Tingkatkan Pemahaman Moderasi Beragama

Dalam kehidupan bermasyarakat yang majemuk, kedamaian, harmonis dan serta kerukunan menjadi suatu hal yang diidam-idamkan. Namun, di samping itu gesekan-gesekan dalam kehidupan keagamaan juga harus diselesaikan.

 
Wakil Ketua Komisi VIII DPR RI Ace Hasan Syadzily. Foto: Tim/nvl

Tak jarang, ada pihak-pihak yang mencoba untuk memaksakan kehendak, membenturkan keyakinan keagamaannya dengan keyakinan ideologi kebangsaan. Ada pihak-pihak yang merasa dirinya paling benar keagamaannya, sehingga rela dan secara tega dia melakukan tindakan yang menyalahi nilai-nilai kemanusiaan.

Salah satu upaya dan sikap yang perlu dimiliki oleh setiap lapisan masyarakat adalah mengubah cara pandang dalam konteks hubungan keagamaan dengan hubungan sosial. Hal tersebut diungkapkan Wakil Ketua Komisi VIII DPR RI Ace Hasan Syadzily ketika diwawancarai oleh salah satu media swasta nasional.

“Aksi terorisme itu telah mencoreng dan menciderai nilai-nilai keagamaan yaitu nilai-nilai yang mengedepankan kedamaian dan toleransi. Terorisme acap kali berbasis pada pemahaman agama yang salah, padahal tidak ada satu agama pun yang membolehkan adanya tindakan kekerasan apalagi sampai menimbulkan korban jiwa,” sebutnya.

Ada satu hal penting yang menurutnya patut dikedepankan dalam kehidupan beragama, yaitu pandangan tentang moderasi beragama. Moderasi sendiri berasal dari kata moderatio yang berarti sedang. Moderasi beragama harus dipahami sebagai sikap beragama yang seimbang antara pengamalan agama sendiri (eksklusif) dan penghormatan kepada praktik beragama orang lain yang berbeda keyakinan.

“Pandangan moderasi beragama kita itu bukan berarti bahwa kita ragu-ragu sebagai orang yang beragama, bukan. Pandangan moderasi beragama itu sejatinya adalah nilai-nilai keislaman itu sendiri. Moderasi beragama atau moderasi dalam beragama Islam merupakan salah satu prinsip dari ajaran agama Islam itu sendiri,” urai Ace.

Ace menjelaskan, secara terminologi, moderasi atau moderat itu adalah sikap pandangan yang tidak ekstrim kiri dan tidak ekstrim kanan. Pandangan yang selalu berada di tengah-tengah. Tidak Eekstrimistis, karena pada prinsipnya memang ajaran agama Islam itu mengajarkan kepada kita untuk selalu berada pada posisi di tengah-tengah.

“Oleh karena itu penting sekali kita memiliki pandangan yang moderat di dalam kehidupan keagamaan kita. Bukan suatu pandangan yang berlebih-lebihan. Kenapa, karena pandangan yang berlebih-lebihan tersebut itu kecenderungannya bisa mengarah kepada ekstrimitas. Sehingga dengan demikian, kita bisa dengan mudah terjerumus ke dalam pandangan yang menghalalkan segala cara tanpa mengindahkan nilai-nilai agama itu sendiri dan nilai-nilai kemanusiaan itu sendiri,” terangnya.

Keseimbangan atau jalan tengah dalam praktik beragama ini diniscayakan oleh Ace akan menghindarkan sikap ekstrem berlebihan, fanatik dan sikap revolusioner dalam beragama. Seperti telah diisyaratkan sebelumnya, moderasi beragama merupakan solusi atas hadirnya dua kutub ekstrem dalam beragama, kutub ultra­konservatif atau ekstrem kanan di satu sisi, dan liberal atau ekstrem kiri di sisi lain. 

Upaya Deradikalisasi

 
Ace Hasan Syadzily. Foto: Tim/nvl
"Penting sekali kita memiliki pandangan yang moderat di dalam kehidupan keagamaan kita. Bukan suatu pandangan yang berlebih-lebihan."

Pandangan moderasi beragama yang dijelaskan Ace sejalan dengan program pemerintah yang sedang mengupayakan deradikalisasi. Dimana, deradikalisasi harus ditindaklanjuti dengan langkah-langkah yang konkrit dan menjangkau semua kalangan. Terutama kalangan yang selama ini rentan sekali untuk terpapar radikalisme atau orang orang yang memiliki pengetahuan keagamaan yang belum sepenuhnya mendalam, lalu mereka terpenetrasi oleh nilai-nilai yang justru bertentangan dengan nilai-nilai agama.

Dalam sebuah wawancara dengan salah satu media nasional, Politisi Fraksi Partai Golkar ini mencontohkan tindakan radikal yang berawal dari pemahaman nilai-nilai agama yang salah.

“Misalnya melakukan tindakan bom bunuh diri sebagai bentuk upaya mencapai tiket ke surga, Saya kira itu pemahaman yang salah. Oleh karena itu, upaya deradikalisasi ini menurut saya tidak boleh dilakukan secara formalitas, hanya sebatas mengadakan pelatihan-pelatihan saja. Tetapi harus bisa menjangkau semua kalangan terutama kalangan yang selama ini mereka sedang mengalami proses masa pertumbuhan psikologis, terutama anak-anak muda,” urai Politisi Fraksi Partai Golkar itu.

Pemerintah juga perlu melibatkan organisasi keagamaan seperti NU, Muhammadiyah, PGI, KWI serta organisasi keagamaan lainnya yang selama sudah menunjukkan suatu sikap yang jelas mengajarkan sikap toleransi beragama yang inklusif, beragama yang moderat.

“Saya kira di organisasi-organisasi itu nampak jelas bahwasanya mereka memang sudah teruji,” tegas Ace yang juga merupakan Dosen UIN Jakarta ini.

Selain pelibatan organisasi keagamaan, yang tak kalah pentingnya menurut Ace adalah melakukan counter terhadap isu-isu radikalisme dengan memanfaatkan media sosial. Karena selama ini, media sosial juga merupakan salah satu instrument yang dipakai  untuk menyebarkan paham radikal.

“Counter terhadap radikalisme atau deradikalisasi itu harus juga menggunakan media sosial yang tepat. Misalnya, kalau selama ini berbagai berita hoaks atau berbagai macam pengetahuan keagamaan yang tidak sesuai dengan nilai-nilai luhur agama itu disebarkan melalui media sosial, maka sebaliknya semangat agama yang toleran, semangat agama yang moderat, itu juga harus dilakukan oleh intrumen-instrumen itu,” tuturnya.

Ace mengimbau, agar masyarakat memanfaatkan media sosial sebagai instrumen untuk menyemai tentang beragama yang moderat atau mengenalkan Islam rahmatan lil ‘alamin. “Nah, cara-cara seperti ini menurut saya belum ditempuh secara masif. Jadi Counter terhadap radikalisme dengan deradikalisasi melalui instrumen media sosial, atau melalui even-even yang disitu diisi oleh anak-anak muda yang bisa berinteraksi satu sama lain belum dilakukan secara maksimal,” pungkasnya. l es

Tim Redaksi

Tambah Komentar

Kunjungi kami

EMedia DPR RI merupakan platform digital dengan beragam informasi yang lugas, akurat, dan terpercaya terkait aktivitas, kegiatan, dan topik pembahasan isu-isu oleh Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia (DPR RI)