Tirto Andayanto : “Hargai Proses Panjang di Balik Karya Indah Fotografi”

Pemahaman ilmu seni fotografi yang dikuasainya, baik secara teori maupun praktek, sangatlah dalam dan mumpuni. Pengalaman panjang bergelut dengan kamera foto juga ikut memperkaya khasanah wawasan pengetahuannya tentang seluk beluk fotografi Indonesia.

Tirto Andayanto Mulyono Rustamadjie. Foto : Devi/nvl

Dia adalah Tirto Andayanto Mulyono Rustamadjie. Salah satu maestro fotografi Indonesia yang telah menghabiskan lebih dari separuh usia hidupnya bersama kotak hitam pelukis cahaya yang dikenal dengan nama kamera.

Pengenalan pertama Tirto kecil dengan kamera foto berawal dari kesenangan sang ayah dalam hal memotret. Keberadaan kamera foto di rumah itulah yang menjadi titik tolak lelaki kelahiran 12 Januari 1961 itu menggemari dunia fotografi.

“Ketika saya dewasa kamera itu tidak ada lagi yang mempergunakan dan akhirnya saya yang pegang. Dan sekarang saya tidak tahu lagi di mana kamera itu. Sudah hilang begitu saja,” ucap Tirto mengenang.

Pada sekitar tahun 80-an, ia diterima bekerja pada bagian dokumentasi foto di kantor Pramuka di kawasan Gambir Jakarta Pusat. Di sana pulalah Tirto mulai mengasah kemampuan fotografi secara lebih dalam. Berbekal kamera ‘Olympus Pen’ hasil pinjaman dari seorang kawan, Tirto menggali potensi dirinya untuk terjun secara total dalam bidang fotografi.

“Bekerja di bagian dokumentasi foto pada kantor Pramuka membuat saya beruntung, karena tidak ada orang lain yang ada pada posisi itu. Sementara alat yang dimiliki cukup lengkap, mulai dari kamera foto kamera, video, kamera film 16 mm, alat cuci cetak hitam-putih, semua ada di sana,” ujarnya.

Tidak ada orang lain yang mengoperasikan alat-alat tersebut, tambahnya. Selama Pramuka ada kegiatan maka otomatis dirinya harus mendokumentasikan dengan memotret sekaligus membuat videonya.

“Kadang saya seperti orang gila, karena saya pergi membawa banyak kamera dalam setiap even. Baik kamera foto, kamera video, dan juga kamera jenis 16 mm. Kamera 16 mm digunakan untuk merekam kegiatan yang hasilnya kemudian dikirimkan ke Stasiun TV Nasional sebagai bahan berita,” tuturnya pria yang masih aktif sebagai dosen pengajar fotografi di Institut Kesenian Jakarta tersebut.

Tirto adalah lulusan Sastra Jepang Universitas Indonesia tahun 1983. Saat itu kampusnya masih berada di Rawamangun. “Ketika waktu istirahat, di Taman Sastra saya ketemunya dengan orang-orang yang senang dengan fotografi. Mereka kagum pada saya karena saya bisa melakukan cuci cetak film hitam-putih. Hingga akhirnya kita membuat ‘Etno Data’ yang gayanya ‘sok’ seperti National Gographic, yakni research dokumentasi budaya,” ungkapnya.

Barulah pada tahun 1985, Tirto mulai masuk commercial photography. Berawal dari hal sepele, yakni kakak dari teman kuliahnya ada yang ingin menikah, kemudian ia diminta untuk memotret acara pernikahannya. “Jaman kuliah dapat upah sebesar Rp 500.000 sudah sangat besar sekali nilainya,” kata Tirto senang.

Ia juga pernah diminta untuk membantu memotret majalah mengenai pembangunan Plaza Indonesia. Seiring waktu berlalu hingga akhirnya Tirto kecemplung di genre industrial fotografi. “Saya lebih banyak motret pabrik sampai dengan saat ini. Pekerjaan saya sekarang, motret untuk stok foto yang akan saya jual dan memotret pabrik,” terangnya.

