Tenggelamnya Tranformasi Pendidikan Indonesia: ANALISIS KRITIS PETA JALAN PENDIDIKAN 2020-2035

Oleh Yuli Rahmawati | Dosen Universitas Negeri Jakarta

Peta jalan pendidikan Indonesia yang diluncurkan Kemendikbud menuai banyak kritik, baik dalam sudut pandang dokumen dengan berbagai landasan, istilah “peta jalan”, serta jangka waktu 2035. Dokumen yang disajikan dalam bentuk PowerPoint tanpa naskah akademik dengan berbagai analisis kondisi, konsep, dan terminologi seperti bagian-bagian terpisah yang belum komprehensif. Beberapa hal yang saya analisis, awalnya terpukau dengan tujuan mulia manusia Pancasila namun tertegun ketika segala sesuatu diarahkan ke pemenuhan kebutuhan pasar dan keselarasan teknologi. 

Judul jika ada

Omniasimus, teniet aperrum reptiis sitio. Itatur audae parciis ut maximin umente et accatisimil inctemped eaquam archictus nonsequasi bearchit voluptatet, sinvenditae plitium in cus et latur apient ra quiscimus quis arume aperchita nem labo. At excerferupta niam, core volum ut illacesequod quatur?

Profil Manusia Indonesia: Identitas Bangsa

Profil manusia Indonesia sebagai identitas bangsa merupakan acuan rancangan grand design pendidikan. Sekalipun peta jalan pendidikan belum menggambarkan grand design ataupun peta jalan dengan tahapan-tahapan target strategi pencapaian. Konsep manusia Indonesia seutuhnya baik dalam tujuan pendidikan nasional ataupun visi Indonesia 2045, serta  framework Ki Hajar Dewantara seringkali diungkapkan sebagai acuan profil manusia Indonesia. 

Hal ini selanjutnya  menjadi visi Pendidikan Indonesia 2035 yang secara substantif adalah identitas bangsa yang terfokus pada akhlak, budaya, Pancasila, sebagai manusia pembelajar yang unggul dengan kompetensi global. Profil ini membutuhkan transformasi pendidikan yang mendasar karena terkait dengan paradigma mendasar pada nilai-nilai yang dimiliki individu. 

Rumusan ini mengharuskan seluruh komponen pendidikan berperan dalam membentuk individu yang memiliki identitas diri melalui pemahaman terhadap diri sendiri; hubungan dengan orang lain, alam dan masyarakat; merancang masa depan dan memiliki daya (empowered) dalam berperan aktif untuk perbaikan di masa depan. Namun, alur peta jalan pendidikan, khususnya analisis sistem Merdeka Belajar dan strategi pencapaian belum mencerminkan alur relevansi pencapaian profil yang diharapkan menjadi grand design pendidikan di Indonesia.

Sistem Pendidikan Holistik dan Integratif

Sistem pendidikan yang holistik dan integratif mencerminkan pengembangan kompetensi dalam berbagai aspek individu, yang dilakukan secara terintegrasi pada seluruh komponen pendidikan. Analisis secara holistik setiap komponen dengan terfokus pada pencapaian profil diharapkan dapat digambarkan dalam peta jalan pendidikan. 

Merdeka belajar yang dicanangkan sebagai sistem pendidikan pendidikan pada kategori ekosistem, guru, pedagogi, guru, dan sistem penilaian tidak mencerminkan framework mendasar untuk melakukan transformasi pendidikan, seperti belajar sepanjang hayat yang dicerminkan dalam APK, namun penjelasan pengembangan aspek kompetensi yang terkesan terpisah pada setiap jenjang pendidikan. 

Konsep pembelajar sepanjang hayat diharapkan mencerminkan fleksibilitas dalam sistem pendidikan yang memberikan peluang dalam berbagai jenis pendidikan, mengakomodasi keragaman individu dan kondisi di Indonesia, seperti pendidikan informal, non-formal, pendidikan khusus dan layanan khusus. Platform pendidikan nasional berbasis teknologi sebagai salah satu strategi dalam sistem pendidikan merdeka belajar pada akhirnya terjebak pada hal-hal teknis dengan berbagai terminologi.

 

Transformasi Pengelolaan dan Kelembagaan Pendidikan

Transformasi pengelolaan dan kelembagaan pendidikan tidak dapat dihindari untuk mengurai benang kusut permasalahan pendidikan. Sinkronisasi pusat-daerah serta swasta-negeri, tata kelola, dan manajemen mutu menjadi beberapa hal yang susbtansi. Pembahasan yang terfokus pada sekolah, khususnya konsep sekolah penggerak yang diharapkan menjadi katalis namun berdampak pada hal teknis dan pelabelan. Pembahasan detail tentang infrastruktur dan teknologi kurang mencerminkan analisis kondisi saat ini serta mengatasi dampak negatif termasuk identitas diri maupun bangsa. 

