“Kami mengapresiasi peran Pemerintah Kota Banjarbaru dan kementerian terkait dalam memfasilitasi dan membantu segala keperluan yang diperlukan masyarakat mewujudkan Kampung Tematik yakni Kampung Purun, seperti mengadakan pelatihan, mengadakan alat penumbuk purun, hingga kegiatan promosi,” ujar Djohar. •afr,oji,ayu/es 

Tim Redaksi

Tambah Komentar

Kunjungi kami

EMedia DPR RI merupakan platform digital dengan beragam informasi yang lugas, akurat, dan terpercaya terkait aktivitas, kegiatan, dan topik pembahasan isu-isu oleh Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia (DPR RI)