Tirto kala mempraktekan teknik Fotografi menggunakan smatrphone. Foto : Devi/nvl

Tirto mengaku basic ilmu fotografinya adalah otodidak. Banyak uang yang ia keluarkan untuk membeli buku foto. Meskipun akhirnya ia dapat menyelesaikan pendidikan strata satu fotografi di IKJ. “Try dan error-nya yaitu selama saya bekerja di kantor Pramuka, karena memang alatnya ada,” ucapnya.

Menentukan sebagai fotografer dengan genre industrial fotografi dipilihnya karena dirinya tidak mau berurusan dengan model. “Pernah saya motret model, namun akhirnya saya menilai banyak mudharatnya. Sementara memotret pabrik objeknya adalah mesin,” kilahnya.

Dikatakannya, memotret pabrik juga bukanlah hal yang mudah. Karena di saat membuat industrial fotografi atau company profile suatu perusahaan, ia tetap harus memotret objek manusia. “Ada direktur dan juga karyawan. Ada foto human interest, potrait, landscape, foto produk, interior dan eksterior, semua ada di industrial fotografi.

“Ternyata tidak mudah membuat company profile. Jadi tidak semata-mata memotret mesin tetapi saya juga harus motret jajaran direksi, motret karyawan sedang bekerja dan itu merupakan human interest. Ada foto produk dari hasil pabrik tersebut. Akhirnya semua genre fotografi saya pelajari,” tegasnya.

Selama berprofesi sebagai fotografer, ia juga mengaku tidak pernah merasakan duka. Karena semua dilakukannya berdasarkan hobi yang dijadikan pekerjaan.

Tirto menyampaikan, kehidupan bidang fotografi di masa pandemi memang mengalami berbagai kendala dan kesulitan. Adanya penerapan protokol kesehatan berpengaruh pula pada penurunan order jasa fotografi.

“Banyak klien yang batal. Tetapi kita harus tetap eksis sampai pandemi yang kita tidak tahu kapan waktu ini berakhir. Salah satu cara yang bisa dilakukan adalah dengan ikut aktif berperan di media sosial supaya orang tahu bahwa kita masih eksis,” kata Tirto.

Ia menegaskan, memang secara ekonomi pemasukan fotografer menurun akibat pandemi, tetapi sampai kapanpun dunia fotografi akan tetap ada. “Fotografi tidak akan hilang karena masih tetap dibutuhkan keberadaannya. Yang berkembang agak rumit adalah alat,” tandasnya.

Tirto menyatakan, saat ini orang masih belum menghargai proses dibalik pembuatan  karya fotografi. “Oleh karenanya saya mencoba bagaimana agar orang-orang juga bisa menghargai (proses) itu. Jangan melihat hasil fotonya saja, tapi prosesnya juga harus dihargai. Karena rupiahnya ada di situ bukan hasil akhir,” timpalnya.

Yang tidak disadari oleh para fotografer, sambung Tirto, saat mereka memberi harga kepada klien, mereka tidak melihat bahwa dibalik upaya mendapatkan hasil yang baik ada proses yang dilakukan.  

Pendidikan fotografi yang dimiliki merupakan sebuah investasi. “Investasi pendidikan ini yang kadang-kadang tidak dihargai oleh fotografer sendiri. Sehingga ketika ia membuat harga, hal itu tidak dihitung,” tukas penggagas dan pemberi materi kegiatan workshop Komunitas Galeri Bau Tanah yang berlokasi dibilangan Cikini Jakarta itu. l dep/es

Tim Redaksi

Tambah Komentar

Kunjungi kami

EMedia DPR RI merupakan platform digital dengan beragam informasi yang lugas, akurat, dan terpercaya terkait aktivitas, kegiatan, dan topik pembahasan isu-isu oleh Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia (DPR RI)