Selanjutnya pengelolaan dan kelembagaan pendidikan dari jenjang pendidikan anak usia dini hingga pendidikan tinggi belum dikaji sebagai sebuah sistem pendidikan yang terintegrasi. Hal ini sangat terlihat pada pendidikan vokasi dan pendidikan tinggi yang sangat terfokus pada pemenuhan pasar global. 

Peta jalan pendidikan yang kurang mengangkat peran pendidikan tinggi sebagai pondasi pengembangan ilmu pengetahuan yang menghasilkan penelitian-penelitian yang membawa perubahan mendasar bagi bangsa dan dunia global. Pembekalan mahasiswa dalam menghadapi permasalahan di masyarakat yang semakin kompleks serta multikultur, serta sebagai agen perubah menjadi bagian penting dalam proses pendidikan tinggi, yang tidak hanya terfokus pada sistem pemeringkatan global.

 

Transformasi Pengelolaan dan Kelembagaan Pendidikan

Kurikulum yang adaptif dan progresif memberikan peluang pengembangan kompetensi esensial serta kompetensi global. Kurikulum yang adaptif dan progresif tercermin dalam muatan pengetahuan dan keterampilan esensial dan muatan pilihan, sehingga menjadi kurikulum yang fleksibel dengan adaptasi tinggi terhadap perubahan. Selanjutnya kurikulum dipengaruhi berbagai aspek politik, ekonomi, sosial, budaya, hingga agama, yang tidak dapat dihindari mengakomodasi kepentingan tertentu. Globalisasi seringkali menjadi acuan utama, perlu kritisi, khususnya ketika kurikulum hanya untuk kebutuhan lapangan pekerjaan. Kurikulum sebagai kendaraan dalam pencapaian profil pada akhirnya berdampak terhadap sistem penilaian. 

Asesmen Kompetensi Minimum yang dicanangkan terfokus pada literasi, survei karakter dan lingkungan belajar memerlukan relevansi dengan kurikulum dan pedagogi, sehingga diharapkan tidak hanya sebagai survei yang sifatnya dangkal dan tidak menggambarkan pencapaian kompetensi secara menyeluruh. 

Hasil penilaian internasional (PISA, TIMSS, dll) yang seringkali diangkat sebagai gambaran pencapaian kompetensi, seharusnya tidak menjadi target utama dalam transformasi sistem pendidikan. Konsep penilaian yang menstimulasi proses pembelajaran terhadap siswa dan guru, tidak hanya terfokus pada hasil dan pemeringkatan. Sehingga seluruh komponen kurikulum, pedagogi, dan penilaian menjadi satu kesatuan untuk perbaikan proses yang berdampak terdampak pencapaian kompetensi lulusan.

 

Guru dan Pendidikan Guru Transformatif

Guru seringkali dijadikan fokus dalam permasalahan pendidikan memerlukan transformasi mendasar. Perubahan pembelajaran yang fleksibel, tanpa batas telah menggeser peranan guru sebagai satu-satunya sumber belajar. Guru dan pendidikan guru yang transformatif terfokus pada perubahan paradigma yang mendasar dalam pengembangan identitas diri sebagai pendidik yang mengembangkan individu holistik. 

Perubahan paradigma dalam peranan guru sebagai pengontrol (hard control) dan siswa dalam posisi pembelajar pasif (cold reason), menjadi tantangan dalam menstimulasi proses pembelajaran transformatif. Konsep guru penggerak yang dicanangkan yang diharapkan sebagai stimulasi, bukan hanya pembentukan inklusivitas golongan dengan label tertentu. Dua fokus upaya peningkatan kualitas guru yang dicanangkan pada peta jalan yaitu kesejahteraan dan penghargaan, bukanlah solusi permasalahan mendasar kualitas guru. 

Pendidikan guru yang terkait revitalisasi lembaga dan tata kelola, kurikulum, serta sistem penilaian perlu ditransformasi. Sehingga pada akhirnya kompetensi guru transformatif dengan identitas diri sebagai pendidik dan manusia pembelajar berdampak terhadap kompetensi peserta didik yang holistik.

Pada akhirnya perlu dikaji kembali istilah dan konsep peta jalan atau grand design pendidikan. Konsep-konsep dan framework yang disajikan belum terlihat koneksi antar bagian yang dapat diuraikan dalam naskah akademik. Peta jalan diharapkan menjadi pijakan masa depan pendidikan Indonesia yang tidak mudah berubah karena perubahan pemangku kebijakan. Pada akhirnya sangat diharapkan peta jalan pendidikan menjadi segmentasi yang komprehensif dan dapat dijadikan acuan transformasi pendidikan di Indonesia. l

Kurikulum yang adaptif dan progresif tercermin dalam muatan pengetahuan dan keterampilan esensial dan muatan pilihan, sehingga menjadi kurikulum yang fleksibel dengan adaptasi tinggi terhadap perubahan. 

Tim Redaksi

Tambah Komentar

Kunjungi kami

EMedia DPR RI merupakan platform digital dengan beragam informasi yang lugas, akurat, dan terpercaya terkait aktivitas, kegiatan, dan topik pembahasan isu-isu oleh Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia (DPR RI)